Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan dan bersemangat dalam berpuasa pada dua waktu utama: bulan Ramadan (puasa wajib) dan hari 'Asyura' (10 Muharram, puasa sunnah). Ini menegaskan keutamaan besar puasa 'Asyura' di sisi Allah, dan menjadi dorongan bagi kita untuk menghidupkan sunnah mulia ini setiap tahunnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i (No. 2370):
Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dan berharakat. Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Tentang kewajiban puasa Ramadan, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Dalil dari Hadits Lain tentang Puasa 'Asyura':
Dalam riwayat lain yang shahih, Nabi ﷺ bersabda tentang puasa 'Asyura':
"Puasa hari 'Asyura', aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim, dari Abu Qatadah)
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perhatian khusus Nabi ﷺ terhadap puasa 'Asyura' melebihi puasa sunnah lainnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini datang dari sahabat mulia Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang merupakan ahli tafsir Al-Qur'an dan sangat paham tentang sunnah Nabi ﷺ. Beliau ditanya tentang puasa 'Asyura', lalu menjawab dengan pernyataan yang sangat dalam maknanya.
Makna "يَتَحَرَّى" (mencari/meneliti):
Kata ini menunjukkan kesungguhan dan perhatian khusus. Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa beliau tidak mengetahui Nabi ﷺ berpuasa pada suatu hari dengan kesungguhan khusus untuk mencari keutamaannya melebihi hari-hari lainnya, kecuali dua hal:
- Bulan Ramadan - ini puasa wajib yang agung.
- Hari 'Asyura' - ini puasa sunnah yang sangat dianjurkan.
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan puasa 'Asyura' di atas seluruh puasa sunnah lainnya. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa puasa 'Asyura' adalah puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Arafah (bagi yang tidak berhaji).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa perhatian Nabi ﷺ terhadap puasa 'Asyura' memiliki latar belakang sejarah yang agung, yaitu ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut karena Allah menyelamatkan Nabi Musa 'alaihissalam dari kejaran Fir'aun. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian," lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa puasa 'Asyura' termasuk amalan yang agung yang menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih.
Perbedaan Pendapat tentang Hukum Puasa 'Asyura':
Para ulama sepakat bahwa puasa 'Asyura' hukumnya sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan wajib. Ini berdasarkan hadits ketika Nabi ﷺ pada akhir hayatnya berniat untuk berpuasa pada hari 'Asyura' dan juga sehari sebelumnya atau sesudahnya (tanggal 9 dan 10 atau 10 dan 11 Muharram) untuk menyelisihi orang-orang Yahudi. Namun beliau wafat sebelum sempat melakukannya.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah menegaskan bahwa puasa 'Asyura' disunnahkan pada tanggal 10 Muharram, dan lebih utama jika digabung dengan tanggal 9 atau 11 untuk menyelisihi ahli kitab.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura'. Beliau bertanya: "Hari apa ini?" Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir'aun beserta bala tentaranya. Maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur kepada Allah, dan kami pun ikut berpuasa."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian." Lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu 'Abbas)
Hikmah dari kisah ini:
- Puasa 'Asyura' adalah bentuk syukur kepada Allah atas pertolongan-Nya kepada para nabi dan kaum mukminin.
- Islam datang untuk menyempurnakan ajaran para nabi sebelumnya, bukan menghapus kebaikan yang ada.
- Kita diperintahkan untuk berbeda dengan ahli kitab dalam ibadah, sehingga disunnahkan puasa tanggal 9 atau 11 Muharram bersama tanggal 10.
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah berpuasa di bulan Ramadan - ini kewajiban dan tiang agama yang agung.
- Hidupkan sunnah puasa 'Asyura' pada tanggal 10 Muharram setiap tahunnya.
- Sempurnakan dengan puasa tanggal 9 atau 11 Muharram untuk menyelisihi ahli kitab dan meraih keutamaan yang lebih besar.
- Niatkan puasa karena Allah dan mengharap penghapusan dosa setahun yang lalu.
- Jangan tinggalkan puasa sunnah ini karena keutamaannya sangat besar dan mudah untuk diamalkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.