Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ paling banyak berpuasa sunnah pada bulan Sya'ban dibanding bulan-bulan lainnya. Aisyah radhiyallahu 'anha menyebut bahwa beliau berpuasa hampir seluruh bulan Sya'ban atau sebagian besarnya. Ini menjadi dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya'ban sebagai persiapan menyambut Ramadhan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Puasa, no. 2354, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Hadits senada juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah, dengan lafaz yang semakna. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits ini secara panjang lebar.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan berpuasa dan bulan-bulan haram:
QS. At-Taubah [9]: 36
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ
Terjemahan: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya."
Ayat ini menjadi dasar umum keutamaan bulan-bulan tertentu, meskipun Sya'ban tidak termasuk empat bulan haram, namun keutamaannya ditetapkan melalui sunnah Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak berpuasa sunnah di bulan mana pun lebih banyak daripada di bulan Sya'ban. Beliau berpuasa hampir seluruh bulan itu, atau sebagian besar darinya. Ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap puasa di bulan Sya'ban.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan puasa Sya'ban, dan bahwa Nabi ﷺ berpuasa sebagian besar bulan Sya'ban, bukan seluruhnya secara mutlak. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini dipahami sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadhan, karena amal yang dilakukan sebelum Ramadhan akan lebih mudah dilanjutkan.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa hikmah, di antaranya: Sya'ban adalah bulan yang sering dilupakan manusia karena berada di antara Rajab dan Ramadhan, sehingga Nabi ﷺ menghidupkannya dengan puasa. Beliau juga mengutip pendapat bahwa amal-amal diangkat pada bulan Sya'ban, sebagaimana dalam hadits lain, sehingga Nabi ﷺ ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa puasa Sya'ban memiliki keutamaan khusus, dan bahwa Nabi ﷺ menjadikannya sebagai latihan sebelum Ramadhan, sebagaimana shalat sunnah rawatib sebelum shalat wajib.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berbeda pendapat apakah Nabi ﷺ berpuasa seluruh Sya'ban atau sebagian besarnya. Aisyah sendiri dalam riwayat lain menyebut "beliau berpuasa Sya'ban seluruhnya" dan dalam riwayat lain "beliau berpuasa Sya'ban kecuali sedikit". Para ulama seperti An-Nawawi dan Ibnu Hajar mengompromikan bahwa beliau berpuasa sebagian besar Sya'ban, dan riwayat "seluruhnya" dipahami sebagai mubalaghah (penekanan) atau beliau berpuasa seluruhnya di sebagian tahun dan sebagian besar di tahun lain. Pendapat yang paling kuat adalah beliau berpuasa sebagian besar bulan Sya'ban, tidak seluruhnya, karena ada riwayat yang menafikan puasa penuh sebulan selain Ramadhan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang puasa Rasulullah ﷺ di bulan Sya'ban. Beliau menjawab bahwa Nabi ﷺ berpuasa hingga kami mengira beliau tidak akan berbuka, dan berbuka hingga kami mengira beliau tidak akan berpuasa. Aisyah juga menyebut bahwa beliau tidak melihat Nabi ﷺ berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan, dan tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya'ban (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, Ummu Salamah radhiyallahu 'anha juga mengabarkan hal serupa, bahwa Nabi ﷺ berpuasa Sya'ban kecuali beberapa hari saja. Ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap bulan Sya'ban, dan bagaimana para sahabat memperhatikan ibadah beliau dengan detail.
Hikmahnya: seorang muslim hendaknya meneladani Nabi ﷺ dalam memperbanyak amal saleh di bulan Sya'ban, sebagai persiapan menyambut Ramadhan, dan tidak melalaikan bulan yang sering dilupakan orang ini.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban, karena Nabi ﷺ paling banyak berpuasa di bulan ini dibanding bulan-bulan lainnya.
- Jangan berpuasa seluruh Sya'ban secara mutlak jika hal itu memberatkan atau jika seseorang khawatir melemahkan diri sebelum Ramadhan; cukup sebagian besar bulan, sebagaimana pendapat yang paling kuat dari para ulama.
- Jadikan Sya'ban sebagai bulan latihan untuk memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur'an, dan amal saleh lainnya, agar siap menyambut Ramadhan.
- Hindari ghuluw (berlebihan) dalam beribadah, dan ikuti sunnah Nabi ﷺ yang penuh keseimbangan.
- Ingatlah bahwa amal-amal diangkat pada bulan Sya'ban, sebagaimana disebutkan dalam hadits, sehingga hendaknya kita berusaha agar amal kita diangkat dalam keadaan berpuasa dan beramal saleh.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.