Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2254 tentang Keutamaan puasa satu hari di jalan Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi umat Islam. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa siapa saja yang berpuasa satu hari fi sabilillah (di jalan Allah, dengan niat ikhlas karena Allah), maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh perjalanan seratus tahun. Ini menunjukkan keutamaan puasa yang sangat agung, terutama ketika diniatkan untuk ketaatan dan jihad dalam arti yang luas.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dan sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (Kitab Puasa, Bab: Menyebutkan Perbedaan Pendapat tentang Sufyan Ats-Tsauri dalam Hal Ini, no. 2254). Sanadnya: Mahmud bin Khalid, dari Muhammad bin Syu'aib, dari Yahya bin Al-Harits, dari Al-Qasim Abi Abdurrahman, dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1153) dari jalur lain, dengan lafaz yang semakna. Ini menunjukkan bahwa hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh ulama besar.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu mendapatkannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Muzzammil [73]: 20)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap kebaikan, termasuk puasa, akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang terbaik. Ini sejalan dengan janji dalam hadits tentang menjauhkan dari neraka.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan makna "di jalan Allah" (فِي سَبِيلِ اللَّهِ) dalam hadits ini. Ada dua penafsiran utama:

  1. Jihad fi Sabilillah (Perang di Jalan Allah): Ini adalah makna yang paling umum dan sering disebutkan oleh para ulama, terutama dalam konteks hadits ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa "fi sabilillah" secara asal berarti jalan yang mengantarkan kepada keridhaan Allah, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah. Puasa di sini bisa berarti puasa yang dilakukan oleh seorang mujahid ketika berperang, atau puasa yang diniatkan untuk membantu kaum muslimin yang berjihad.
  2. Seluruh Ketaatan: Sebagian ulama, seperti Imam Asy-Syafi'i dan para ulama lainnya, memperluas makna "fi sabilillah" mencakup seluruh jalan kebaikan dan ketaatan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "fi sabilillah" adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah. Maka, puasa sunnah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, baik di hari biasa maupun di hari-hari yang dianjurkan, termasuk dalam keumuman hadits ini.

Makna "Menjauhkan dari Neraka Sejauh Perjalanan Seratus Tahun":

Ini adalah bentuk kabar gembira dari Allah. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan yang sangat besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa ini adalah karunia Allah yang sangat agung. Satu hari puasa yang ikhlas bisa menjadi sebab dijauhkannya seseorang dari neraka dengan jarak yang sangat jauh. Ini menunjukkan betapa besarnya nilai puasa di sisi Allah.

Perbedaan Pendapat tentang Sanad (Sesuai Judul Bab):

Judul bab dalam Sunan An-Nasa'i menyebutkan "Perbedaan Pendapat tentang Sufyan Ats-Tsauri dalam Hal Ini." Ini merujuk pada perbedaan riwayat dari Sufyan Ats-Tsauri tentang sanad hadits ini. Namun, perbedaan ini hanya pada jalur periwayatan, bukan pada matan (isi) hadits. Hadits ini tetap shahih dari berbagai jalur, dan Imam Muslim juga meriwayatkannya. Ini menunjukkan bahwa hadits ini kuat dan tidak tercacat oleh perbedaan tersebut.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang mulia. Beliau ikut serta dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan puasa di jalan Allah. Para sahabat sangat bersemangat mendengarnya. Mereka memahami bahwa amalan yang tampak sederhana seperti puasa, jika diniatkan karena Allah dan dalam rangka ketaatan, bisa menjadi sebab keselamatan yang sangat besar di akhirat. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias mencari amalan-amalan yang bisa mendekatkan mereka kepada Allah dan menjauhkan mereka dari siksa-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan Puasa Karena Allah: Apapun puasa yang kita lakukan, baik wajib maupun sunnah, niatkanlah ikhlas karena Allah Ta'ala.
  2. Perbanyak Puasa Sunnah: Hadits ini memotivasi kita untuk memperbanyak puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), puasa Asyura, dan puasa-puasa sunnah lainnya.
  3. Jadikan Puasa sebagai Bentuk Ketaatan: Makna "di jalan Allah" mencakup seluruh ketaatan. Maka, jadikanlah puasa kita sebagai sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah.
  4. Yakinlah dengan Janji Allah: Hadits ini adalah janji dari Rasulullah ﷺ. Kita harus yakin sepenuhnya bahwa Allah akan menepati janji-Nya bagi hamba-Nya yang berpuasa dengan ikhlas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.