Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar berpuasa satu hari "di jalan Allah", yaitu puasa yang dilakukan ikhlas karena Allah dan dalam rangka taat kepada-Nya. Balasannya, Allah menjauhkan wajah orang itu dari api neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Ini menunjukkan betapa agungnya pahala puasa, meski hanya satu hari, bila dilakukan dengan niat yang benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Puasa, no. 2246, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
Terjemah: "Siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, Allah 'Azza wa Jalla akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun."
Hadits senada juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "di jalan Allah" adalah dalam ketaatan kepada Allah, dan sebagian ulama memaknainya secara khusus sebagai jihad. Namun makna yang lebih luas dan kuat adalah setiap puasa yang dilakukan ikhlas karena Allah.
Penjelasan Rinci
Makna "fii sabiilillah" (di jalan Allah):
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa frasa "di jalan Allah" di sini dipahami oleh para ulama dalam dua makna:
- Makna umum: segala amal yang dilakukan ikhlas untuk mencari ridha Allah, termasuk puasa sunnah.
- Makna khusus: puasa yang dilakukan ketika berjihad atau dalam keadaan berat menegakkan agama Allah.
Pendapat yang lebih kuat — sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi — adalah makna umum, karena puasa itu sendiri adalah amal rahasia antara hamba dan Rabb-nya, dan tidak ada riya di dalamnya bila dikerjakan dengan ikhlas.
Makna "tujuh puluh kharif" (tujuh puluh tahun):
Kata "kharif" (خَرِيف) secara bahasa berarti musim gugur atau satu tahun penuh. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa angka tujuh puluh di sini menunjukkan jarak yang sangat jauh, bukan hitungan matematis semata. Ini adalah gaya bahasa Arab untuk menggambarkan betapa jauhnya seseorang dijauhkan dari neraka. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan bahwa pahala ini menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah kepada orang yang berpuasa, karena satu hari puasa bisa menjauhkan seseorang dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.
Kaitan dengan keikhlasan:
Imam Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak menekankan bahwa amal tidak bernilai di sisi Allah kecuali dengan ikhlas. Puasa yang "di jalan Allah" adalah puasa yang tidak dicampuri riya, tidak untuk pamer, dan tidak untuk tujuan duniawi. Inilah rahasia mengapa pahala puasa begitu besar — karena Allah sendiri yang akan membalasnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi: "Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Perbedaan pendapat tentang Suhail bin Abi Salih:
Dalam bab ini, Imam An-Nasa'i menyebutkan adanya perbedaan riwayat dari Suhail bin Abi Salih. Sebagian meriwayatkan dengan lafaz "sab'ina kharifan" (tujuh puluh tahun), sebagian dengan lafaz lain. Namun Imam An-Nasa'i, Al-Bukhari, dan Muslim tetap menerima riwayat ini sebagai shahih, dan Ibnu Hajar menegaskan bahwa perbedaan ini tidak melemahkan hadits, karena maknanya tetap sama.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — sangat bersemangat menyampaikan hadits-hadits tentang keutamaan amal. Suatu ketika, beliau menyampaikan hadits ini kepada para tabi'in, dan para ulama seperti Sa'id bin al-Musayyib dan Al-Hasan al-Bashri mengambil pelajaran darinya. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin berpuasa sehari karena Allah, lalu Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun. Maka bagaimana dengan orang yang berpuasa sebulan penuh?" Ini menunjukkan bahwa para salaf memahami hadits ini sebagai motivasi untuk memperbanyak puasa sunnah, bukan hanya puasa wajib.
Kesimpulan Praktis
- Berpuasalah dengan ikhlas — niatkan hanya untuk Allah, bukan untuk pujian atau tujuan duniawi.
- Manfaatkan puasa sunnah seperti Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, dan puasa Daud, karena satu hari saja bisa menjauhkan kita dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.
- Jangan remehkan amal kecil — satu hari puasa bisa menjadi penyelamat besar di akhirat.
- Jaga kualitas puasa — bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, mata, dan hati dari dosa.
- Perbanyak doa agar Allah menjauhkan kita dari neraka dan memasukkan kita ke surga-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.