Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2218 tentang Puasa untuk Allah dan pahala khusus

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar ibadah puasa: Allah sendiri yang menyatakan bahwa puasa adalah milik-Nya dan Dia langsung yang akan membalasnya. Ini menunjukkan puasa adalah ibadah yang sangat istimewa karena murni dilakukan untuk Allah tanpa riya', dan bau mulut orang berpuasa pun dianggap mulia di sisi Allah melebihi wangi minyak kasturi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Puasa, no. 2218, dari jalur Sa'id bin al-Musayyib (seorang Tabi'in besar) dari Abu Hurairah رضي الله عنه.

Teks hadits:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخِلْفَةُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Terjemahan: "Allah Yang Maha Kuasa dan Mulia berfirman: 'Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa; itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberikan ganjaran untuknya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau yang keluar dari mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada aroma musk.'"

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dan Imam An-Nawawi menjelaskan maknanya dalam Syarh Shahih Muslim. Ibnu Hajar al-Asqalani juga membahasnya dalam Fathul Bari. Ibnu Rajab al-Hanbali menguraikannya panjang dalam Latha'if al-Ma'arif. Ibnul Qayyim membahas keistimewaan puasa dalam Zadul Ma'ad.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Puasa itu untuk-Ku"

Para ulama dari daftar yang disebutkan berbeda penjelasan dalam memahami kalimat "الصِّيَامُ هُوَ لِي" (puasa itu untuk-Ku):

  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya: puasa adalah ibadah yang paling murni dan paling jauh dari riya', karena puasa adalah amalan batin yang tidak terlihat oleh manusia. Berbeda dengan shalat, sedekah, haji, dan dzikir yang bisa terlihat orang lain. Karena itu Allah mengkhususkan puasa untuk diri-Nya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kekhususan ini karena puasa adalah satu-satunya ibadah yang menahan diri dari syahwat yang halal, dan tidak ada yang mengetahui apakah seseorang benar-benar berpuasa kecuali Allah.
  • Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa puasa adalah ibadah yang tidak ada penggantinya dengan harta, tidak ada wakil, dan tidak bisa dilakukan orang lain atas nama seseorang — berbeda dengan haji, sedekah, atau qurban.

2. Makna "Aku sendiri yang akan membalasnya"

Kalimat "وَأَنَا أَجْزِي بِهِ" menunjukkan bahwa Allah langsung yang menjadi pemberi balasan, tanpa perantara. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa ini adalah bentuk pemuliaan (ikram) terhadap orang yang berpuasa, karena Allah tidak menyerahkan pahala puasa kepada malaikat pencatat amal, melainkan Dia sendiri yang akan membalasnya dengan pahala yang tidak terbatas.

3. Makna "Bau mulut orang berpuasa lebih wangi dari minyak kasturi"

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan (tamtsil) untuk menunjukkan betapa mulianya orang yang berpuasa di sisi Allah. Bau mulut yang secara tabi'at tidak enak bagi manusia, namun di sisi Allah dianggap lebih baik dari minyak kasturi — wangi paling mahal yang dikenal orang Arab. Ini menunjukkan bahwa Allah memandang amal dan keikhlasan hamba, bukan penampilan lahiriahnya.

Ibnu Hajar menambahkan bahwa bau ini muncul di akhirat nanti sebagai tanda kehormatan bagi orang yang berpuasa, atau maknanya adalah pahala yang Allah siapkan melebihi keharuman kasturi.

4. Perbedaan riwayat (sesuai judul bab An-Nasa'i)

Imam An-Nasa'i menyebutkan bab "Perbedaan pada Abu Salih dalam hadits ini" — menunjukkan bahwa beliau meneliti jalur-jalur periwayatan hadits ini, dan ada perbedaan dalam sanad dari Abu Salih. Ini menunjukkan ketelitian Imam An-Nasa'i dalam ilmu hadits, sebagaimana diakui oleh Abu Zur'ah ar-Razi dan Abu Hatim ar-Razi yang memuji keilmuan An-Nasa'i.

Story Telling

Sa'id bin al-Musayyib (wafat 94 H), salah satu Tabi'in terbesar di Madinah, dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau hanya menerima riwayat dari orang yang benar-benar terpercaya. Dalam hadits ini, beliau mendengar langsung dari Abu Hurairah رضي الله عنه, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan dikenal doanya dikabulkan Nabi ﷺ untuk hafalan yang kuat.

Suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang makna hadits ini, dan beliau menegaskan bahwa puasa adalah ibadah rahasia antara hamba dan Rabb-nya, karena itu Allah mengkhususkan balasannya untuk diri-Nya sendiri. Fudail bin 'Iyadh pernah berkata bahwa amal yang paling sulit dijaga keikhlasannya adalah puasa, karena tidak ada yang melihat kecuali Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlaslah dalam berpuasa — karena puasa adalah amal rahasia antara kita dan Allah, jaga niat hanya untuk-Nya.
  2. Jangan rendahkan ibadah puasa — Allah sendiri yang menyatakan puasa adalah milik-Nya dan Dia yang akan membalasnya.
  3. Jangan merasa rendah dengan bau mulut saat puasa — di sisi Allah itu lebih mulia dari minyak kasturi.
  4. Perbanyak puasa sunnah — karena balasannya langsung dari Allah, tidak terbatas.
  5. Pelajari hadits dengan sanad dan pemahaman ulama — sebagaimana Imam An-Nasa'i meneliti perbedaan riwayat, kita pun harus merujuk kepada ulama dalam memahami agama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?