Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2206 tentang Keutamaan shalat malam Ramadan dan Lailatul Qadr

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Beliau menjanjikan ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat (tarawih) dan juga menghidupkan Lailatul Qadar, dengan dua syarat utama: iman (meyakini dengan benar) dan ihtisab (hanya mengharap pahala dari Allah, bukan riya' atau tujuan duniawi). Ini adalah dorongan agar kita bersungguh-sungguh beribadah di bulan yang mulia ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2206) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka, yang menunjukkan keshahihannya yang disepakati.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang keutamaan Lailatul Qadar:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr [97]: 3)

Dalil dari Hadits:

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 37) dan Imam Muslim (no. 759) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "qama Ramadhan" (menghidupkan Ramadhan) adalah shalat tarawih. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa shalat tarawih adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa "iman" dalam hadits ini berarti meyakini kebenaran perintah Allah dan "ihtisab" berarti mengharap pahala hanya dari Allah, tidak mengharap pujian manusia.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

1. Makna "Qama Ramadhan" (قَامَ رَمَضَانَ)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah shalat malam di bulan Ramadhan, yang dikenal dengan shalat tarawih. Ini mencakup shalat yang dilakukan di awal malam maupun di akhir malam, baik berjamaah di masjid maupun sendirian.

2. Makna "Imanan" (إِيمَانًا)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa "iman" di sini berarti orang tersebut meyakini dengan benar bahwa Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan mensyariatkan shalat malam di dalamnya. Ia tidak melakukannya karena sekadar ikut-ikutan, riya', atau karena kebiasaan semata, tetapi karena keyakinan yang benar terhadap janji Allah.

3. Makna "Ihtisaban" (احْتِسَابًا)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa "ihtisab" artinya mengharap pahala dari Allah semata. Orang yang beramal dengan ihtisab tidak mengharapkan pujian manusia, tidak mencari popularitas, dan tidak mengharapkan balasan duniawi. Ia yakin bahwa Allah akan membalas amalnya.

4. Keutamaan Lailatul Qadar

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Beribadah pada malam itu dengan iman dan ihtisab akan menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Ini adalah rahmat besar dari Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

5. Perbedaan Pendapat tentang Ampunan Dosa

Para ulama berbeda pendapat tentang cakupan "dosa-dosa yang telah lalu" dalam hadits ini. Sebagian ulama seperti Imam Al-Bukhari dan kebanyakan ulama hadits berpendapat bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa besar tetap memerlukan taubat yang khusus. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim cenderung berpendapat bahwa ampunan ini mencakup dosa-dosa kecil dan bisa menjadi sebab terangkatnya dosa besar jika disertai taubat. Pendapat yang lebih hati-hati adalah pendapat jumhur ulama bahwa dosa besar memerlukan taubat khusus.

6. Hukum Shalat Tarawih

Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa shalat tarawih berjamaah di masjid adalah sunnah yang sangat dianjurkan, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Adapun Imam Abu Hanifah juga menganjurkan berjamaah. Semua ulama sepakat bahwa shalat tarawih adalah ibadah yang sangat utama.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu adalah orang pertama yang mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat tarawih berjamaah di masjid dengan satu imam, yaitu Ubay bin Ka'ab. Ketika beliau melihat kaum muslimin shalat berjamaah, beliau berkata: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini" — maksudnya bid'ah secara bahasa (perkara baru yang baik), bukan bid'ah dalam agama yang tercela, karena Rasulullah ﷺ sendiri pernah shalat berjamaah di masjid pada beberapa malam Ramadhan, kemudian beliau berhenti karena khawatir shalat itu diwajibkan atas umatnya.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat bersemangat menghidupkan malam-malam Ramadhan. Sebagian mereka mengkhatamkan Al-Qur'an setiap malam, sebagian lainnya shalat dengan bacaan yang panjang hingga hampir subuh. Mereka memahami bahwa bulan Ramadhan adalah kesempatan emas untuk meraih ampunan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat tarawih setiap malam Ramadhan, baik di masjid maupun di rumah, dengan niat karena Allah semata.
  2. Perbaiki niat: pastikan kita shalat karena iman dan ihtisab, bukan karena kebiasaan, ikut-ikutan, atau riya'.
  3. Bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan, karena ia lebih baik dari seribu bulan.
  4. Jauhi dosa-dosa besar, karena ampunan dalam hadits ini dipahami oleh jumhur ulama untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.
  5. Perbanyak doa di malam Lailatul Qadar, terutama doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.