Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2202 tentang Keutamaan puasa Ramadan dan qiyamul lail karena iman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar bagi orang yang berpuasa Ramadan dan menghidupkan malam-malamnya dengan shalat (qiyam/tarawih) disertai dua syarat: iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (mengharap pahala hanya dari Allah). Bila dua syarat itu terpenuhi, dosa-dosa yang telah lalu diampuni. Keutamaan yang sama juga berlaku bagi orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Baqarah [2]: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Terjemahan ringkas: "Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia... Maka siapa di antara kalian yang menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa..."

QS. Al-Qadr [97]: 1–3

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۝ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Terjemahan ringkas: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar. Tahukah engkau apa Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dan dicatat oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Puasa, no. 2202. Hadits semakna juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "imanan wa ihtisaban".
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menguraikan makna dua syarat tersebut.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas keutamaan Ramadan dan qiyam-nya.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan keutamaan Lailatul Qadar.

Penjelasan Rinci

Makna "imanan wa ihtisaban"

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, makna "imanan" adalah membenarkan janji Allah bahwa puasa dan qiyam itu memiliki pahala, sedangkan "ihtisaban" adalah memurnikan niat hanya untuk mencari ridha Allah, bukan karena riya', pamer, atau sekadar kebiasaan.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menambahkan bahwa "ihtisab" mengandung makna mengharap pahala dari Allah semata, disertai kesungguhan dan keridhaan hati terhadap ibadah tersebut.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan di mana pintu-pintu rahmat dibuka, dan qiyam Ramadan (tarawih) adalah sarana utama meraih ampunan. Beliau juga menegaskan bahwa ampunan ini mencakup dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat khusus — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan An-Nawawi berdasarkan kaidah hadits-hadits lain.

Tentang Lailatul Qadar

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang sangat mulia, lebih baik dari seribu bulan, dan siapa yang menghidupkannya dengan shalat karena iman dan ihtisab akan diampuni dosanya. Ibnu Rajab menambahkan bahwa menghidupkan malam Lailatul Qadar tidak harus mengetahui secara pasti kapan malam itu, tetapi cukup dengan menghidupkan seluruh malam-malam sepuluh terakhir Ramadan.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menyatakan bahwa ampunan dalam hadits ini berlaku untuk dosa-dosa kecil (shagha'ir). Adapun Ibnu Rajab menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah, namun tetap tidak mencakup dosa besar tanpa taubat. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Hajar dan An-Nawawi, karena didukung oleh hadits-hadits lain yang membedakan antara dosa kecil dan dosa besar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — sangat bersemangat menghidupkan malam-malam Ramadan. Beliau pernah berkata bahwa Rasulullah ﷺ menganjurkan qiyam Ramadan tanpa memerintahkan secara wajib, agar umat tidak memberatkan diri. Az-Zuhri, salah satu perawi hadits ini, dikenal sebagai ulama Tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits dan menghidupkan sunnah. Hikmahnya: kesungguhan dalam beribadah disertai niat yang murni adalah jalan meraih ampunan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Berpuasalah Ramadan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan karena kebiasaan atau tekanan sosial.
  2. Hidupkan malam Ramadan dengan shalat tarawih, tahajud, dan dzikir, disertai niat mengharap pahala Allah.
  3. Perbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir untuk meraih Lailatul Qadar.
  4. Jauhi riya' dan ujub — dua syarat utama adalah iman dan ihtisab.
  5. Bertaubatlah dari dosa besar secara khusus, karena ampunan dalam hadits ini menurut Ibnu Hajar dan An-Nawawi berlaku untuk dosa-dosa kecil.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?