Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan keutamaan besar bagi orang yang menghidupkan malam-malam Ramadan (dengan shalat malam/tarawih) disertai dua syarat: iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (mengharap pahala Allah, bukan karena riya' atau kebiasaan). Jika kedua syarat itu terpenuhi, Allah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Yang dimaksud "dosa yang lalu" menurut para ulama adalah dosa-dosa kecil, karena dosa besar memerlukan taubat khusus.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan-nya (Kitab Puasa, no. 2200) melalui jalur Imam Malik — dari Ibnu Syihab az-Zuhri — dari Humaid bin Abdurrahman — dari Abu Hurairah رضي الله عنه.
Teks hadits:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Terjemah: "Siapa yang menghidupkan (malam) Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
Ayat yang menjadi landasan makna "iman dan ihtisab" serta ampunan:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ
(QS. Muhammad [47]: 2)
Terjemah ringkas: "Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad — dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka — Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka."
Ayat lain:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
(QS. Hud [11]: 114)
Terjemah ringkas: "Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mengingat."
Penjelasan Rinci
1. Makna "قَامَ رَمَضَانَ" (menghidupkan Ramadan).
Menurut penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, yang dimaksud adalah menghidupkan malam-malamnya dengan shalat, dan yang paling utama adalah shalat Tarawih. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa qiyam Ramadan mencakup shalat malam secara umum, dan yang masyhur adalah Tarawih.
2. Makna "إِيمَانًا" (dengan iman).
Ibnu Hajar menjelaskan: yaitu membenarkan janji Allah bahwa amal itu berpahala, dan meyakini kewajiban serta keutamaannya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan: iman di sini mencakup keyakinan hati terhadap janji pahala, bukan sekadar mengerjakan karena adat.
3. Makna "وَاحْتِسَابًا" (dan mengharap pahala).
Ibnu Hajar berkata: yaitu mencari pahala dari Allah semata, bukan karena riya', pamer, atau sekadar kebiasaan. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa ihtisab adalah memurnikan niat hanya untuk Allah, sehingga amal itu tidak tercampur dengan tujuan duniawi.
4. Makna "غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ" (diampuni dosa yang telah lalu).
Para ulama berbeda pendapat:
- Ibnu Hajar dan an-Nawawi menyatakan yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir), karena dosa besar (kaba'ir) memerlukan taubat khusus — sesuai firman Allah: "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar…" (QS. An-Nisa' [4]: 31).
- Sebagian ulama menyebutkan bahwa ampunan itu bergantung pada sempurnanya iman dan ihtisab; jika kurang, maka ampunan pun sesuai kadar kesempurnaannya.
- Ibnu Rajab menegaskan bahwa keutamaan ini berlaku bagi yang menghidupkan seluruh malam Ramadan, atau mayoritasnya, dengan niat yang benar.
5. Perbedaan pendapat tentang qiyam Ramadan.
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa jumhur ulama memahami qiyam Ramadan sebagai shalat Tarawih berjamaah yang disunnahkan Nabi ﷺ, lalu ditegakkan secara berjamaah oleh Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه. Hadits ini juga menunjukkan bahwa amal tersebut disyariatkan sepanjang Ramadan, bukan hanya sebagian malam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Malik — salah satu perawi hadits ini — ketika bulan Ramadan tiba, beliau menutup majelis ilmu dan fokus pada Al-Qur'an serta qiyamul lail. Ibnu Syihab az-Zuhri (perawi lain dalam sanad ini) dikenal sebagai ulama yang sangat menjaga shalat malam dan menyebut Ramadan sebagai "musim panen bagi ahli ibadah". Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif mengisahkan bahwa para salaf sangat bersemangat menghidupkan malam Ramadan, bahkan sebagian mereka mengkhatamkan Al-Qur'an berkali-kali di dalam shalat malam. Hikmahnya: keutamaan ampunan dalam hadits ini bukan sekadar janji, tetapi telah dibuktikan oleh kesungguhan para ulama dalam mengamalkannya.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan malam Ramadan dengan shalat Tarawih, witir, dan tilawah Al-Qur'an — semampunya, tidak perlu berlebihan.
- Perbaiki niat: kerjakan karena iman kepada janji Allah dan mengharap pahala-Nya, bukan karena ikut-ikutan atau pamer.
- Jauhi dosa besar dan segera bertaubat, karena ampunan dalam hadits ini menurut Ibnu Hajar dan an-Nawawi berlaku untuk dosa kecil.
- Konsisten, bukan hanya di awal Ramadan; keutamaan ini berlaku bagi yang menghidupkan malam-malam Ramadan dengan sungguh-sungguh.
- Perbanyak doa agar Allah menerima amal dan mengampuni dosa, sesuai petunjuk Ibnu Rajab bahwa amal yang diterima adalah amal yang disertai iman dan ihtisab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.