Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2195 tentang Keutamaan shalat malam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar shalat malam di bulan Ramadhan (qiyam Ramadhan/tarawih). Siapa yang mengerjakannya dengan dua syarat — iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (mengharap pahala Allah, bukan karena riya atau kebiasaan) — maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. Nabi ﷺ menganjurkan hal ini dengan lembut, tidak memaksa, dan tidak menjadikannya sebagai kewajiban yang memberatkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Isra' [17]: 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

QS. Az-Zumar [39]: 53 (tentang luasnya ampunan Allah)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Urwah bin Az-Zubair, lalu Az-Zuhri, dan dicatat oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, bab keutamaan qiyam Ramadhan. Hadits senada juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang semakna.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "imanan wa ihtisaban" secara rinci.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas syarat iman dan ihtisab.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menguraikan keutamaan Ramadhan dan qiyam-nya.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat tentang qiyamul lail.

Penjelasan Rinci

1. Makna "imanan wa ihtisaban" (إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا)

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa:

  • Imanan (إِيمَانًا) berarti membenarkan janji Allah bahwa qiyam Ramadhan itu benar-benar memiliki keutamaan dan pahala, serta meyakini kewajiban dan keutamaannya.
  • Ihtisaban (احْتِسَابًا) berarti mengerjakannya semata-mata mengharap wajah Allah, bukan karena riya, pamer, atau sekadar kebiasaan. Kata ihtisab berasal dari al-hisbah, yaitu mengharap pahala dari Allah.

Imam an-Nawawi menambahkan bahwa kedua syarat ini harus berkumpul: seseorang beribadah karena dorongan iman dan hanya mengharap pahala Allah, bukan tujuan duniawi.

2. Ampunan dosa yang dimaksud

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud "dosa yang telah lalu" adalah dosa-dosa kecil (ash-shagha'ir), bukan dosa besar. Karena dosa besar memerlukan taubat khusus. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi, berdasarkan kaidah bahwa amal-amal utama seperti wudhu, shalat lima waktu, dan Ramadhan menghapus dosa kecil dengan syarat dosa besar dijauhi.

Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ dalam Shahih Muslim:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

"Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi."

3. Cara Nabi ﷺ menganjurkan: lembut tanpa memaksa

Hadits ini menyebutkan bahwa Nabi ﷺ "يُرَغِّبُهُمْ" (mendorong/memotivasi) mereka, "مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيمَةِ أَمْرٍ فِيهِ" (tanpa memerintahkan dengan penekanan kewajiban). Ini menunjukkan bahwa qiyam Ramadhan adalah sunnah muakkadah, bukan fardhu.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan hikmahnya: Nabi ﷺ sengaja tidak mewajibkan agar umat tidak terbebani, dan agar mereka tetap semangat mengerjakannya dengan kesadaran sendiri. Beliau juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengerjakan tarawih berjamaah setiap malam karena khawatir dianggap wajib.

4. Perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat dan pelaksanaannya

Dalam bab ini, Imam An-Nasa'i menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang qiyam Ramadhan:

  • Imam Malik dan Imam asy-Syafi'i berpendapat tarawih dikerjakan 20 rakaat plus witir, berdasarkan praktik Umar bin Khattab dan ijma' sahabat.
  • Imam Ahmad bin Hanbal memiliki riwayat yang beragam, namun yang masyhur juga 20 rakaat.
  • Sebagian ulama berpendapat 11 atau 13 rakaat berdasarkan hadits Aisyah tentang shalat malam Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa perbedaan ini adalah perbedaan dalam hal afdhal (yang lebih utama), bukan perbedaan yang saling menyalahkan. Yang penting adalah mengerjakannya dengan iman dan ihtisab.

Story Telling

Urwah bin Az-Zubair — salah satu tabi'in terkemuka, murid Aisyah radhiyallahu 'anha — meriwayatkan hadits ini dari bibinya sendiri, Aisyah. Urwah dikenal sebagai salah satu dari tujuh fuqaha Madinah dan sangat teliti dalam meriwayatkan hadits.

Suatu ketika, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah di masjid dengan satu imam. Beliau keluar pada suatu malam dan melihat masjid penuh dengan jamaah yang shalat. Beliau berkata:

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

"Sebaik-baik bid'ah adalah ini." (HR. Al-Bukhari)

Maksud Umar bukanlah bid'ah dalam agama yang tercela, melainkan sesuatu yang baru dalam praktik berjamaah, karena Nabi ﷺ pernah melakukannya lalu meninggalkannya karena khawatir diwajibkan. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memahami semangat hadits Aisyah ini: mendorong qiyam Ramadhan tanpa memberatkan.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata tentang keutamaan qiyamul lail: "Tidak ada amal yang lebih berat bagi setan selain shalat malam, karena itu kerjakanlah dan teguhkanlah." Beliau juga menyebutkan bahwa ahli qiyamul lail adalah orang-orang yang paling mulia di sisi Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Kerjakan qiyam Ramadhan (tarawih) dengan niat iman dan ihtisab — yakin akan janji Allah dan hanya mengharap pahala-Nya, bukan karena pamer atau kebiasaan.
  2. Jangan berputus asa — hadits ini menjanjikan ampunan dosa yang lalu bagi yang mengerjakannya dengan benar, sebagai bentuk kasih sayang Allah.
  3. Jaga kekhusyukan dan keikhlasan — perbaiki niat sebelum shalat, sadari bahwa kita sedang menghadap Allah.
  4. Jangan memaksa diri atau orang lain secara berlebihan — Nabi ﷺ menganjurkan dengan lembut. Ajak keluarga dan teman dengan hikmah.
  5. Perbanyak doa dan istighfar di bulan Ramadhan, karena ini bulan ampunan.
  6. Ikuti pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dalam hal jumlah rakaat dan tata cara, tanpa saling mencela.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?