Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2184 tentang Puasa sunnah Nabi tidak sebulan penuh kecuali Ramadan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan dua hal penting: pertama, Nabi ﷺ tidak terbiasa mengerjakan shalat Dhuha secara rutin, kecuali jika beliau kembali dari perjalanan. Kedua, Nabi ﷺ tidak pernah berpuasa sunnah satu bulan penuh selain Ramadan, namun beliau rutin berpuasa pada sebagian hari setiap bulannya hingga wafat. Ini mengajarkan kita bahwa ibadah sunnah yang dilakukan Nabi ﷺ adalah yang beliau lakukan secara konsisten, walaupun tidak setiap hari, dan kita dianjurkan untuk meneladani kesinambungan tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2184), dari Abdullah bin Syaqiq, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 717) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan anjuran berpuasa dan shalat sunnah:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

وَمَا تَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا

"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu mendapatkannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya."

QS. Al-Baqarah [2]: 184

فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ

"Maka barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya."

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ dalam ibadah sunnah yang tidak memberatkan, namun tetap istiqamah.

Penjelasan Rinci

1. Tentang Shalat Dhuha

Dalam hadits ini, Aisyah radhiyallahu 'anha menyatakan bahwa Nabi ﷺ tidak biasa mengerjakan shalat Dhuha, kecuali jika beliau kembali dari perjalanan. Namun perlu dipahami bahwa pernyataan ini adalah berdasarkan pengamatan Aisyah terhadap kebiasaan beliau di rumah.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa terdapat beberapa riwayat tentang shalat Dhuha Nabi ﷺ. Ada riwayat yang menyebutkan beliau mengerjakannya, dan ada yang menyebutkan tidak. Para ulama menggabungkan riwayat-riwayat ini dengan penjelasan bahwa Nabi ﷺ kadang mengerjakan shalat Dhuha dan kadang meninggalkannya, agar umatnya tidak menganggapnya wajib. Adapun ketika kembali dari perjalanan, beliau mengerjakannya sebagai bentuk syukur kepada Allah atas keselamatan perjalanan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa shalat Dhuha termasuk sunnah yang dianjurkan, namun Nabi ﷺ tidak selalu mengerjakannya secara rutin di rumah. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dalam ibadah, sebagaimana sabda beliau: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Tentang Puasa Sunnah

Aisyah radhiyallahu 'anha menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah berpuasa satu bulan penuh selain Ramadan. Namun beliau juga tidak pernah berbuka (meninggalkan puasa) selama sebulan penuh, artinya beliau selalu berpuasa di sebagian hari setiap bulannya hingga wafat.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ adalah berpuasa pada hari-hari tertentu setiap bulan, seperti puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), puasa Senin dan Kamis, serta puasa di bulan Sya'ban yang hampir beliau penuhi. Ini menunjukkan bahwa puasa sunnah yang paling utama adalah yang dilakukan secara rutin, bukan yang banyak namun tidak konsisten.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits lain yang menyebutkan Nabi ﷺ berpuasa lebih banyak di bulan Sya'ban, karena yang dimaksud Aisyah adalah beliau tidak pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain Ramadan, namun di bulan Sya'ban beliau berpuasa hampir sebulan penuh.

3. Hikmah dari Hadits Ini

Para ulama mengambil pelajaran bahwa dalam beribadah, yang terpenting adalah:

  • Konsistensi (istiqamah) lebih utama daripada banyak namun terputus-putus
  • Tidak berlebihan dalam ibadah sunnah hingga memberatkan diri
  • Menjaga keseimbangan antara ibadah, keluarga, dan hak-hak lainnya

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten walaupun sedikit." (HR. Bukhari no. 6464)

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Syaqiq, perawi hadits ini, adalah seorang tabi'in yang sangat teliti dalam menanyakan amalan Nabi ﷺ kepada para sahabat. Suatu hari ia mendatangi Aisyah radhiyallahu 'anha untuk menanyakan beberapa amalan Nabi ﷺ, termasuk shalat Dhuha dan puasa sunnah.

Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab dengan jujur dan detail, karena ia adalah istri Nabi ﷺ yang paling mengetahui kehidupan pribadi beliau di rumah. Jawaban Aisyah ini menunjukkan kejujuran dan ketelitian dalam menyampaikan ilmu, tidak menambah atau mengurangi apa yang ia ketahui.

Dari kisah ini kita belajar bahwa para sahabat dan tabi'in sangat bersemangat untuk mengetahui detail ibadah Nabi ﷺ, agar dapat meneladani beliau dengan benar. Mereka tidak malu bertanya dan tidak ragu untuk menyampaikan apa yang mereka ketahui.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Dhuha adalah sunnah yang dianjurkan, namun tidak wajib. Kita boleh mengerjakannya setiap hari atau kadang-kadang, yang penting tidak memberatkan diri.
  2. Puasa sunnah sebaiknya dilakukan secara rutin, seperti puasa Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh, walaupun jumlahnya sedikit namun konsisten.
  3. Hindari berlebihan dalam ibadah sunnah hingga membuat kita malas atau terbebani, karena Nabi ﷺ mengajarkan keseimbangan.
  4. Teladani Nabi ﷺ dalam konsistensi ibadah, karena itu adalah amalan yang paling dicintai Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.