Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2157 tentang Jarak waktu sahur dan shalat Subuh sekitar lima puluh ayat

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang sunnah sahur yang dilakukan Rasulullah ﷺ bersama Zaid bin Tsabit. Jarak antara selesai sahur dan masuk shalat Subuh sangat singkat, yaitu sekitar waktu yang dibutuhkan untuk membaca lima puluh ayat Al-Qur'an. Ini menunjukkan betapa utamanya mengakhirkan sahur dan betapa ringkasnya persiapan menuju shalat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Menyebutkan Perbedaan Hisham dan Said atas Qatadah dalam Hal Ini (no. 2157). Perawi: Anas bin Malik رضي الله عنه.

Hadits ini juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan redaksi serupa, dari Anas bin Malik. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

"Kami sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau berdiri untuk shalat."

Aku (Anas) bertanya: "Berapa lama antara sahur dan shalat?" Zaid menjawab: "Sekitar lima puluh ayat." (HR. Al-Bukhari no. 1921, Muslim no. 1097).

Adapun ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar umum tentang sahur adalah firman Allah:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

"Dan makan dan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam." (QS. Al-Baqarah [2]: 187).

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

1. Anjuran mengakhirkan sahur.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa disunnahkan mengakhirkan sahur hingga mendekati fajar. Ini adalah pendapat yang disepakati oleh Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadits ini, di mana jarak antara sahur dan shalat hanya sekitar lima puluh ayat, menunjukkan bahwa sahur dilakukan di akhir malam.

2. Ukuran waktu lima puluh ayat.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang berapa lama membaca lima puluh ayat. Sebagian mengatakan sekitar lima puluh ayat dari surat pendek, sebagian lagi mengatakan dari surat panjang. Namun intinya, waktunya sangat singkat, tidak lebih dari beberapa menit. Ini menunjukkan bahwa sahur tidak perlu berlama-lama, cukup sekadar menguatkan badan untuk berpuasa.

3. Sahur bukan syarat sah puasa, tetapi sunnah yang sangat dianjurkan.

Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa sahur adalah bagian dari sunnah Nabi ﷺ yang penuh berkah. Beliau menyebutkan bahwa sahur membantu seseorang dalam menjalankan puasa, dan meninggalkannya bukanlah dosa, tetapi menyalahi sunnah yang utama.

4. Perbedaan riwayat tentang perawi.

Judul bab dalam Sunan An-Nasa'i menyebutkan "Perbedaan Hisham dan Said atas Qatadah". Ini adalah metode Imam An-Nasa'i dalam mengkritisi riwayat. Qatadah bin Di'amah as-Sadusi adalah salah satu tabi'in yang meriwayatkan hadits ini dari Anas. Hisham dan Said adalah dua murid Qatadah yang meriwayatkan dengan sedikit perbedaan redaksi. Namun maknanya tetap sama: sahur Nabi ﷺ dan Zaid bin Tsabit, lalu mereka shalat Subuh dengan jarak yang singkat.

5. Zaid bin Tsabit adalah sahabat yang mulia.

Zaid bin Tsabit رضي الله عنه adalah salah satu sahabat yang paling banyak menghafal Al-Qur'an dan menjadi penulis wahyu. Beliau juga yang memimpin pengumpulan mushaf Al-Qur'an pada masa Abu Bakar dan Utsman. Kehadirannya dalam hadits ini menunjukkan bahwa sahur adalah amalan yang dilakukan oleh para sahabat utama.

6. Kaitan dengan puasa.

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat 187 surat Al-Baqarah memberikan batas waktu makan dan minum hingga fajar. Hadits ini mempraktikkan ayat tersebut secara langsung: Nabi ﷺ sahur di akhir malam, lalu berhenti makan dan langsung shalat Subuh.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik رضي الله عنه, seorang pelayan Nabi ﷺ yang setia, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ dan Zaid bin Tsabit sahur bersama. Setelah selesai, mereka tidak berlama-lama, langsung bergegas menuju shalat Subuh. Anas yang melihat kejadian itu kemudian ditanya oleh orang-orang: "Berapa lama jarak antara sahur dan shalat?" Anas menjawab dengan perumpamaan yang mudah dipahami: "Sekitar waktu yang dibutuhkan seseorang untuk membaca lima puluh ayat."

Bayangkanlah, di malam yang masih gelap, Nabi ﷺ dan Zaid bin Tsabit makan sahur dengan tenang, lalu bersiap untuk shalat. Tidak ada waktu untuk berbaring atau mengobrol panjang. Begitu selesai sahur, mereka langsung menghadap Allah dalam shalat Subuh. Ini adalah gambaran kesungguhan dan kedisiplinan dalam beribadah.

Hikmahnya: sahur bukanlah ajang makan sebanyak-banyaknya, tetapi sarana untuk menguatkan tubuh dalam berpuasa dan mendekatkan diri kepada Allah. Setelah sahur, kita dianjurkan untuk langsung bersiap shalat, bukan tidur lagi hingga terlewat waktu shalat.

Kesimpulan Praktis

  1. Akhirkan sahur hingga mendekati fajar, sebagaimana sunnah Nabi ﷺ.
  2. Jangan berlama-lama setelah sahur; bersegeralah untuk shalat Subuh.
  3. Sahur adalah sunnah yang penuh berkah; jangan tinggalkan tanpa alasan syar'i.
  4. Ukuran lima puluh ayat menunjukkan bahwa waktu antara sahur dan shalat sangat singkat, maka manfaatkan waktu itu untuk ibadah, bukan untuk hal yang sia-sia.
  5. Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ dalam makan sahur; tidak berlebihan dan tidak pula meninggalkan sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?