Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2150 tentang Keutamaan dan keberkahan makan sahur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perintah dari Nabi ﷺ untuk melaksanakan sahur sebelum berpuasa. Perintah ini menunjukkan bahwa sahur adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan di dalamnya terdapat keberkahan, baik keberkahan secara agama maupun secara fisik. Keberkahan itu mencakup kekuatan untuk beribadah, mengikuti sunnah, dan membedakan puasa kita dari puasa Ahli Kitab.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang Anda tanyakan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Namun, perlu diketahui bahwa hadits ini memiliki banyak jalur periwayatan yang sangat shahih, bahkan mencapai derajat mutawatir maknawi karena diriwayatkan oleh banyak sahabat. Di antaranya:

  1. Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> "تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً"

> "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan."

> (HR. Al-Bukhari no. 1923, dan Muslim no. 1095)

  1. Hadits dari 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> "فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ"

> "Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur."

> (HR. Muslim no. 1096)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan Ahlul Hadits seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim telah memasukkan hadits-hadits ini dalam kitab shahih mereka. Hadits ini juga menjadi dasar bagi Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan ulama lainnya dalam menyatakan kesunnahan sahur. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa perintah dalam hadits ini menunjukkan sunnah, bukan kewajiban, berdasarkan ijma' (kesepakatan) ulama.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

  1. Hukum Sahur: Mayoritas ulama, termasuk Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad, berpendapat bahwa sahur adalah sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Perintah "تَسَحَّرُوا" (makan sahurlah) dipahami sebagai anjuran, bukan kewajiban. Ini berdasarkan hadits-hadits lain yang menunjukkan bahwa ada sebagian sahabat yang berpuasa tanpa sahur karena uzur atau lupa, dan Nabi ﷺ tidak memerintahkan mereka untuk mengqadha'.
  2. Makna Keberkahan Sahur: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa keberkahan sahur mencakup dua hal: keberkahan syar'iyyah (agama) dan keberkahan hisiyyah (fisik/jasmani).
  • Keberkahan Syar'iyyah: Dengan sahur, seorang muslim berarti telah mengikuti sunnah Nabi ﷺ, membedakan diri dari Ahli Kitab, dan mendapatkan doa dari malaikat. Ini adalah ketaatan yang berpahala.
  • Keberkahan Hisiyyah: Sahur memberikan kekuatan dan energi bagi tubuh untuk menjalankan ibadah puasa sepanjang hari. Dengan tubuh yang kuat, seseorang bisa lebih khusyuk dalam shalat, dzikir, dan aktivitas kebaikan lainnya.
  1. Waktu Sahur: Para ulama sepakat bahwa waktu sahur adalah antara pertengahan malam hingga terbit fajar. Namun, waktu yang paling utama adalah mengakhirkannya, yaitu di akhir-akhir malam sebelum masuk waktu Subuh. Ini berdasarkan praktik Nabi ﷺ dan para sahabat. Sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu bercerita bahwa jarak antara sahur mereka dengan panggilan shalat (adzan) Subuh adalah sekitar membaca 50 ayat Al-Qur'an (HR. Al-Bukhari).
  2. Hukum Makan Sahur Meski Tidak Lapar: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa jika seseorang tidak lapar, tetap dianjurkan untuk makan sahur walaupun hanya seteguk air. Hal ini untuk menghidupkan sunnah dan mendapatkan keberkahannya. Jika tidak mampu sama sekali, maka niat untuk sahur di dalam hati sudah cukup, dan ia tetap mendapatkan keutamaannya.

Story Telling

Dahulu, ada seorang sahabat yang mulia, 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu. Suatu ketika, beliau ditanya tentang perbedaan puasa kita dengan puasa Ahli Kitab. Maka beliau menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ yang menjadi penegas:

> "فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ"

> "Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa syariat ini begitu sempurna. Allah dan Rasul-Nya tidak hanya mengajarkan kita untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengajarkan cara terbaik untuk melakukannya. Sahur adalah identitas yang membedakan ibadah kita, sebuah rahmat yang diberikan Allah agar ibadah kita terasa ringan dan penuh berkah. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

Kesimpulan Praktis

Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan:

  1. Niatkan untuk Sahur: Mulailah dengan niat untuk menghidupkan sunnah Nabi ﷺ dan mencari berkah, bukan sekadar mengisi perut.
  2. Akhirkan Waktu Sahur: Usahakan untuk makan sahur di akhir-akhir malam, mendekati waktu Subuh, sebagaimana contoh Nabi ﷺ.
  3. Cukup dengan Seteguk Air: Jika tidak mampu makan, minumlah seteguk air. Jika tidak mampu sama sekali, niatkan dalam hati untuk sahur.
  4. Jadikan Sahur sebagai Ibadah: Jangan lupa berdoa dan berdzikir saat sahur, karena waktu sahur adalah waktu yang mustajab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?