Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2107 tentang Keutamaan bulan Ramadan dan dibukanya pintu surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar bulan Ramadan: pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dan setiap malam ada penyeru yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kejahatan. Ini semua adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya agar mereka mudah beribadah dan bertaubat. Imam An-Nasa'i meriwayatkan hadits ini dalam Sunan-nya, dan beliau sendiri memberi catatan bahwa penyebutan "setiap malam" pada riwayat ini dianggap keliru (خطأ).

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Terjemahan: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Puasa, dari sahabat 'Utbah bin Farqad رضي الله عنه. Imam An-Nasa'i (wafat 303 H) adalah salah satu ulama besar ahli hadits yang termasuk dalam daftar rujukan.

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan At-Tirmidzi dengan lafaz yang sedikit berbeda, dan sebagian ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari serta Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas makna hadits-hadits tentang bulan Ramadan ini.

Penjelasan Rinci

1. Makna "pintu-pintu surga dibuka" dan "pintu-pintu neraka ditutup"

Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah isyarat betapa luasnya rahmat Allah di bulan Ramadan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa maknanya bisa berarti:

  • Pintu-pintu surga benar-benar dibuka sebagai bentuk penyambutan dan dorongan untuk beramal,
  • Atau maknanya kiasan: banyaknya amal saleh yang di bulan ini menjadi sebab masuknya seseorang ke surga, dan sedikitnya kemaksiatan yang menjadi sebab masuknya ke neraka.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa pembukaan pintu surga dan penutupan pintu neraka adalah bentuk dorongan (targhib) agar manusia memperbanyak amal saleh dan meninggalkan kemungkaran.

2. Makna "setan-setan dibelenggu"

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setan-setan dibelenggu di bulan Ramadan sehingga pengaruh mereka melemah terhadap orang-orang yang berpuasa dengan benar. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa ini bukan berarti setan tidak ada sama sekali, tetapi kekuatan waswasnya dilemahkan, sehingga orang yang masih berbuat maksiat di bulan Ramadan berarti hawa nafsunya sendiri yang mendorong, bukan semata-mata bisikan setan.

3. Makna "penyeru memanggil setiap malam"

Penyeru ini menurut Ibn Rajab al-Hanbali adalah malaikat yang menyerukan agar orang yang menginginkan kebaikan segera maju, dan orang yang menginginkan kejahatan segera berhenti. Ini adalah bentuk seruan ilahi agar manusia memanfaatkan waktu Ramadan dengan sebaik-baiknya.

4. Catatan Imam An-Nasa'i tentang "setiap malam"

Imam An-Nasa'i sendiri setelah meriwayatkan hadits ini berkata: "هَذَا خَطَأٌ" (ini keliru). Menurut para ulama hadits seperti Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi, yang dimaksud adalah bahwa penyebutan "setiap malam" (كُلَّ لَيْلَةٍ) pada riwayat ini dianggap tidak tepat, karena riwayat yang lebih kuat menyebutkan seruan itu terjadi pada malam pertama Ramadan atau secara umum di bulan Ramadan. Ini menunjukkan kehati-hatian Imam An-Nasa'i dalam menilai riwayat, dan beliau tetap menyebutkannya sebagai bentuk amanah ilmiah.

5. Perbedaan pendapat di antara ulama

Sebagian ulama seperti Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban memasukkan hadits ini dalam kitab shahih mereka, menunjukkan bahwa secara umum maknanya dapat diterima. Sedangkan Imam An-Nasa'i memberi catatan khusus pada lafaz "setiap malam". Namun inti makna hadits — tentang keutamaan Ramadan — tetap shahih dan didukung oleh banyak riwayat lain, sebagaimana disebutkan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi.

Story Telling

Dikisahkan bahwa 'Utbah bin Farqad رضي الله عنه, seorang sahabat yang pernah menjabat sebagai panglima di wilayah Persia, ketika sakit beliau dikunjungi oleh para sahabat lain. Di tengah kunjungan itu, mereka berbincang tentang bulan Ramadan. 'Utbah lalu menyampaikan apa yang beliau dengar langsung dari Rasulullah ﷺ tentang keutamaan bulan yang mulia ini. Ini menunjukkan adab salaf: ketika berkumpul, mereka mengingatkan satu sama lain tentang kebaikan dan menyampaikan ilmu yang mereka dengar dari Nabi ﷺ. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa majelis yang di dalamnya tidak ada dzikir dan ilmu adalah majelis yang merugi. Kisah ini mengajarkan kita untuk menjadikan setiap pertemuan sebagai sarana saling mengingatkan dalam kebaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Manfaatkan Ramadan dengan memperbanyak amal saleh, karena pintu-pintu kebaikan terbuka lebar.
  2. Jauhi maksiat, karena neraka ditutup dan setan dibelenggu — jika kita masih berbuat dosa, itu dari hawa nafsu kita sendiri.
  3. Sambut seruan kebaikan setiap malam Ramadan dengan shalat, tilawah, doa, dan sedekah.
  4. Bertaubatlah dengan sungguh-sungguh, karena ini waktu terbaik untuk kembali kepada Allah.
  5. Teladani kehati-hatian ulama seperti Imam An-Nasa'i dalam menilai riwayat, namun tetap amalkan inti hadits yang shahih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?