Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2101 tentang Keutamaan Ramadan: pintu surga dibuka, neraka ditutup, setan dibelenggu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ tentang keutamaan bulan Ramadan. Maknanya: ketika Ramadan tiba, Allah membuka pintu-pintu surga (jalan kebaikan dan rahmat), menutup pintu-pintu neraka (menjauhkan dari keburukan), dan membelenggu setan-setan sehingga mereka tidak leluasa menggoda manusia. Ini adalah motivasi bagi kita untuk bersemangat beribadah di bulan yang mulia ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2101), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan riwayat An-Nasa'i. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalam riwayat lain yang disepakati (Al-Bukhari dan Muslim), lafaznya:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

"Apabila Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu." (HR. Al-Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)

Kaitan dengan ulama dalam daftar:

Hadits ini diriwayatkan dari Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) yang merupakan salah satu ulama tabi'in yang sangat dihormati ilmunya. Imam An-Nasa'i dalam bab ini sengaja menyebutkan perbedaan riwayat dari Az-Zuhri untuk menunjukkan ketelitian dalam periwayatan hadits.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan beberapa pemahaman penting:

1. Makna "dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka"

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah kinayah (ungkapan kiasan) tentang besarnya pahala amal di bulan Ramadan dan besarnya ganjaran bagi yang berbuat maksiat. Artinya, Allah memberi taufik kepada hamba-Nya untuk banyak berbuat ketaatan, dan menjauhkan mereka dari perbuatan maksiat. Ini adalah karunia Allah yang khusus di bulan Ramadan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa pembukaan pintu surga ini adalah hakiki, artinya benar-benar dibuka sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan bulan Ramadan. Demikian pula pintu neraka benar-benar ditutup. Namun yang lebih penting adalah dampak nyatanya: kita melihat orang-orang yang tadinya malas beribadah menjadi rajin, yang tadinya jauh dari masjid menjadi dekat.

2. Makna "setan-setan dibelenggu"

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil penjelasan ulama bahwa yang dibelenggu adalah para pemimpin setan (maradah) yang paling jahat, bukan semua setan. Karena kita masih melihat ada orang yang berbuat maksiat di bulan Ramadan. Ini menunjukkan bahwa setan-setan kecil masih bisa menggoda, atau orang tersebut telah terbiasa dengan maksiat sehingga tidak butuh godaan setan lagi.

Syaikh al-Utsaimin juga menjelaskan: pembelengguan ini adalah hakiki, namun dampaknya kita rasakan dengan berkurangnya kejahatan dan maksiat di bulan Ramadan. Ini adalah rahmat Allah bagi hamba-Nya.

3. Hikmah dari hadits ini

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan bulan Ramadan yang sangat besar. Karena itu, seorang mukmin hendaknya menyambut bulan ini dengan:

  • Kegembiraan dan syukur
  • Semangat beribadah
  • Menjauhi maksiat
  • Memperbanyak amal kebaikan

Story Telling

Dahulu, para salaf sangat bergembira menyambut bulan Ramadan. Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Sirin (ulama tabi'in yang sangat terkenal) apabila masuk bulan Ramadan, beliau berkata: "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih bersemangat dalam beribadah daripada orang-orang yang menyambut Ramadan." Beliau dan para ulama salaf lainnya mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum Ramadan tiba.

Ada juga kisah bahwa Az-Zuhri (perawi hadits ini) apabila masuk bulan Ramadan, beliau berkata: "Ramadan hanyalah tilawah Al-Qur'an dan memberi makan." Maksudnya, beliau mencontohkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur'an dan bulan berbagi kepada sesama.

Hikmah dari kisah ini: para ulama salaf tidak hanya bergembira dengan lisan, tetapi mereka membuktikan kegembiraan itu dengan amal nyata. Mereka mengisi Ramadan dengan tilawah, sedekah, dan ibadah lainnya.

Kesimpulan Praktis

Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Bergembira menyambut Ramadan — karena ini bulan dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka.
  2. Bersemangat beribadah — karena setan-setan dibelenggu, maka hambatan untuk berbuat baik semakin sedikit.
  3. Menjauhi maksiat — jangan sampai kita termasuk orang yang tetap bermaksiat padahal setan sudah dibelenggu.
  4. Memperbanyak amal kebaikan — seperti shalat, puasa, tilawah Al-Qur'an, sedekah, dan dzikir.
  5. Tidak berputus asa dari rahmat Allah — karena Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?