Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2092 tentang Kewajiban puasa Ramadan dan rukun Islam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu tentang seorang Badui bernama Dhimam bin Tsa'labah yang datang menemui Nabi ﷺ di masjid dan bertanya dengan sumpah tentang pokok-pokok agama: keimanan kepada kerasulan, shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan zakat. Setelah Nabi ﷺ menjawab "ya" untuk semuanya, ia langsung menyatakan keimanan dan berjanji menyampaikan kepada kaumnya. Hadits ini menunjukkan bahwa rukun-rukun Islam yang wajib adalah: syahadat, shalat, puasa, dan zakat — dan bahwa seorang Muslim cukup mengikuti petunjuk Nabi ﷺ tanpa menambah atau mengurangi.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa..."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Kewajiban Puasa (no. 2092). Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih Muslim dari jalur Ibnu Abbas dan Anas bin Malik dengan lafaz yang lebih panjang, dikenal sebagai "Hadits Dhimam bin Tsa'labah".

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas tentang kewajiban shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan zakat sebagai bagian dari rukun Islam yang tidak boleh ditinggalkan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa cara bertanya Dhimam dengan sumpah menunjukkan adab bertanya yang tegas namun tetap sopan, dan Nabi ﷺ menjawab dengan lembut tanpa marah.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menempatkan hadits ini sebagai salah satu hadits pokok yang menjelaskan rukun-rukun Islam secara ringkas.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

1. Pokok-pokok agama yang ditanyakan Dhimam

Dhimam bin Tsa'labah bertanya tentang empat hal pokok:

  • Kerasulan Nabi ﷺ kepada seluruh manusia — ini adalah inti syahadat.
  • Shalat lima waktu sehari semalam.
  • Puasa Ramadhan setiap tahun.
  • Zakat yang diambil dari orang kaya dan diberikan kepada orang miskin.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini sengaja dipilih karena merupakan rukun Islam yang paling pokok setelah syahadat. Nabi ﷺ membenarkan semuanya dengan sumpah "اللَّهُمَّ نَعَمْ" (Ya Allah, benar).

2. Adab bertanya dan menjawab

Dhimam berkata: "Aku akan keras dalam bertanya, janganlah engkau merasa tersinggung." Nabi ﷺ menjawab: "Silakan bertanya apa yang engkau inginkan."

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang agung — beliau tidak marah kepada orang yang bertanya dengan tegas, bahkan mempersilakannya. Ini juga menjadi pelajaran bagi para penuntut ilmu agar berani bertanya dengan jelas, namun tetap dengan adab.

3. Cara Dhimam menyatakan keimanan

Setelah mendengar jawaban Nabi ﷺ, Dhimam langsung berkata: "Aku beriman kepada apa yang engkau bawa, dan aku adalah utusan dari kaumku yang akan datang setelahku."

Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa ini menunjukkan keimanan yang kokoh dan langsung diamalkan — Dhimam tidak menunda, tidak ragu, dan langsung siap menyampaikan kepada kaumnya. Ini adalah sifat seorang Muslim sejati: menerima kebenaran dan menyebarkannya.

4. Perbedaan riwayat

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang sedikit berbeda. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa perbedaan ini adalah ikhtilaf dalam riwayat yang tidak mengurangi keabsahan hadits, dan justru menunjukkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari satu sahabat.

5. Kedudukan hadits dalam fiqih

Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan zakat adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Imam Abu Hanifah juga menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan zakat hanya diambil dari orang kaya dan dibagikan kepada orang miskin — bukan sebaliknya.

Story Telling

Kisah Dhimam bin Tsa'labah

Dhimam bin Tsa'labah adalah seorang Badui dari Bani Sa'd bin Bakr. Ia adalah saudara dari Tsumamah bin Tsa'labah — seorang pemimpin yang pernah ditawan oleh kaum Muslimin lalu masuk Islam.

Suatu hari, Dhimam datang ke Madinah dengan menunggang unta. Ia langsung menuju masjid, mengikat untanya, lalu masuk dan bertanya: "Siapa di antara kalian yang Muhammad?"

Para sahabat yang sedang duduk bersama Nabi ﷺ menunjuk kepada beliau yang sedang bersandar. Dhimam kemudian bertanya dengan sumpah demi Allah tentang pokok-pokok agama. Setelah Nabi ﷺ menjawab "ya" untuk semuanya, Dhimam berkata:

"Aku beriman kepada apa yang engkau bawa, dan aku adalah utusan dari kaumku yang akan datang setelahku. Aku adalah Dhimam bin Tsa'labah, saudara Bani Sa'd bin Bakr."

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa setelah itu, Dhimam kembali ke kaumnya dan menyampaikan apa yang ia dengar dari Nabi ﷺ. Kaumnya pun masuk Islam seluruhnya. Ini menunjukkan keberkahan seorang yang menyampaikan kebenaran dengan jujur dan tegas.

Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa cepatnya Islam tersebar ketika disampaikan oleh orang yang benar-benar memahami dan mengamalkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Rukun Islam yang wajib adalah syahadat, shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan zakat — tidak boleh ditinggalkan atau dikurangi.
  2. Bertanyalah dengan jelas dan tegas dalam urusan agama, namun tetap dengan adab dan tanpa niat buruk.
  3. Jawablah pertanyaan dengan lembut dan jangan marah — sebagaimana Nabi ﷺ menjawab Dhimam dengan tenang.
  4. Terimalah kebenaran dengan segera dan amalkan — sebagaimana Dhimam langsung beriman tanpa ragu.
  5. Sampaikanlah kebenaran kepada keluarga dan kaummu — sebagaimana Dhimam menjadi utusan bagi kaumnya.
  6. Jangan menambah atau mengurangi dalam urusan ibadah — cukup ikuti petunjuk Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?