Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa manusia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki, dan belum disunat, lalu yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim عليه السلام. Nabi ﷺ juga diberitahu bahwa sebagian umatnya akan digiring ke arah kiri (neraka) karena mereka berbuat bid'ah dan murtad setelah beliau wafat. Hadits ini mengajarkan tentang dahsyatnya Hari Kiamat, keutamaan Nabi Ibrahim, dan bahaya berbuat bid'ah serta meninggalkan sunnah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
Allah ﷻ berfirman:
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
"Sebagaimana Kami memulai penciptaan yang pertama, Kami akan mengulanginya. Itu adalah janji yang pasti atas Kami. Sungguh, Kami pasti melakukannya." (QS. Al-Anbiya' [21]: 104)
Dan firman Allah tentang perkataan Nabi Isa عليه السلام:
وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
"Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi pengawas atas mereka, dan Engkau adalah saksi atas segala sesuatu." (QS. Al-Ma'idah [5]: 117)
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Ma'idah [5]: 118)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, dari jalur Ibnu Abbas رضي الله عنهما, melalui Sa'id bin Jubair (seorang tabi'in murid Ibnu Abbas). Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang berdekatan, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan manusia dibangkitkan tanpa pakaian sebagai bentuk kerendahan di hadapan Allah, lalu diberi pakaian sesuai amal.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hikmah dibangkitkan telanjang adalah agar tidak ada yang menyombongkan pakaian duniawinya, dan semua sama di hadapan Allah.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif mengingatkan bahwa keadaan telanjang di akhirat adalah peringatan agar manusia menutup auratnya di dunia dengan ketakwaan.
Penjelasan Rinci
1. Manusia dibangkitkan dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki, dan belum disunat
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa seluruh manusia akan dihadapkan kepada Allah dalam keadaan asli penciptaan: telanjang, tanpa alas kaki (حُفَاةً), dan belum disunat (غُرْلاً). Ini dikuatkan oleh ayat QS. Al-Anbiya' [21]: 104 yang menegaskan bahwa Allah akan mengulangi penciptaan sebagaimana awalnya.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil kebangkitan jasad, karena Allah mengembalikan manusia seperti saat pertama diciptakan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menyebutkan bahwa keadaan ini menunjukkan kehinaan manusia di hadapan Allah, sehingga tidak ada yang bisa menyombongkan diri.
2. Yang pertama diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim عليه السلام
Nabi ﷺ menyebutkan bahwa orang pertama yang diberi pakaian pada Hari Kiamat adalah Nabi Ibrahim عليه السلام. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan khusus bagi Ibrahim karena beliau adalah bapak para nabi (أبو الأنبياء) dan telah diuji dengan berbagai ujian berat, termasuk dilempar ke api. Ibn Rajab menambahkan bahwa ini juga bentuk penghormatan Allah kepada kekasih-Nya (خليل الله).
3. Sebagian umat Nabi ﷺ digiring ke arah kiri
Nabi ﷺ diberitahu bahwa sebagian umatnya akan dibawa ke arah kiri (yakni ke neraka) karena mereka murtad dan berbuat bid'ah setelah beliau wafat. Dalam riwayat ini, Nabi ﷺ berkata: "Ya Tuhanku, sahabat-sahabatku," lalu dikatakan: "Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan setelahmu."
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan para sahabat utama, melainkan orang-orang yang murtad dan berbuat bid'ah sepeninggal beliau. Imam An-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil agung tentang bahaya bid'ah dan murtad, serta bahwa amal seseorang bisa rusak setelah ia mati jika orang-orang setelahnya menyimpang.
4. Nabi ﷺ mengucapkan perkataan Nabi Isa عليه السلام
Nabi ﷺ mengucapkan firman Allah yang merupakan perkataan Nabi Isa عليه السلام dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 117-118. Ini menunjukkan adab Nabi ﷺ yang menyerahkan urusan kepada Allah, tidak marah, dan tidak memohon dengan cara yang melampaui batas. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Isa عليه السلام dalam ayat ini menyerahkan keputusan kepada Allah, dan Nabi ﷺ mengikuti adab tersebut.
5. Perbedaan pendapat ulama tentang siapa yang dimaksud "umatku"
- Ibnu Hajar dan An-Nawawi berpendapat bahwa yang dimaksud adalah orang-orang murtad dan ahli bid'ah, bukan para sahabat utama.
- Ibn Rajab menambahkan bahwa ini adalah peringatan bagi umat Islam agar berpegang teguh pada sunnah dan menjauhi bid'ah.
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Hajar dan An-Nawawi, karena didukung oleh konteks hadits yang menyebut "mereka terus berpaling sejak engkau meninggalkan mereka" (yakni murtad).
Story Telling
Ibnu Abbas رضي الله عنهما, seorang sahabat yang dikenal sebagai Turjumanul Qur'an (juru bicara Al-Qur'an), meriwayatkan hadits ini. Beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ ketika Nabi berdiri memberikan nasihat kepada manusia.
Sa'id bin Jubair, seorang tabi'in murid Ibnu Abbas, meriwayatkan hadits ini dari gurunya. Sa'id bin Jubair dikenal sebagai ahli tafsir dan ahli ibadah. Beliau wafat sebagai syahid di tangan Hajjaj bin Yusuf karena keberaniannya menyampaikan kebenaran.
Imam An-Nasa'i, perawi hadits ini, dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits, terutama dalam kitab Sunan-nya yang fokus pada hadits-hadits hukum. Beliau wafat di Makkah setelah diuji dengan berbagai cobaan karena membela sunnah.
Hikmah: Hadits ini mengajarkan bahwa kebenaran harus disampaikan meskipun berat, dan bahwa berpegang pada sunnah adalah jalan keselamatan.
Kesimpulan Praktis
- Ingatlah Hari Kiamat — kita akan dibangkitkan telanjang dan tanpa bekal kecuali amal saleh.
- Teladani Nabi Ibrahim عليه السلام — beliau adalah kekasih Allah yang pertama diberi pakaian di akhirat karena keimanan dan ketawakalannya.
- Jauhi bid'ah dan murtad — karena keduanya menyebabkan seseorang digiring ke arah kiri (neraka).
- Berpegang pada sunnah Nabi ﷺ — sebagaimana pesan Ibn Rajab dan An-Nawawi, sunnah adalah jalan keselamatan.
- Perbanyak istighfar dan taubat — karena kita tidak tahu apakah amal kita diterima atau tidak.
- Tutup aurat dengan ketakwaan — sebagaimana pesan Ibn Rajab, telanjang di akhirat adalah peringatan agar menutup aurat dengan iman dan amal saleh.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.