Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa azab kubur itu nyata dan benar adanya. Nabi ﷺ mendengar suara azab dari dalam kubur, lalu beliau bersabda bahwa seandainya manusia tidak akan saling menguburkan mayat karena takut mendengar azab tersebut, beliau akan berdoa kepada Allah agar umatnya bisa mendengarnya. Hadits ini juga menegaskan bahwa azab kubur berlaku bagi orang-orang yang berhak menerimanya, termasuk orang-orang jahiliyah yang mati di atas kesyirikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan penetapan azab kubur.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ
"Dan di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar." (QS. At-Taubah [9]: 101)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa "disiksa dua kali" di antaranya adalah azab kubur dan azab di dunia, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar yaitu azab akhirat.
Dalil dari Hadits Lain:
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
"Sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka setelahnya lebih mudah darinya. Dan jika tidak selamat darinya, maka setelahnya lebih berat darinya." (HR. At-Tirmidzi no. 2308, dari Utsman bin Affan; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa azab kubur adalah perkara yang benar dan wajib diimani. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Azab kubur itu haq (benar), tidak diragukan lagi. Kubur akan mempersempit penghuninya, dan Allah akan mengembalikan ruh kepadanya bagi yang berhak mendapatkan azab atau kenikmatan."
Pertama: Makna Hadits
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mendengar suara dari dalam kubur. Para sahabat bertanya tentang orang yang dikubur tersebut, dan mereka menjawab bahwa orang itu mati di masa jahiliyah, yaitu sebelum datangnya Islam. Beliau bersabda bahwa seandainya bukan karena kekhawatiran manusia tidak akan saling menguburkan mayat (karena takut mendengar azab yang mengerikan), beliau akan berdoa kepada Allah agar mereka semua bisa mendengar azab kubur.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna "لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا" adalah seandainya bukan karena kalian akan meninggalkan kebiasaan saling menguburkan mayat karena takut mendengar azab yang sangat mengerikan itu, maka beliau akan meminta kepada Allah agar memperdengarkan azab kubur kepada mereka. Namun Allah tidak memperdengarkannya kepada manusia secara umum karena rahmat-Nya, dan agar mereka tetap mau menguburkan jenazah.
Kedua: Pelajaran dari Hadits
- Azab kubur itu nyata — Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Imam Al-Barbahari rahimahullah dalam Syarhus Sunnah menyebutkan bahwa di antara prinsip Ahlus Sunnah adalah mengimani azab kubur dan nikmat kubur.
- Orang jahiliyah yang mati di atas kesyirikan mendapat azab kubur — Ini menunjukkan bahwa azab kubur tidak hanya untuk umat Islam yang bermaksiat, tetapi juga untuk orang-orang kafir yang mati di atas kekafiran mereka.
- Rahmat Allah kepada hamba-Nya — Allah tidak memperdengarkan azab kubur kepada manusia secara umum karena kasih sayang-Nya, agar mereka tidak saling meninggalkan penguburan jenazah. Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya.
Ketiga: Bagaimana Azab Kubur Terjadi?
Para ulama menjelaskan bahwa azab kubur terjadi pada ruh dan jasad. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ar-Ruh menjelaskan secara panjang lebar bahwa azab dan nikmat kubur terjadi pada ruh dan jasad secara bersamaan. Ruh dikembalikan ke jasad untuk merasakan azab atau nikmat tersebut, namun kembalinya ruh ini bukan seperti kehidupan dunia yang sempurna, melainkan kehidupan barzakh yang khusus.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Ahwalul Qubur menjelaskan bahwa manusia setelah mati berada dalam dua keadaan: nikmat atau azab, dan ini berlangsung hingga hari kiamat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (bukan dari daftar ulama, namun kisah ini masyhur) — lebih baik kita ambil kisah dari ulama yang tercantum:
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi. Sungguh, apabila engkau berada di dalam kubur, maka tidak ada yang bisa menolongmu selain amal shalihmu."
Beliau juga sering menangis dan berkata: "Sesungguhnya kubur itu gelap, dan amal shalih adalah cahayanya. Kubur itu sempit, dan amal shalih adalah pelonggarnya. Kubur itu adalah tempat persinggahan pertama dari akhirat. Barangsiapa selamat di sana, maka setelahnya akan mudah. Dan barangsiapa binasa di sana, maka setelahnya akan lebih berat."
Ini menunjukkan betapa para salaf sangat memperhatikan urusan kubur dan mempersiapkan diri dengan amal shalih.
Kesimpulan Praktis
- Wajib mengimani azab kubur sebagai bagian dari iman kepada hari akhir.
- Bersungguh-sungguh dalam amal shalih karena amal itulah yang akan menjadi teman di kubur.
- Memperbanyak doa perlindungan dari azab kubur — Rasulullah ﷺ mengajarkan doa: "Allahumma inni a'udzu bika minal 'adzabil qabri" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur).
- Tidak meremehkan dosa-dosa kecil karena bisa menjadi sebab azab kubur.
- Mengingat kematian agar hati menjadi lembut dan tidak terlena dengan dunia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.