Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan menjelaskan bahwa ada sebagian orang yang meninggal dalam keadaan tertentu mendapatkan pahala syahid, meskipun bukan syahid dalam arti gugur di medan perang. Mereka yang disebut dalam hadits ini adalah: orang yang meninggal karena wabah (tha'un), sakit perut (mabthun), tenggelam, dan wanita yang meninggal saat melahirkan (nufasa'). Ini adalah karunia besar dari Allah bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Namun perlu dipahami, mereka mendapat pahala syahid di akhirat, tetapi tidak serta-merta mendapat semua hukum syahid di dunia seperti tidak dimandikan dan tidak dishalatkan, kecuali yang gugur di medan perang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab Syahid, no. 2054. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang lebih lengkap.
Dalam riwayat lain yang lebih lengkap, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: المَطْعُونُ، وَالمَبْطُونُ، وَالغَرِيقُ، وَصَاحِبُ الهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ"
Artinya: "Para syuhada itu ada lima: orang yang meninggal karena tha'un (wabah), orang yang meninggal karena sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan, dan orang yang syahid di jalan Allah." (HR. Al-Bukhari no. 2829 dan Muslim no. 1915)
Adapun firman Allah yang berkaitan dengan keutamaan syahid:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki." (QS. Ali 'Imran [3]: 169)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa syahid terbagi menjadi dua kategori utama:
- Syahid dunia dan akhirat – yaitu orang yang gugur di medan perang melawan orang kafir. Ia dimandikan, dikafani, dan dishalatkan? Tidak. Justru ia tidak dimandikan dan tidak dishalatkan, karena darah syahadahnya menjadi saksi. Ini adalah pendapat jumhur ulama.
- Syahid akhirat – yaitu orang yang disebut dalam hadits ini dan hadits-hadits lain, seperti: korban wabah tha'un, sakit perut yang parah, tenggelam, tertimpa reruntuhan, terbakar, wanita yang meninggal karena melahirkan (nufasa'), dan lain-lain. Mereka mendapat pahala syahid di sisi Allah, namun tetap dimandikan, dikafani, dan dishalatkan sebagaimana mayit biasa.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa orang-orang yang disebut dalam hadits ini mendapat pahala syahid, tetapi hukum-hukum duniawi tetap berlaku bagi mereka, seperti dimandikan dan dishalatkan. Ini berbeda dengan syahid di medan perang.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa kematian karena sakit perut yang dimaksud adalah sakit perut yang parah dan menyebabkan kematian, seperti penyakit diare berat, kolera, atau penyakit perut lainnya yang membawa maut. Ini adalah musibah yang berat, dan Allah menjadikannya sebagai sebab seseorang mendapat derajat syahid sebagai bentuk rahmat dan kemuliaan bagi umat ini.
Adapun yang dimaksud "nufasa'" adalah wanita yang meninggal karena melahirkan, baik saat melahirkan, setelah melahirkan, atau karena sebab-sebab yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Ini adalah kemuliaan besar bagi para ibu yang wafat dalam keadaan demikian.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memberikan kemuliaan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ dengan menjadikan berbagai musibah sebagai sebab seseorang meraih derajat syahid, sebagai bentuk kasih sayang Allah dan keringanan bagi umat ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi wabah tha'un di negeri Syam pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, beliau bermusyawarah dengan para sahabat. Ada yang berpendapat tetap tinggal, ada yang berpendapat keluar dari daerah wabah. Akhirnya Umar memutuskan untuk kembali ke Madinah, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah radhiyallahu 'anhu berkata: "Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau lari dari takdir Allah?" Umar menjawab: "Ya, kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain."
Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu yang sedang tidak hadir saat musyawarah, dan ia berkata: "Aku memiliki ilmu tentang hal ini, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jika kalian mendengar wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke negeri itu. Dan jika wabah terjadi di negeri kalian, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.'" Maka Umar pun memuji Allah dan kembali bersama pasukannya.
Kisah ini menunjukkan bahwa wabah tha'un adalah perkara yang nyata dan Rasulullah ﷺ telah memberikan bimbingan praktis. Dan bagi yang meninggal karenanya, ia mendapat kemuliaan syahid di sisi Allah.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukurlah atas kemudahan agama ini – Allah menjadikan banyak sebab kematian sebagai jalan meraih derajat syahid bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.
- Jangan takut berlebihan terhadap musibah – seperti wabah dan penyakit, karena semua terjadi dengan takdir Allah, dan bagi yang meninggal karenanya ada kemuliaan.
- Tetap berikhtiar dan menjaga kesehatan – meskipun ada kabar tentang keutamaan syahid karena sakit, kita tetap diperintahkan untuk menjaga kesehatan dan menggunakan sebab-sebab perlindungan yang diajarkan syariat.
- Doakan para korban musibah – semoga mereka yang meninggal karena wabah, kecelakaan tenggelam, sakit perut yang parah, dan para ibu yang wafat saat melahirkan, semoga Allah menjadikan mereka syuhada di sisi-Nya.
- Tetap laksanakan kewajiban terhadap jenazah mereka – karena mereka tetap dimandikan, dikafani, dan dishalatkan sebagaimana muslim lainnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.