Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1931 tentang Istirahatnya mukmin dan terbebasnya makhluk dari pendosa

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa kematian bisa menjadi "istirahat" bagi seorang mukmin, karena ia terbebas dari segala kesulitan dan gangguan hidup di dunia. Sebaliknya, kematian seorang pendosa juga menjadi "istirahat" bagi makhluk lain, karena mereka terbebas dari keburukan dan gangguannya. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh perbuatan manusia terhadap lingkungan sekitarnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Jenazah, Bab Istirahat dari Orang Kafir (no. 1931). Hadits ini juga terdapat dalam Shahih Muslim (no. 950) dengan redaksi yang serupa, dari sahabat Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (Arab Berharakat):

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ، الْمُؤْمِنُ يَمُوتُ فَيَسْتَرِيحُ مِنْ أَوْصَابِ الدُّنْيَا وَنَصَبِهَا وَأَذَاهَا، وَالْفَاجِرُ يَمُوتُ فَيَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ"

Terjemahan:

"Rasulullah ﷺ bersabda: 'Dia adalah orang yang beristirahat dan orang lain juga beristirahat darinya. Seorang mukmin meninggal, maka ia beristirahat dari segala musibah, kesulitan, dan gangguan dunia. Dan seorang pendosa meninggal, maka orang-orang, tanah, pohon, dan hewan terbebas darinya.'"

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah berfirman dalam QS. Al-Mulk [67]: 2:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

"Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun."

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari. Keduanya menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan hikmah kematian bagi mukmin dan dampak buruk orang fajir (pendosa) bagi lingkungan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam tentang hakikat kehidupan dunia dan hubungan antara manusia dengan makhluk lainnya.

1. Makna "Mukmin Beristirahat":

Seorang mukmin yang meninggal akan beristirahat dari:

  • أَوْصَابِ الدُّنْيَا (aushab): musibah, penyakit, dan kesedihan.
  • نَصَبِهَا (nashab): kelelahan dan kerja keras.
  • أَذَاهَا (adza): gangguan dan keburukan dunia.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dunia adalah tempat ujian dan kesulitan. Kematian bagi mukmin adalah pintu menuju rahmat Allah, di mana ia terbebas dari segala beban tersebut. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan bahwa ini adalah kabar gembira bagi mukmin, agar ia tidak terlalu mencintai dunia dan rindu akan pertemuan dengan Allah.

2. Makna "Pendosa Beristirahat Darinya":

Seorang fajir (pendosa) yang meninggal akan membuat makhluk lain beristirahat darinya:

  • الْعِبَادُ (hamba-hamba): manusia terbebas dari kezaliman dan gangguan si fajir.
  • الْبِلَادُ (negeri-negeri): tanah dan tempat terbebas dari kemaksiatan yang ia lakukan.
  • الشَّجَرُ (pohon-pohon): pohon terbebas dari perbuatan zalim seperti menebang tanpa hak.
  • الدَّوَابُّ (hewan-hewan): hewan terbebas dari penyiksaan dan kezaliman.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ini menunjukkan betapa besar dampak buruk orang fajir, sampai-sampai alam dan hewan pun merasa terganggu. Ibnul Qayyim dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa kemaksiatan seseorang tidak hanya merugikan dirinya, tetapi juga merusak lingkungan sekitarnya.

3. Perbedaan Pendapat Ulama:

Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri memandang hadits ini sebagai peringatan keras bagi pendosa, agar mereka bertaubat sebelum ajal datang. Sementara Sufyan ats-Tsauri menekankan bahwa hadits ini menunjukkan keadilan Allah: mukmin mendapatkan istirahat, dan makhluk lain juga mendapatkan istirahat dari kezaliman pendosa.

Pendapat yang paling kuat adalah yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar: hadits ini adalah motivasi untuk menjadi mukmin yang baik, yang kehadirannya membawa manfaat, dan ketiadaannya tidak membuat orang lain merasa terbebas (karena ia tidak mengganggu). Sebaliknya, pendosa adalah orang yang kehadirannya mengganggu dan ketiadaannya melegakan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang hadits ini. Beliau berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin itu seperti pohon yang rindang. Ketika ia hidup, orang-orang berteduh di bawahnya dan memakan buahnya. Ketika ia mati, orang-orang kehilangan manfaatnya, tetapi ia sendiri beristirahat dari kelelahan dunia."

Sebaliknya, ada seorang pendosa yang selalu mengganggu tetangganya. Ketika ia meninggal, tetangganya berkata: "Akhirnya aku bisa tidur tenang." Ini adalah gambaran nyata dari hadits ini. (Kisah ini disebutkan secara makna oleh Ibnu Rajab dalam Latha'if al-Ma'arif).

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi Mukmin: Jadikanlah kematian sebagai motivasi untuk tidak terlalu cinta dunia, karena kematian adalah pintu istirahat dari segala kesulitan.
  2. Bagi Pendosa: Bertaubatlah sebelum ajal datang, karena kehadiranmu yang mengganggu akan menjadi beban bagi orang lain, dan kematianmu akan menjadi "kabar gembira" bagi lingkungan.
  3. Bagi Semua: Jadilah pribadi yang kehadirannya membawa manfaat dan ketiadaannya tidak membuat orang lain merasa terbebas (karena kita tidak mengganggu).
  4. Renungan: Alam, pohon, dan hewan pun bisa "merasa terganggu" oleh perbuatan zalim manusia. Maka jagalah akhlak terhadap semua makhluk.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?