Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah yang sangat menyentuh tentang para sahabat yang berhijrah bersama Rasulullah ﷺ dengan ikhlas hanya mengharap wajah Allah. Kisah ini berpusat pada syahidnya Mus'ab bin Umair radhiyallahu 'anhu di Perang Uhud, di mana kain kafan yang ada tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dari sini, para ulama mengambil pelajaran tentang tata cara mengkafani jenazah ketika kainnya terbatas, yaitu mendahulukan menutup bagian kepala (aurat utama) dan menutup bagian kaki dengan tumbuhan atau sesuatu yang lain. Hadits ini juga mengajarkan tentang keutamaan hijrah dan ikhlas dalam beramal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab Kafan, no. 1903. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka.
Dalil dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
"Dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat hijrahnya), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa' [4]: 100)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu 'anhu. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya (no. 1276, 3897, 4082, 6432) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 940).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Keutamaan Hijrah dan Ikhlas
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah yang dilakukan para sahabat adalah bentuk keikhlasan tertinggi. Mereka meninggalkan harta, keluarga, dan kampung halaman semata-mata karena Allah. Khabbab radhiyallahu 'anhu menegaskan bahwa mereka berhijrah "nabtaghi wajhallah" (mengharap wajah Allah), bukan karena dunia atau kepentingan pribadi. Inilah yang menjadikan pahala mereka dijamin langsung oleh Allah.
2. Kisah Mus'ab bin Umair dan Pelajaran Kafan
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Mus'ab bin Umair adalah salah satu sahabat yang paling mulia. Beliau adalah duta pertama Islam di Madinah dan gugur sebagai syahid di Perang Uhud. Ketika itu, kain yang tersedia untuk mengkafaninya hanyalah selembar kain (namirah) yang tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya.
Para ulama mengambil kesimpulan dari perintah Rasulullah ﷺ dalam hadits ini:
- Mendahulukan menutup kepala karena kepala adalah bagian tubuh yang paling mulia dan harus ditutup.
- Menutup kaki dengan idhkhir (sejenis rumput harum) ketika kain tidak mencukupi, sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa jika kain kafan tidak mencukupi untuk menutup seluruh tubuh, maka yang didahulukan adalah menutup aurat besar (kemaluan), kemudian kepala, lalu bagian tubuh lainnya. Namun dalam hadits ini, karena kain tersebut adalah satu-satunya yang ada, Rasulullah ﷺ memerintahkan menutup kepala dan mengganti penutup kaki dengan idhkhir.
3. Pelajaran tentang Kehidupan Dunia
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perbedaan keadaan manusia di dunia. Ada yang mati sebelum menikmati hasil jerih payahnya di dunia, seperti Mus'ab bin Umair. Ada pula yang hidup lebih lama dan menikmati hasilnya. Namun yang terpenting adalah akhirat, bukan dunia.
4. Pelajaran tentang Syahid
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syahid adalah kedudukan yang sangat tinggi. Meskipun Mus'ab bin Umair dikafani dengan kain seadanya, kemuliaannya di sisi Allah jauh lebih besar daripada orang-orang yang dikafani dengan kain mewah. Ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari pakaian terakhirnya, tetapi dari amal dan keikhlasannya.
Story Telling
Ada kisah yang sangat mengharukan tentang Mus'ab bin Umair radhiyallahu 'anhu. Sebelum masuk Islam, beliau adalah pemuda Quraisy yang paling tampan dan paling dimanjakan oleh ibunya. Beliau memakai pakaian terbaik dan wewangian termahal. Namun setelah masuk Islam, beliau meninggalkan semua kemewahan itu demi Allah dan Rasul-Nya.
Ketika gugur di Perang Uhud, para sahabat tidak menemukan kain yang cukup untuk mengkafaninya. Bahkan, sebagian riwayat menyebutkan bahwa kain yang ada hanyalah selembar kain yang jika menutupi kepala, kakinya terbuka, dan sebaliknya. Rasulullah ﷺ pun memerintahkan untuk menutup kepalanya dan meletakkan idhkhir di kakinya.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata tentang Mus'ab, "Sungguh, dahulu aku melihat Mus'ab bin Umair tidak ada seorang pun di Makkah yang lebih baik pakaiannya darinya. Namun ketika gugur di Uhud, tidak ada kain yang bisa menutupi tubuhnya kecuali selembar kain." (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari)
Hikmahnya: Kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari penampilan duniawinya. Mus'ab yang dahulu hidup mewah, justru gugur dalam keadaan sangat sederhana, namun Allah mengangkat derajatnya setinggi-tingginya.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas dalam beramal - Hijrah dan amal apa pun harus dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena dunia.
- Menghormati jenazah - Ketika mengkafani jenazah, dahulukan menutup bagian kepala dan aurat. Jika kain tidak mencukupi, tutup bagian yang lebih penting dan gunakan sesuatu yang lain untuk menutup sisanya.
- Tidak mengukur kemuliaan dari dunia - Seseorang yang sederhana di dunia bisa jadi sangat mulia di sisi Allah.
- Bersabar dalam kekurangan - Para sahabat rela berkorban harta dan nyawa demi agama Allah. Kita harus meneladani semangat mereka.
- Mempersiapkan diri menghadapi kematian - Kematian bisa datang kapan saja. Yang terpenting adalah bekal iman dan amal shalih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.