Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1871 tentang Kesabaran atas musibah dijamin surga

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi seorang mukmin yang tertimpa musibah, terutama kehilangan orang yang sangat dicintainya. Jika ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah, serta mengucapkan kalimat istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) yang diperintahkan, maka Allah menjamin balasan baginya tidak kurang dari surga. Ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan sabar saat menghadapi musibah, dan betapa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang beriman sehingga menguji mereka untuk mengangkat derajat mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "إِنَّ اللهَ لَا يَرْضَى لِعَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ إِذَا ذَهَبَ بِصَفِيِّهِ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ فَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ وَقَالَ مَا أُمِرَ بِهِ بِثَوَابٍ دُونَ الْجَنَّةِ"

Makna: "Sesungguhnya Allah tidak ridha bagi hamba-Nya yang mukmin, apabila Dia mengambil orang yang dicintainya (kekasihnya) dari penduduk bumi, lalu ia bersabar dan mengharap pahala, serta mengucapkan apa yang diperintahkan kepadanya, (mendapat) balasan yang kurang dari surga."

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

> وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

(QS. Al-Baqarah [2]: 155-157)

Makna: "Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa sabar yang sempurna adalah sabar pada saat pertama kali musibah datang, bukan setelah berlalunya waktu. Beliau juga menekankan bahwa mengharap pahala (ihtisab) adalah kunci utama agar musibah menjadi pahala di sisi Allah.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat di atas menunjukkan tiga keutamaan bagi orang yang sabar: shalawat (pujian) dari Allah, rahmat yang luas, dan petunjuk menuju jalan yang lurus.
  • Imam Ibnul Qayyim dalam 'Uddah Ash-Shabirin menjelaskan bahwa kata shafiy (orang yang dicintai) dalam hadits ini menunjukkan bahwa semakin besar kecintaan kita kepada seseorang yang diambil oleh Allah, semakin besar pula pahala kesabaran kita, selama kita bersabar dan mengharap pahala dari-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu. Ada beberapa poin penting yang perlu dipahami:

1. Makna "Shafiy" (صفيّه)

Kata shafiy berasal dari kata shafa yang berarti jernih atau murni. Maksudnya adalah orang yang paling dicintai, paling dekat, dan paling berharga di hati seseorang. Ini bisa berupa anak, istri, suami, orang tua, atau kerabat terdekat. Ketika Allah mengambil orang yang paling kita cintai, inilah ujian kesabaran yang paling berat.

2. Syarat Mendapatkan Balasan Surga

Rasulullah ﷺ menyebutkan tiga syarat dalam hadits ini:

  • Shabara (bersabar): Menahan diri dari keluh kesah, meratap, menampar pipi, atau perilaku yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah.
  • Ihtasaba (mengharap pahala): Artinya ia bersabar semata-mata karena mengharap pahala dari Allah, bukan karena hal lain. Ia yakin bahwa apa yang diambil Allah adalah hak-Nya, dan apa yang diberikan-Nya juga hak-Nya.
  • Qala ma umira bih (mengucapkan apa yang diperintahkan): Yaitu mengucapkan kalimat istirja': Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ini sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 156.

3. Balasan yang Dijanjikan

Frasa "bi tsawabin duna al-jannah" (dengan balasan yang kurang dari surga) adalah gaya bahasa Arab yang menegaskan bahwa balasannya PASTI surga, tidak kurang dari itu. Ini adalah bentuk penegasan bahwa pahala orang yang bersabar dengan kriteria di atas sangatlah besar.

4. Makna "Allah Tidak Ridha"

Ungkapan "Innallaha la yardha..." (Sesungguhnya Allah tidak ridha...) menunjukkan bahwa Allah tidak meridhai hamba-Nya yang beriman mendapat balasan yang kurang dari surga. Ini adalah bentuk kemuliaan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang sabar.

5. Pelajaran dari Peristiwa dalam Sanad Hadits

Menariknya, hadits ini diriwayatkan dalam konteks surat belasungkawa yang ditulis oleh Amr bin Syu'aib kepada Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Husain yang kehilangan anaknya. Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf saling menguatkan dan menghibur satu sama lain dengan hadits-hadits Nabi ﷺ ketika tertimpa musibah. Mereka tidak berduka dengan cara yang berlebihan, tetapi saling mengingatkan tentang pahala kesabaran.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa musibah adalah salah satu jalan terbesar menuju surga. Beliau berkata bahwa jika seorang hamba mengetahui apa yang ada di balik musibah berupa pahala, ia tidak akan merasa berat menghadapinya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imam Al-Bukhari -rahimahullah- sangat mencintai gurunya, Ali bin Al-Madini, yang merupakan salah satu ulama besar di zamannya. Suatu hari, Ali bin Al-Madini kehilangan anaknya yang sangat ia cintai. Maka para ulama datang untuk bertakziah (melayat) dan menghiburnya.

Di antara yang datang adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau berkata kepada Ali bin Al-Madini dengan penuh kelembutan:

"Wahai Abu Al-Hasan, sesungguhnya jika engkau bersabar, maka takdir tetap berjalan, dan engkau mendapatkan pahala. Dan jika engkau tidak bersabar, takdir tetap berjalan, dan engkau menanggung dosa. Maka bersabarlah."

Kemudian Ali bin Al-Madini menjawab dengan penuh keteguhan iman, "Aku tahu itu. Sesungguhnya yang membuatku sedih bukanlah kepergian anakku, tetapi karena ia pergi sebelum sempat menghafal hadits-hadits Nabi ﷺ yang aku miliki."

Lihatlah bagaimana para ulama salaf menghadapi musibah. Mereka tidak larut dalam kesedihan yang melampaui batas, tetapi tetap mengingat Allah dan bahkan memikirkan hal-hal yang bermanfaat untuk akhirat. Ini adalah buah dari kesabaran yang sejati dan pengharapan pahala dari Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera ucapkan istirja' saat musibah datang, jangan ditunda-tunda, karena kesabaran yang utama adalah pada benturan pertama.
  2. Niatkan kesabaran karena Allah, bukan karena gengsi atau takut dinilai buruk oleh orang lain. Ikhlaslah mengharap pahala dari-Nya.
  3. Jauhi perilaku yang dilarang saat tertimpa musibah seperti meratap, menampar pipi, merobek baju, atau berkata-kata yang menunjukkan ketidakridhaan.
  4. Yakinlah bahwa balasan Allah pasti, dan tidak kurang dari surga bagi yang memenuhi syarat-syaratnya.
  5. Hiburlah orang yang tertimpa musibah dengan mengingatkan mereka akan hadits-hadits dan ayat-ayat tentang kesabaran, sebagaimana yang dilakukan para ulama salaf.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.