Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1868 tentang Perintah bersabar dan mengharap pahala saat musibah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa saat musibah kematian menimpa, kita dianjurkan bersabar dan mengharap pahala (ihtisab), karena semua yang ada adalah milik Allah dan setiap makhluk memiliki waktu yang ditentukan. Nabi ﷺ juga menegaskan bahwa menangis karena kasih sayang bukanlah larangan, melainkan rahmat yang Allah letakkan di hati hamba-Nya, dan Allah hanya menyayangi hamba yang penyayang.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 156

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Terjemahan: "Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: 'Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, dari jalur Abu Utsman an-Nahdi, dan dicatat oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab Perintah untuk Bersabar dan Mengharapkan Pahala Saat Musibah (no. 1868). Maknanya juga sejalan dengan hadits shahih lain tentang sabar saat musibah, seperti hadits Anas bin Malik dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang sabar dan ihtisab.

Kaitan dengan ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna "ihtisab" sebagai mengharap pahala dari Allah, bukan sekadar menahan diri. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga menegaskan bahwa menangis karena rahmat tidak bertentangan dengan sabar yang diperintahkan. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam beberapa karyanya menjelaskan bahwa sabar yang sempurna adalah menahan lisan dari keluh kesah, hati dari kemarahan kepada takdir, dan anggota badan dari perbuatan yang tidak diridhai.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan adab Nabi ﷺ dalam menghadapi musibah keluarga. Ketika putrinya mengirim kabar bahwa anaknya sedang sekarat, Nabi ﷺ tidak langsung pergi, tetapi mengirim pesan berisi kalimat agung: "إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَىْءٍ عِنْدَ اللَّهِ بِأَجَلٍ مُسَمًّى" — "Kepunyaan Allah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu di sisi Allah memiliki waktu yang ditentukan." Ini adalah fondasi sabar: menyadari bahwa anak, harta, dan nyawa adalah milik Allah, bukan milik kita secara hakiki.

Kalimat "فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ" — "hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala" — menunjukkan bahwa sabar yang dimaksud bukan sekadar menahan diri secara pasif, tetapi disertai ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ihtisab adalah inti dari sabar yang bernilai pahala. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa sabar memiliki tingkatan: menahan diri, lalu ridha, lalu syukur, dan yang paling utama adalah sabar yang disertai ihtisab.

Ketika putrinya bersumpah agar Nabi ﷺ datang, beliau pun datang bersama para sahabat mulia: Sa'd bin Ubadah, Mu'adz bin Jabal, Ubay bin Ka'b, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa menghibur keluarga yang berduka dan mendatangi mereka adalah sunnah. Ketika anak itu diangkat dan nafasnya masih bergerak (tanda kematian), mata Nabi ﷺ meneteskan air mata. Sa'd bertanya: "Apa ini, wahai Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab: "هَذَا رَحْمَةٌ يَجْعَلُهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ" — "Ini adalah rahmat yang Allah letakkan di hati hamba-hamba-Nya." Lalu beliau menegaskan: "وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ" — "Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa menangis karena kasih sayang tidak termasuk niyahah (meratap) yang dilarang, karena niyahah adalah mengangkat suara dengan keluhan dan tidak ridha kepada takdir. Adapun air mata yang menetes karena rahmat, itu adalah fitrah dan rahmat yang Allah letakkan di hati. Imam an-Nawawi juga menegaskan bahwa menangis karena kasih sayang tidak mengurangi kesabaran yang diperintahkan.

Para ulama di daftar sepakat bahwa sabar yang diperintahkan adalah menahan lisan dari keluh kesah, menahan hati dari kemarahan kepada takdir, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang. Adapun menangis karena kasih sayang, itu bukanlah pelanggaran, melainkan tanda hati yang hidup dan penyayang.

Story Telling

Kisah ini sendiri adalah story telling dari kehidupan Nabi ﷺ. Bayangkan seorang ayah yang menerima kabar bahwa cucunya sedang sekarat. Putrinya, yang sangat mencintai anaknya, mengirim kabar agar ayahnya datang. Namun Nabi ﷺ, dengan hikmah kenabian, mengirim pesan yang menenangkan: "Kepunyaan Allah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu memiliki waktu yang ditentukan." Ini adalah pendidikan langsung dari Nabi ﷺ kepada keluarganya tentang hakikat kehidupan.

Ketika beliau akhirnya datang, beliau melihat cucunya dalam keadaan sekarat. Mata beliau meneteskan air mata. Sa'd bin Ubadah, seorang sahabat mulia, bertanya dengan penuh adab: "Apa ini, wahai Rasulullah?" Nabi ﷺ tidak marah, tetapi menjelaskan bahwa itu adalah rahmat yang Allah letakkan di hati hamba-Nya. Beliau menegaskan bahwa Allah hanya menyayangi hamba yang penyayang. Hikmahnya: Islam tidak mengajarkan kekerasan hati, tetapi mengajarkan keseimbangan antara sabar dan kasih sayang. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat ini, Nabi ﷺ menggabungkan keduanya: sabar dalam menerima takdir, dan menangis karena rahmat.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat musibah kematian menimpa, ucapkan dan renungkan makna "إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ" dan sadari bahwa semua milik Allah.
  2. Bersabarlah dengan menahan lisan dari keluh kesah, hati dari kemarahan kepada takdir, dan anggota badan dari perbuatan yang dilarang.
  3. Sertakan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah, karena sabar yang bernilai pahala adalah yang disertai ihtisab.
  4. Menangis karena kasih sayang tidaklah terlarang; itu adalah rahmat yang Allah letakkan di hati hamba-Nya.
  5. Datangilah keluarga yang berduka untuk menghibur dan mendoakan mereka, sebagaimana Nabi ﷺ datang kepada putrinya.
  6. Didiklah keluarga untuk memahami hakikat takdir dan waktu yang ditentukan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?