Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1833 tentang Kematian mukmin penuh rahmat dan wangi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan peristiwa sakratul maut yang dialami oleh seorang mukmin dan seorang kafir. Bagi mukmin, saat sakratul maut, malaikat rahmat datang membawa sutra putih, jiwanya keluar dengan wangi yang harum, dan disambut gembira oleh ruh-ruh mukminin. Sebaliknya, bagi orang kafir, malaikat azab datang dengan kain kotor, jiwanya keluar dengan bau busuk, dan dibawa kepada ruh-ruh kafir. Ini menunjukkan betapa besarnya perbedaan keadaan antara orang beriman dan orang kafir di akhir hayatnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab Apa yang Diberikan kepada Mukmin Ketika Keluarnya Nyawa, nomor 1833. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Sanad hadits ini dinilai hasan atau shahih oleh para ulama, di antaranya Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa'i.

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Qaf [50]: 19-22

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ . وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ ٱلْوَعِيدِ . وَجَآءَتْ كُلُّ نَفْسٍۢ مَّعَهَا سَآئِقٌۭ وَشَهِيدٌۭ . لَّقَدْ كُنتَ فِى غَفْلَةٍۢ مِّنْ هَـٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ ٱلْيَوْمَ حَدِيدٌۭ

"Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu kamu lari darinya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan. Dan datanglah setiap jiwa bersama-sama dengan (malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi. Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam."

Ayat ini menjelaskan tentang dahsyatnya sakratul maut dan apa yang akan disaksikan oleh setiap jiwa. Hadits di atas memberikan gambaran lebih rinci tentang apa yang dialami oleh mukmin dan kafir saat itu.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang beriman dan peringatan keras bagi orang-orang kafir. Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam kitabnya At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adanya kenikmatan atau siksaan di alam barzakh yang dimulai sejak sakratul maut.

Penjelasan untuk Mukmin:

  1. Kedatangan Malaikat Rahmat: Ketika seorang mukmin menghadapi kematian, malaikat rahmat datang kepadanya dengan membawa sutra putih. Sutra putih ini melambangkan kemuliaan, kesucian, dan kelembutan yang diterima oleh jiwa mukmin.
  2. Panggilan untuk Keluar: Malaikat berkata, "Keluarlah dalam keadaan ridha dan diridhai Allah kepadamu." Ini menunjukkan bahwa jiwa mukmin keluar dalam keadaan tenang dan menerima takdir Allah, serta Allah pun ridha kepadanya. Jiwa diajak menuju "Ruhillah" (rahmat Allah), "Raihan" (wangi-wangian surga), dan "Rabbun Ghairu Ghadban" (Tuhan yang tidak marah). Ini adalah puncak kebahagiaan.
  3. Keharuman Jiwa: Jiwa mukmin keluar dengan bau yang paling harum, melebihi minyak kasturi. Para malaikat saling menyerahkan jiwa itu hingga sampai ke langit. Para malaikat di langit pun heran dengan keharuman yang datang dari bumi.
  4. Sambutan Ruh Mukminin: Sesampainya di langit, jiwa-jiwa mukmin yang telah mendahuluinya menyambut dengan penuh kegembiraan, melebihi kegembiraan seseorang saat bertemu dengan keluarganya yang lama tidak pulang. Mereka saling bertanya tentang keadaan orang-orang yang masih hidup di dunia, namun mereka tidak menuntut jawaban karena tahu bahwa orang yang baru datang itu masih dalam kesedihan dunia.

Penjelasan untuk Kafir:

  1. Kedatangan Malaikat Azab: Ketika orang kafir sekarat, malaikat azab datang dengan membawa kain yang kotor dan kasar (misah). Ini melambangkan kehinaan dan kekotoran jiwa orang kafir.
  2. Panggilan untuk Keluar: Malaikat berkata, "Keluarlah dalam keadaan marah dan dimurkai Allah kepadamu." Jiwa orang kafir keluar dalam keadaan marah kepada Allah dan takdir-Nya, serta Allah pun murka kepadanya. Jiwa diajak menuju azab Allah.
  3. Kebusukan Jiwa: Jiwa orang kafir keluar dengan bau yang paling busuk, melebihi bau bangkai. Para malaikat membawanya ke pintu bumi, dan mereka semua merasa terganggu dengan bau busuk tersebut.
  4. Pertemuan dengan Ruh Kafir: Jiwa itu kemudian dibawa kepada ruh-ruh orang kafir lainnya di tempat yang disebut "Ummul Hawiyah" (neraka yang dalam). Ini menunjukkan bahwa mereka sudah merasakan awal dari siksaan di alam barzakh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang adanya nikmat dan siksa kubur yang dimulai sejak sakratul maut. Beliau menekankan bahwa apa yang dialami oleh jiwa saat keluar dari jasad adalah awal dari kehidupan barzakh yang hakiki.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ untuk menguburkan salah seorang sahabat Anshar. Setelah selesai, kami duduk di dekat kuburnya. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur, tiga kali.' Kemudian beliau bersabda: 'Sesungguhnya seorang hamba mukmin ketika akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah kepadanya malaikat dari langit yang wajahnya putih seperti matahari. Mereka membawa kain kafan dari surga dan wewangian dari surga. Mereka duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat Maut dan duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: "Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah." Maka jiwa itu keluar seperti tetesan air dari mulut kendi...' (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani).

Kisah ini semakin memperkuat gambaran indahnya kematian bagi seorang mukmin. Kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang abadi. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu mempersiapkan diri dengan amal shalih dan taubat, agar kelak ia termasuk golongan yang disambut dengan penuh kegembiraan di alam barzakh.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak Amal Shalih: Hadits ini memotivasi kita untuk selalu beriman dan beramal shalih, karena kematian yang baik adalah buah dari kehidupan yang baik.
  2. Jauhi Kemaksiatan: Sebaliknya, kita harus sangat berhati-hati terhadap dosa dan kekafiran, karena akibatnya sangat mengerikan di saat sakratul maut.
  3. Sering Mengingat Kematian: Ingatlah bahwa kematian bisa datang kapan saja. Jadikan hadits ini sebagai pengingat untuk selalu bertaubat dan memperbaiki diri.
  4. Berdoa Memohon Husnul Khatimah: Jangan pernah lelah berdoa kepada Allah agar diberikan akhir hidup yang baik (husnul khatimah) dan dijauhkan dari su'ul khatimah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.