Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan salah satu tanda husnul khatimah (akhir hidup yang baik) bagi seorang mukmin, yaitu ketika sakratul maut ia mengeluarkan keringat di dahinya. Ini bukan tanda azab, melainkan tanda kasih sayang Allah yang meringankan keluarnya ruh, sebagaimana dipahami para ulama Ahlus Sunnah. Hadits ini juga menjadi penghibur bagi keluarga yang melihat orang tercinta mengeluarkan keringat saat menjelang wafat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan an-Nasa'i, Kitab Jenazah, Bab Tanda Kematian Seorang Mukmin, no. 1829, dari jalur Ibn Buraidah dari ayahnya (Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu 'anhu).
Teks hadits:
الْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ
Terjemahan: "Orang mukmin itu mati dengan keringat di dahinya."
Hadits senada juga diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dari Buraidah, serta Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya. Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keadaan sakratul maut:
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
QS. Qaf [50]: 19
Terjemahan: "Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu engkau hendak menghindari."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa sakratul maut adalah keadaan berat yang dialami setiap jiwa, dan mukmin akan diringankan oleh Allah sesuai kadar keimanannya.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum: Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa salah satu tanda seorang mukmin ketika wafat adalah munculnya keringat di dahi. Ini terjadi saat ruh keluar dari jasad, yang dalam bahasa syariat disebut sakratul maut.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa keringat di dahi saat wafat merupakan tanda keringanan dan rahmat, bukan tanda siksa. Beliau menyebutkan bahwa hal ini termasuk bisyarah (kabar gembira) bagi mukmin, karena beratnya sakratul maut menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa keringat saat wafat bisa jadi tanda bahwa ruh keluar dengan susah payah, namun bagi mukmin hal itu menjadi kaffarah (penghapus dosa) dan bukan azab. Beliau juga mengutip bahwa Nabi ﷺ sendiri saat wafat mengeluarkan keringat, sebagaimana disebutkan dalam hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menerangkan bahwa beratnya sakratul maut dialami semua orang, namun bagi mukmin menjadi pembersih dosa dan bagi kafir menjadi tambahan azab. Ini sejalan dengan hadits lain bahwa sakitnya sakratul maut setara dengan tujuh puluh tusukan pedang.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam ar-Ruh menjelaskan bahwa ruh mukmin keluar dengan lembut meski jasad merasakan berat, dan keringat dahi adalah salah satu tanda fisik dari proses itu. Beliau menegaskan bahwa tanda-tanda husnul khatimah tidak boleh dijadikan patokan pasti, karena penilaian akhir hanya di sisi Allah.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa segala keadaan sakratul maut terjadi dengan izin Allah, dan mukmin diberi bisyarah (kabar gembira) oleh malaikat sebagaimana firman Allah dalam QS. Fussilat [41]: 30.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama menyebut keringat dahi sebagai tanda husnul khatimah secara umum; sebagian lain menyatakan ini khusus bagi mukmin yang sempurna imannya. Namun yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat Ibnu Hajar dan an-Nawawi: ini tanda keringanan bagi mukmin secara umum, dan tidak boleh dijadikan vonis pasti atas seseorang, karena hukum akhir hanya milik Allah.
Story Telling
Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari bahwa ketika Rasulullah ﷺ menjelang wafat, 'Aisyah radhiyallahu 'anha melihat beliau mengeluarkan keringat dan berkata: "Tidak ada kenikmatan yang lebih berat daripada sakratul maut." Beliau ﷺ sendiri mengalami beratnya sakratul maut, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah sangat berat sakratul mautnya bagi mukmin, sebagai penghapus dosa."
Imam Ahmad bin Hanbal ketika menjelang wafat juga terlihat mengeluarkan keringat di dahinya, dan orang-orang di sekitarnya mengingat hadits ini. Ini menunjukkan bahwa para salaf memahami hadits ini sebagai tanda kebaikan, bukan tanda keburukan.
Hikmah: Beratnya sakratul maut bukan tanda Allah membenci hamba-Nya. Justru bagi mukmin, itu adalah cara Allah membersihkan dosa-dosanya sebelum ia menghadap-Nya dalam keadaan bersih.
Kesimpulan Praktis
- Bagi yang mendampingi orang sakit menjelang wafat: Jika melihat keringat di dahi, jangan panik atau menganggap itu azab. Itu bisa jadi tanda husnul khatimah.
- Bagi keluarga: Perbanyak doa untuk orang yang sedang sakratul maut, bacakan talqin syahadat, dan jangan berputus asa dari rahmat Allah.
- Bagi diri sendiri: Perbanyak istighfar dan amal saleh, karena sakratul maut pasti datang dan kita tidak tahu dalam keadaan apa.
- Jangan memvonis: Tanda husnul khatimah bukan jaminan pasti masuk surga, dan sebaliknya. Hukum akhir hanya milik Allah.
- Hindari ghuluw: Jangan mengkultuskan tanda-tanda tertentu hingga melampaui batas, cukup berhusnuzan kepada Allah dan terus beramal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.