Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk menuntun atau mengingatkan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut agar mengucapkan kalimat tauhid "Lā ilāha illallāh". Ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan, karena kalimat ini menjadi kunci keselamatan di akhirat. Caranya adalah dengan menyebutkan kalimat tersebut di dekatnya dengan lembut, tanpa memaksa atau menyuruhnya mengulang secara terus-menerus.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i:
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
"Tuntunlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat Lā ilāha illallāh." (HR. An-Nasa'i, no. 1826, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu)
Hadits Riwayat Muslim:
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah Lā ilāha illallāh, maka ia akan masuk surga." (HR. Abu Dawud, no. 3116; dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa makna "laqqinū" (لَقِّنُوا) adalah ajarkan dan ingatkan, bukan memaksa. Caranya adalah dengan menyebut kalimat tauhid di dekat orang yang sedang sekarat agar ia mendengar dan mengucapkannya.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menegaskan bahwa talqin ini dilakukan saat orang tersebut masih bisa mendengar dan berbicara, bukan setelah ia meninggal. Tujuannya agar kalimat tauhid menjadi akhir ucapannya.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadhus Shalihin) menambahkan bahwa talqin ini adalah bentuk kasih sayang dan pertolongan kepada orang yang akan meninggal, karena setan sangat berusaha menggoda manusia di saat-saat terakhir hidupnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah petunjuk praktis bagi kita untuk membantu saudara sesama muslim yang sedang menghadapi kematian. Kata "laqqinū" berasal dari kata "talqīn" yang berarti mengajarkan atau menuntun dengan cara menyebutkan sesuatu di hadapan orang lain agar ia mengucapkannya.
Beberapa hal penting yang perlu dipahami:
- Waktu Pelaksanaan Talqin: Talqin dilakukan ketika seseorang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda sakaratul maut, seperti nafas tersengal, pandangan kosong, atau tidak mampu berbicara dengan baik. Ini adalah momen kritis di mana setan berusaha keras menyesatkan manusia.
- Cara Melakukan Talqin: Tidak boleh dengan memaksa atau mengulang-ulang secara kasar. Cukup ucapkan "Lā ilāha illallāh" dengan suara yang jelas namun lembut di dekat telinganya. Jika ia mengucapkannya, maka diamkan dan jangan mengganggunya. Jika ia berbicara hal lain, ingatkan kembali dengan lembut.
- Hikmah di Balik Talqin: Kalimat tauhid adalah inti dari keimanan. Dengan mengucapkannya di akhir hayat, seorang hamba meninggal dalam keadaan bertauhid, dan dijanjikan masuk surga. Ini adalah rahmat Allah yang besar bagi umat Islam.
- Perbedaan dengan Talqin Setelah Kematian: Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang talqin setelah mayat dimakamkan. Sebagian ulama seperti Imam Ahmad dan para pengikutnya membolehkannya berdasarkan hadits lemah. Namun, pendapat yang lebih kuat (rajih) menurut Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ibnu Baz adalah bahwa talqin hanya dilakukan saat sakaratul maut, bukan setelah kematian, karena tidak ada dalil shahih yang mendukungnya.
Peringatan dari Ulama Salaf:
- Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Sesungguhnya setan sangat bersemangat menggoda manusia di saat kematiannya. Maka perbanyaklah menyebut Lā ilāha illallāh di sisinya."
- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sedang sakaratul maut, beliau menjawab, "Tuntunlah ia dengan Lā ilāha illallāh, dan janganlah engkau memaksanya. Cukup ucapkan di dekatnya agar ia mendengar dan mengingat."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, suatu ketika menjenguk seorang sahabat yang sedang sakit keras. Ketika tanda-tanda kematian mulai tampak, Abu Sa'id duduk di dekatnya dan dengan lembut berkata, "Wahai fulan, ucapkanlah Lā ilāha illallāh." Sahabat itu pun mengucapkannya. Setelah itu, Abu Sa'id diam dan tidak mengulang-ulang. Sahabat itu pun meninggal dalam keadaan mengucapkan kalimat tauhid.
Kisah ini menunjukkan adab dan kesabaran para sahabat dalam menuntun orang yang akan meninggal. Mereka tidak panik, tidak memaksa, dan tidak mengganggu. Mereka hanya mengingatkan dengan penuh kasih sayang, karena mereka tahu bahwa saat-saat terakhir adalah saat yang sangat menentukan nasib seseorang di akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Segera lakukan talqin ketika melihat seseorang dalam keadaan sakaratul maut.
- Ucapkan "Lā ilāha illallāh" dengan suara lembut di dekat telinganya.
- Jangan memaksa atau mengulang-ulang secara berlebihan jika ia sudah mengucapkannya.
- Doakan agar ia dipermudah sakaratul mautnya dan diakhiri dengan husnul khatimah.
- Jangan melakukan talqin setelah kematian karena tidak ada dalil shahih yang mendukungnya, kecuali mendoakan mayit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.