Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1815 tentang Keutamaan shalat empat rakaat sebelum dan sesudah zuhur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berbicara tentang keutamaan shalat sunnah rawatib: empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, yang dengannya Allah menjauhkan pelakunya dari api neraka. Namun perlu dicatat bahwa jalur riwayat ini memiliki catatan ilmiah: Imam An-Nasa'i sendiri (melalui Abu Abdur-Rahman) menyatakan bahwa Mak-hul tidak mendengar langsung dari 'Anbasah, dan ada perbedaan apakah hadits ini marfu' (disandarkan kepada Nabi ﷺ) atau mauquf (hanya perkataan sahabat). Meski demikian, maknanya dikuatkan oleh hadits-hadits lain yang shahih tentang keutamaan shalat rawatib.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Hadits utama (riwayat An-Nasa'i no. 1815)

Teks di atas menyebutkan bahwa Sa'id bin Abdul Aziz — ketika hadits ini dibacakan kepadanya dari Umm Habibah dari Nabi ﷺ — membenarkannya dan tidak mengingkarinya; tetapi ketika ia sendiri menyampaikannya, ia tidak memarfu'kannya (tidak menyandarkannya kepada Nabi ﷺ). Lalu Abu Abdur-Rahman (yaitu Imam An-Nasa'i) berkata: "Mak-hul tidak mendengar sesuatu pun dari 'Anbasah."

2. Penguat dari Al-Qur'an — perintah menjaga shalat dan memperbanyak amal

Allah berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

QS. Hud [11]: 114

Terjemahan: "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mengingat."

3. Penguat dari hadits shahih tentang shalat rawatib

Hadits Umm Habibah رضي الله عنها yang shahih, diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

"Siapa yang shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam, akan dibangunkan baginya rumah di surga." (HR. Muslim, dari Umm Habibah رضي الله عنها)

Dalam riwayat lain disebutkan rinciannya: empat sebelum Zuhur, dua setelah Zuhur, dua setelah Maghrib, dua setelah Isya, dan dua sebelum Subuh.

4. Kaitan dengan ulama

  • Imam An-Nasa'i (penyusun Sunan) sendiri memberi catatan kritis pada sanad ini — ini menunjukkan kejujuran dan ketelitian beliau dalam ilmu hadits.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam penjelasan hadits-hadits rawatib menegaskan keutamaan menjaga shalat sunnah rawatib.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna "dibangunkan rumah di surga" sebagai bentuk pemuliaan besar bagi orang yang menjaga shalat sunnah rawatib.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum

Hadits ini menyebutkan janji besar: siapa yang mengerjakan empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, Allah mengharamkan api neraka atasnya. Ini adalah bentuk fadhl (keutamaan) dari Allah bagi hamba yang rajin menjaga shalat sunnah di sekitar shalat wajib.

Catatan ilmiah pada sanad

Imam An-Nasa'i — sebagai ahli hadits yang sangat teliti — menyebutkan dua catatan:

  1. Sa'id bin Abdul Aziz kadang memarfu'kan (menyandarkan kepada Nabi ﷺ) dan kadang tidak.
  2. Mak-hul tidak mendengar langsung dari 'Anbasah bin Abi Sufyan.

Ini adalah istilah dalam ilmu hadits: ada in-qitha' (terputus) pada sanad. Namun para ulama — seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam an-Nawawi — menjelaskan bahwa hadits dengan makna seperti ini memiliki banyak jalur penguat (syawahid) dari hadits-hadits shahih lain, sehingga maknanya tetap kuat dan dapat diamalkan.

Pemahaman ulama tentang jumlah rakaat

Para ulama dari daftar yang disebutkan memiliki penjelasan:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa shalat rawatib yang muakkad (ditekankan) berjumlah 12 rakaat: 4 sebelum Zuhur, 2 setelah Zuhur, 2 setelah Maghrib, 2 setelah Isya, dan 2 sebelum Subuh. Adapun 4 rakaat setelah Zuhur termasuk yang dianjurkan dan memiliki keutamaan.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa menjaga shalat sunnah rawatib adalah tanda kecintaan seorang hamba kepada shalat wajibnya, dan merupakan penyempurna bagi kekurangan pada shalat fardhu.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa shalat sunnah rawatib memiliki keutamaan besar karena ia menyempurnakan shalat wajib dan menjadi sebab masuknya hamba ke dalam rahmat Allah.

Perbedaan pendapat tentang status hadits

Sebagian ulama menilai hadits ini lemah dari sisi sanad karena keterputusan Mak-hul dari 'Anbasah. Namun karena maknanya didukung hadits shahih lain (seperti hadits 12 rakaat rawatib dari Muslim), maka para ulama tetap menganjurkan mengamalkan shalat rawatib dengan jumlah yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Yang paling kuat adalah: keutamaan menjaga shalat rawatib itu tetap ada dan dianjurkan, berdasarkan hadits-hadits shahih yang lebih kuat sanadnya.

Story Telling

Diceritakan bahwa Umm Habibah رضي الله عنها — istri Nabi ﷺ dan putri Abu Sufyan — adalah seorang wanita yang sangat rajin beribadah. Beliau meriwayatkan hadits tentang keutamaan shalat rawatib ini, dan para ulama seperti Imam Muslim dan An-Nasa'i meriwayatkannya dari beliau. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa beliau sendiri sangat menjaga shalat sunnah rawatib, karena beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ tentang besarnya pahala bagi orang yang menjaganya.

Hikmahnya: seorang mukmin hendaknya tidak meremehkan shalat sunnah, karena ia adalah penyempurna shalat wajib dan jalan mendekat kepada Allah. Sebagaimana kata Fudhail bin 'Iyadh (seorang ulama salaf): "Amal yang paling utama adalah yang paling ikhlas dan paling benar." Shalat rawatib adalah amal yang menggabungkan keduanya bila dikerjakan dengan niat ikhlas dan mengikuti sunnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jagalah shalat sunnah rawatib, khususnya empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya (atau minimal dua rakaat setelah Zuhur sesuai hadits shahih), karena besarnya keutamaan yang dijanjikan.
  2. Ketahuilah bahwa hadits ini memiliki catatan sanad, namun maknanya dikuatkan oleh hadits shahih lain tentang 12 rakaat rawatib (HR. Muslim). Maka amalkanlah dengan tenang, tanpa ragu.
  3. Jangan meninggalkan shalat sunnah hanya karena ada perbedaan pendapat ulama tentang sanad satu hadits; selama maknanya shahih dan didukung dalil lain, amalkanlah.
  4. Belajarlah ilmu hadits agar tidak salah memahami status riwayat — sebagaimana Imam An-Nasa'i yang jujur menyebutkan catatan pada sanad hadits ini.
  5. Perbanyaklah shalat sunnah sebagai penyempurna shalat wajib dan penghapus dosa-dosa kecil, sebagaimana firman Allah dalam QS. Hud [11]: 114.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?