Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1808 tentang Keutamaan shalat sunnah dua belas rakaat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar shalat sunnah rawatib: siapa yang menjaga dua belas rakaat shalat sunnah dalam sehari (selain shalat fardhu), Allah akan membangunkan baginya rumah di surga. Dua belas rakaat ini dirinci oleh hadits lain: empat sebelum Zhuhur, dua setelah Zhuhur, dua setelah Maghrib, dua setelah Isya, dan dua sebelum Subuh. Ini adalah janji yang pasti dari Nabi ﷺ, sehingga sangat layak kita jaga dengan sungguh-sungguh.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hajj [22]: 23

وَاللَّهُ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

Terjemahan: "Dan Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di sana mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera."

Ayat ini menunjukkan bahwa amal saleh — termasuk shalat sunnah — menjadi sebab masuknya seseorang ke surga dan mendapatkan kenikmatan di dalamnya.

Hadits terkait:

Hadits utama dari Umm Habibah (istri Nabi ﷺ), diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, kitab Shalat Malam dan Sunnah Siang, no. 1808. Sanadnya: Yahya bin Habib → Hammad (bin Salamah) → 'Ashim (bin Bahdalah) → Abu Shalih (Dzakwan as-Samman) → Umm Habibah.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 728) dengan lafaz serupa, dan oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, serta An-Nasa'i. Imam Muslim meriwayatkannya dari jalur 'Anbasah bin Khalid, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Umm Habibah — jalur yang berbeda namun saling menguatkan.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil utama keutamaan shalat rawatib dua belas rakaat, dan beliau merinci pembagiannya berdasarkan hadits lain dari 'Aisyah dan Umm Habibah sendiri.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama sepakat mengamalkan hadits ini, dan perbedaan hanya pada rincian jumlah rakaat serta waktu-waktunya.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa shalat sunnah rawatib adalah "penyempurna" shalat fardhu dan menjadi sebab dibangunnya rumah di surga.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Nabi ﷺ menjanjikan bahwa siapa saja yang mengerjakan dua belas rakaat shalat sunnah dalam sehari — di luar shalat fardhu — maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga. Kata "بَنَى اللَّهُ لَهُ" (Allah membangun untuknya) menunjukkan janji yang pasti dan kemuliaan yang besar, karena yang membangun adalah Allah sendiri, dan yang dibangun adalah rumah di surga.

Rincian dua belas rakaat:

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 415) dan An-Nasa'i dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi ﷺ merinci:

  • Empat rakaat sebelum Zhuhur
  • Dua rakaat setelah Zhuhur
  • Dua rakaat setelah Maghrib
  • Dua rakaat setelah Isya
  • Dua rakaat sebelum Subuh

Totalnya dua belas rakaat. Imam at-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih, dan para ulama seperti Ibnu Hajar dalam Fathul Bari serta Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' menguatkan riwayat ini.

Pemahaman ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar shalat rawatib, dan bahwa janji "rumah di surga" adalah bentuk balasan yang sesuai dengan amal — karena seseorang yang menjaga shalat sunnah berarti menjaga hubungannya dengan Allah secara terus-menerus, maka Allah memberinya tempat tinggal yang kekal.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "dua belas rakaat" secara mutlak — yaitu shalat sunnah apa saja yang dikerjakan dua belas rakaat dalam sehari. Namun pendapat yang paling kuat adalah yang dirinci oleh hadits 'Aisyah, yaitu shalat rawatib yang mengiringi shalat fardhu. Beliau juga menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah mengamalkan hadits ini secara rinci sesuai riwayat 'Aisyah.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak — sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya — memahami bahwa dua belas rakaat itu mencakup shalat sunnah mutlak, bukan hanya rawatib. Namun Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad merincinya sebagai rawatib. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur yang merincinya sebagai rawatib, karena hadits 'Aisyah menafsirkan hadits Umm Habibah ini secara jelas.

Catatan tentang sanad:

An-Nasa'i menyebutkan bab "Perbedaan Pendapat tentang Ismail bin Abu Khalid" — ini menunjukkan bahwa beliau meneliti jalur-jalur periwayatan hadits ini dan menemukan perbedaan pada sebagian perawi. Meskipun demikian, hadits ini tetap shahih karena diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dari jalur yang kuat. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini shahih dan tidak ada keraguan tentang keabsahannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umm Habibah radhiyallahu 'anha — salah satu istri Nabi ﷺ — adalah seorang wanita yang sangat menjaga shalat sunnah. Beliau meriwayatkan hadits ini langsung dari Nabi ﷺ, dan beliau sendiri mengamalkannya. Imam an-Nawawi menyebutkan dalam Tahdzib al-Asma' bahwa Umm Habibah dikenal sebagai wanita yang banyak beribadah dan menjaga shalat malam serta shalat sunnah rawatib.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menceritakan bahwa sebagian salaf berkata: "Siapa yang ingin rumahnya dibangun di surga, maka hendaklah ia menjaga shalat sunnah rawatib." Mereka memahami hadits ini sebagai motivasi untuk tidak meninggalkan shalat sunnah, karena bangunan di surga dibangun sesuai amal seseorang.

Al-Hasan al-Bashri — seorang tabi'in yang terkenal — pernah berkata: "Shalat sunnah adalah penyempurna shalat fardhu, dan ia akan menjadi cahaya bagi seorang hamba pada hari kiamat." Beliau juga dikenal sangat menjaga shalat sunnah dan menganjurkan murid-muridnya untuk tidak meninggalkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat rawatib dua belas rakaat — empat sebelum Zhuhur, dua setelah Zhuhur, dua setelah Maghrib, dua setelah Isya, dan dua sebelum Subuh — karena ini adalah janji Nabi ﷺ yang pasti.
  2. Jangan remehkan shalat sunnah, karena ia adalah penyempurna shalat fardhu dan menjadi sebab dibangunnya rumah di surga.
  3. Mulailah dari yang paling mudah — misalnya dua rakaat sebelum Subuh dan dua setelah Maghrib — lalu tambahkan secara bertahap.
  4. Ikhlaslah dalam mengerjakannya, karena yang dinilai bukan hanya jumlah rakaat, tetapi juga keikhlasan dan kesungguhan hati.
  5. Ingatlah janji Allah ini ketika merasa malas, karena rumah di surga adalah balasan yang jauh lebih berharga dari apa pun di dunia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?