Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1799 tentang Pahala shalat dua belas rakaat sunnah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar shalat sunnah dua belas rakaat yang dikerjakan pada siang atau malam, yaitu Allah akan membangunkan rumah di surga bagi yang mengerjakannya. Hadits ini diriwayatkan dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha, dan menjadi dalil dianjurkannya memperbanyak shalat sunnah rawatib. Para ulama menjelaskan bahwa dua belas rakaat ini merujuk pada shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat wajib.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2

إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Terjemahan: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."

(QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1799), dari jalan Ya'la bin Umayyah dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ dan saudara perempuan Muawiyah serta Anbasah bin Abi Sufyan.

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim dari Ummu Habibah dengan lafaz yang menyebut dua belas rakaat sebagai shalat sunnah rawatib (dua belas rakaat dalam sehari semalam selain shalat wajib).

Keterangan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa dua belas rakaat ini adalah shalat sunnah rawatib: empat rakaat sebelum Zhuhur dan dua setelahnya, dua setelah Maghrib, dua setelah Isya, dan dua sebelum Subuh.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar shalat sunnah rawatib dan bahwa pahala membangun rumah di surga adalah janji yang pasti dari Allah.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ selalu menjaga shalat sunnah rawatib ini, dan itu menjadi bukti kesungguhan beliau dalam ibadah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa poin penting yang perlu dipahami dengan baik:

Pertama, tentang perawi hadits. Hadits ini sampai kepada kita melalui Ya'la bin Umayyah yang mengunjungi Anbasah bin Abi Sufyan saat menjelang wafat. Anbasah adalah saudara Ummu Habibah, dan ia menyampaikan wasiat dari saudarinya tentang keutamaan shalat dua belas rakaat. Ini menunjukkan betapa para sahabat saling mengingatkan tentang kebaikan hingga akhir hayat.

Kedua, tentang makna "dua belas rakaat di siang atau malam". Para ulama berbeda pendapat dalam memahami lafaz ini:

  • Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar memahami bahwa yang dimaksud adalah shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat wajib, yaitu: 4 rakaat sebelum Zhuhur, 2 setelah Zhuhur, 2 setelah Maghrib, 2 setelah Isya, dan 2 sebelum Subuh. Totalnya 12 rakaat.
  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menegaskan bahwa shalat sunnah rawatib ini sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan khusus.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mencakup shalat sunnah rawatib, dan siapa yang menjaganya akan mendapatkan janji rumah di surga.

Ketiga, tentang "dibangunkan rumah di surga". Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah janji Allah yang pasti, dan rumah di surga adalah sebaik-baik tempat tinggal. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathaiful Ma'arif menyebutkan bahwa amal shalih seperti shalat sunnah akan menjadi sebab dibangunnya tempat di surga, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.

Keempat, tentang perbedaan riwayat. An-Nasa'i menyebutkan bahwa Abu Yunus al-Qusyairi menyelisihi riwayat ini, yang menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam sanad atau lafaz. Namun, hadits ini tetap shahih dan diterima oleh para ulama.

Kelima, tentang hikmah di balik wasiat Anbasah. Ia yang sedang sekarat tetap mengingatkan tentang shalat sunnah, menunjukkan bahwa amal shalih adalah bekal terbaik menghadapi kematian. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Perbanyaklah amal shalih, karena seorang mukmin akan dibangkitkan sesuai dengan amalnya."

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ya'la bin Umayyah datang ke Thaif dan menjenguk Anbasah bin Abi Sufyan yang sedang sakit keras menjelang wafat. Ya'la melihat kegelisahan pada wajah Anbasah, lalu menghiburnya dengan berkata, "Engkau berada dalam kebaikan." Anbasah kemudian menyampaikan wasiat berharga dari saudarinya, Ummu Habibah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, tentang janji Allah bagi siapa yang shalat dua belas rakaat di siang atau malam.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa:

  • Para sahabat saling mengingatkan tentang kebaikan hingga akhir hayat.
  • Wasiat terbaik adalah wasiat tentang amal shalih.
  • Ummu Habibah adalah teladan dalam menyampaikan ilmu dan menjaga sunnah Nabi ﷺ.

Imam an-Nawawi dalam Tahdzibul Asma' menyebutkan bahwa Ummu Habibah adalah salah satu istri Nabi yang banyak meriwayatkan hadits, terutama tentang shalat sunnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jagalah shalat sunnah rawatib dua belas rakaat setiap hari, karena ini adalah amalan yang ringan namun pahalanya sangat besar.
  2. Rincian dua belas rakaat: 4 sebelum Zhuhur, 2 setelah Zhuhur, 2 setelah Maghrib, 2 setelah Isya, dan 2 sebelum Subuh.
  3. Jangan remehkan amal kecil, karena bisa jadi amal yang tampak kecil menjadi sebab dibangunnya rumah di surga.
  4. Saling mengingatkan dalam kebaikan, sebagaimana Anbasah mengingatkan Ya'la di akhir hayatnya.
  5. Jadikan shalat sunnah sebagai bekal menghadapi kematian dan kehidupan akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?