Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1794 tentang Pahala shalat sunnah dua belas rakaat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan shalat sunnah rawatib dua belas rakaat yang dikerjakan secara konsisten setiap hari: empat sebelum Zuhur, dua setelah Zuhur, dua setelah Maghrib, dua setelah Isya, dan dua sebelum Subuh. Bagi yang menjaganya dengan istiqamah, Nabi ﷺ menjanjikan masuk surga. Ini adalah janji besar yang menunjukkan betapa mulianya shalat sunnah rawatib.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Qiyam al-Lail, no. 1794, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga memiliki penguat dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha dalam Shahih Muslim dan Sunan At-Tirmidzi, yang memperkuat derajatnya.

Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan umum tentang keutamaan shalat sunnah dan pahala surga:

QS. Al-Insan [76]: 21

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

Terjemahan: "Mereka mengenakan pakaian sutra halus berwarna hijau dan sutra tebal, dan mereka diberi gelang-gelang dari perak, dan Tuhan mereka memberi mereka minuman yang bersih."

Ayat ini menggambarkan kenikmatan surga bagi orang-orang yang taat, sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa balasan surga adalah janji Allah bagi hamba-Nya yang beramal saleh.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan salah satu bentuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, yaitu shalat sunnah rawatib. Kata "ثَابَرَ" (tsābara) berarti terus-menerus, konsisten, dan tidak meninggalkannya tanpa udzur. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah menjaga shalat sunnah rawatib secara rutin, bukan sekali-sekali.

Rincian dua belas rakaat tersebut menurut hadits ini:

  1. Empat rakaat sebelum Zuhur — dikerjakan dengan dua salam (dua rakaat-dua rakaat), sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.
  2. Dua rakaat setelah Zuhur.
  3. Dua rakaat setelah Maghrib.
  4. Dua rakaat setelah Isya.
  5. Dua rakaat sebelum Subuh (Fajr).

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa shalat sunnah rawatib adalah "penyempurna" bagi shalat wajib, dan ia memiliki kedudukan istimewa karena dikerjakan berulang setiap hari. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa janji surga di sini bukan berarti meninggalkan shalat wajib, melainkan menunjukkan besarnya pahala bagi yang menjaga sunnah rawatib di samping shalat fardhu.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa istiqamah dalam amal kecil yang rutin lebih baik daripada amal besar yang jarang, karena istiqamah menunjukkan kejujuran hati dan kecintaan kepada Allah.

Terkait jumlah empat rakaat sebelum Zuhur, sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat dikerjakan dua-dua dengan salam, berdasarkan hadits lain dari Ibnu Umar yang menyebut "dua rakaat sebelum Zuhur". Namun hadits Aisyah ini menyebut "empat", dan At-Tirmidzi menyebut hadits ini hasan shahih. Pendapat yang paling kuat: boleh dikerjakan empat rakaat dengan dua salam, dan itu lebih utama.

Story Telling

Diceritakan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha adalah istri Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang shalat malam dan sunnah-sunnah Nabi di rumah. Beliau memperhatikan betul kebiasaan Nabi ﷺ, termasuk shalat-shalat sunnah yang beliau kerjakan di rumah. Dari pengamatan itulah beliau menyampaikan hadits ini kepada umat. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin hendaknya memperhatikan amal-amal kecil yang rutin, karena di situlah letak keikhlasan yang tersembunyi. Hikmahnya: jangan remehkan shalat sunnah rawatib, karena ia bisa menjadi sebab masuknya seseorang ke surga.

Kesimpulan Praktis

  1. Jagalah shalat sunnah rawatib dua belas rakaat setiap hari: 4 sebelum Zuhur, 2 setelah Zuhur, 2 setelah Maghrib, 2 setelah Isya, dan 2 sebelum Subuh.
  2. Kerjakan dengan istiqamah, meskipun sedikit, karena yang dinilai adalah konsistensinya.
  3. Jangan tinggalkan shalat wajib; shalat sunnah adalah penyempurna, bukan pengganti.
  4. Niatkan untuk mencari ridha Allah dan masuk surga sebagaimana janji Nabi ﷺ.
  5. Jika belum mampu semuanya, mulailah dari yang paling mudah, terutama dua rakaat sebelum Subuh yang paling ditekankan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi