Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1786), dari jalur Sa'id bin Jubair dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Isinya hanya menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, lalu perawi berkata "فَذَكَرَ نَحْوَهُ" (lalu beliau menyebutkan hadits yang serupa dengan hadits sebelumnya). Artinya, matan lengkapnya ada pada hadits sebelum ini dalam kitab yang sama. Imam an-Nasa'i sendiri memberi catatan bahwa Abu Ja'far ar-Razi (perawi dalam sanad ini) tidak kuat dalam hadits. Maka hadits ini dipakai sebagai penguat, bukan sandaran utama.
Rujukan Ulama & Dalil
Karena hadits ini matannya diringkas ("serupa dengan sebelumnya"), kita perlu melihat konteks bab dan hadits sebelumnya. Bab ini berada dalam Kitab Qiyam al-Lail wa Tathawwu' an-Nahar (Shalat Malam dan Shalat Sunnah di Siang Hari). Hadits-hadits dalam bab ini berbicara tentang shalat malam Nabi ﷺ dan witir.
Dalil umum yang menjadi pokok bahasan bab ini antara lain:
QS. Al-Isra' [17]: 79
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha (diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim) bahwa Nabi ﷺ shalat malam dengan witir, dan beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
"Sesungguhnya Allah itu Witr (Maha Ganjil), dan Dia mencintai yang ganjil."
(HR. al-Bukhari dan Muslim; disebutkan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim)
Kaitan dengan ulama daftar:
- Imam an-Nasa'i sendiri (dalam Sunan-nya) — beliau menilai Abu Ja'far ar-Razi "لَيْسَ بِالْقَوِيِّ فِي الْحَدِيثِ" (tidak kuat dalam hadits).
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Tahdzib at-Tahdzib dan Adz-Dzahabi dalam Mizan al-I'tidal juga membahas kelemahan Abu Ja'far ar-Razi.
- Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan keutamaan witir dan shalat malam.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan sanad hadits ini.
Sanadnya: Ahmad bin Nashr → Yahya bin Abi Bukair → Abu Ja'far ar-Razi → Muhammad bin al-Munkadir → Sa'id bin Jubair → 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Imam an-Nasa'i secara tegas menyatakan bahwa Abu Ja'far ar-Razi (namanya 'Isa bin Mahan) tidak kuat dalam hadits. Ini adalah bentuk kejujuran ilmiah Imam an-Nasa'i — beliau tetap meriwayatkan hadits, tetapi memberi catatan agar pembaca berhati-hati. Ini sesuai kaidah ulama hadits seperti Yahya bin Ma'in dan Ali bin al-Madini yang selalu menjelaskan keadaan perawi.
2. Mengapa matannya diringkas?
Kalimat "فَذَكَرَ نَحْوَهُ" adalah cara Imam an-Nasa'i meringkas hadits karena matannya sudah disebutkan sebelumnya. Ini kebiasaan ulama hadits seperti al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud — mereka menyebutkan satu matan lengkap, lalu hadits-hadits berikutnya cukup dikatakan "serupa". Tujuannya: memperbanyak jalur periwayatan (syawahid) untuk menguatkan makna.
3. Isi kandungan bab.
Bab ini berbicara tentang shalat malam dan witir. Hadits 'Aisyah yang menjadi pokok bab ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengerjakan shalat malam, dan witir sebagai penutupnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa witir disyariatkan dan waktunya memanjang hingga fajar. Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj menegaskan bahwa witir adalah sunnah muakkadah yang tidak boleh ditinggalkan.
4. Sikap ilmiah terhadap hadits dha'if.
Karena sanadnya dinilai lemah oleh Imam an-Nasa'i sendiri, maka hadits ini tidak dijadikan sandaran utama. Namun maknanya tetap sahih karena didukung hadits-hadits shahih lain tentang witir dan shalat malam dari 'Aisyah, Ibnu 'Umar, dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhum. Syeikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil dan Shahih Sunan an-Nasa'i menjelaskan bahwa hadits ini lemah dari sisi sanad, tetapi maknanya shahih karena ada penguat.
5. Perbedaan pendapat ulama daftar.
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang keutamaan witir dan shalat malam — semuanya sepakat. Yang menjadi catatan hanyalah status sanad hadits ini, dan di sini Imam an-Nasa'i, Ibnu Hajar, serta Adz-Dzahabi sepakat bahwa Abu Ja'far ar-Razi lemah. Yang paling kuat: hadits ini dha'if sanadnya, tetapi maknanya shahih karena syawahid.
Story Telling
Diceritakan bahwa Sa'id bin Jubair (seorang tabi'in, murid Ibnu 'Abbas) pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang shalat malam Nabi ﷺ. 'Aisyah menjawab dengan rinci: Nabi ﷺ tidur di awal malam, lalu bangun dan shalat, dan beliau menutup dengan witir. Sa'id bin Jubair sangat teliti dalam meriwayatkan — sampai-sampai Muhammad bin Sirin dan Al-Hasan al-Bashri memuji keilmuan Sa'id bin Jubair. Dari ketelitian inilah para ulama seperti Imam an-Nasa'i mengumpulkan riwayat-riwayat tentang shalat malam, meski sebagian jalurnya lemah, agar umat mengetahui sunnah ini dari banyak sisi.
Hikmahnya: para ulama tidak menyembunyikan kelemahan sanad, tetapi tetap menyampaikan ilmu agar umat tahu. Inilah adab Ahlus Sunnah — jujur dalam riwayat, amanah dalam penilaian.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini dha'if sanadnya menurut penilaian Imam an-Nasa'i sendiri, karena Abu Ja'far ar-Razi tidak kuat dalam hadits.
- Maknanya shahih karena didukung hadits-hadits shahih lain tentang witir dan shalat malam.
- Hendaknya kita menjaga shalat malam dan witir, karena itu sunnah yang sangat ditekankan.
- Hendaknya kita beradab terhadap hadits dha'if — tidak menjadikannya sandaran utama, tetapi tidak pula menolak maknanya jika didukung dalil shahih.
- Bila menemukan hadits yang statusnya diperselisihkan, kembalikan kepada ulama terpercaya dan jangan memaksakan penilaian sendiri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.