Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi teguran lembut Nabi ﷺ kepada Abdullah bin Amr agar tidak meniru orang yang dahulu rajin shalat malam lalu meninggalkannya. Qiyamul Lail (shalat malam) adalah ibadah sunnah yang sangat agung, dan meninggalkannya setelah terbiasa melakukannya adalah perkara yang dicela. Hendaknya seorang muslim menjaga amal shalihnya secara istiqamah, meskipun sedikit.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (Sunan An-Nasa'i no. 1764, Kitab Qiyamul Lail, Bab Mencela Orang yang Meninggalkan Qiyamul Lail), dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَكُنْ يَا عَبْدَ اللَّهِ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
"Janganlah engkau wahai Abdullah seperti si Fulan; dia dahulu shalat malam, lalu dia meninggalkan shalat malam."
Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar celaan meninggalkan amal shalih:
QS. Al-Hijr [15]: 99
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian)."
Dalil tentang amal yang paling dicintai Allah adalah yang istiqamah:
Hadits dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus (istiqamah), walaupun sedikit." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran istiqamah dalam amal dan larangan meninggalkan amal shalih yang sudah menjadi kebiasaan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa menyebut "si Fulan" tanpa nama adalah cara Nabi ﷺ menutupi aib orang tersebut (sittir).
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menekankan pentingnya menjaga amal malam, karena qiyamul lail adalah kebiasaan orang-orang shalih.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i melalui jalur Al-Awza'i (Imam Al-Awza'i, seorang ulama besar Syam abad ke-2 H yang termasuk dalam daftar ulama rujukan) dari Yahya bin Abi Katsir, dari Umar bin al-Hakam bin Tsauban, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash.
Makna hadits:
- Nabi ﷺ menegur dengan lembut. Beliau tidak menyebut nama orang yang meninggalkan qiyamul lail, tetapi menyebutnya "si Fulan". Ini menunjukkan adab Islam dalam menutupi aib (sittir). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah bentuk nasihat tanpa mempermalukan.
- Qiyamul Lail adalah amal yang agung. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menyebutkan bahwa shalat malam adalah kebiasaan para nabi, shiddiqin, dan salafus shalih. Allah memuji orang-orang yang bangun malam dalam QS. Al-Furqan [25]: 64 dan QS. As-Sajdah [32]: 16.
- Meninggalkan amal setelah terbiasa adalah cela. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan meninggalkan amal shalih yang sudah menjadi kebiasaan, karena hal itu bisa menjadi tanda melemahnya iman dan hilangnya keberkahan.
- Istiqamah lebih penting daripada banyak amal. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip hadits 'Aisyah bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang istiqamah, meskipun sedikit. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa setan paling senang ketika seorang hamba berhenti dari amal shalih.
- Perbedaan pendapat ulama: Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa qiyamul lail hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan wajib. Namun meninggalkannya setelah terbiasa tanpa uzur syar'i adalah perkara yang dicela. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Qayyim dan an-Nawawi.
Pelajaran penting:
- Jangan meninggalkan amal shalih yang sudah menjadi kebiasaan, terutama qiyamul lail.
- Jika seseorang merasa lemah, hendaknya mengurangi, bukan meninggalkan sama sekali.
- Menutupi aib orang lain saat menasihati adalah adab Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma adalah sahabat yang sangat rajin beribadah. Beliau pernah berpuasa terus-menerus dan shalat malam sepanjang malam. Nabi ﷺ menegurnya agar tidak berlebihan, dan mengajarkan beliau untuk berpuasa dan berbuka, shalat malam dan tidur.
Suatu hari, Nabi ﷺ menyampaikan hadits ini kepada beliau sebagai peringatan: jangan sampai beliau meniru orang yang dahulu rajin qiyamul lail lalu meninggalkannya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan kondisi ruhani para sahabatnya, dan mengingatkan mereka agar tidak lengah dalam menjaga amal.
Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menyebutkan kisah ini sebagai pelajaran bahwa istiqamah dalam amal adalah tanda kejujuran seorang hamba kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jaga qiyamul lail, meskipun hanya dua rakaat, karena amal yang istiqamah lebih dicintai Allah.
- Jangan meninggalkan amal shalih yang sudah menjadi kebiasaan, karena itu bisa menjadi pintu masuknya setan.
- Jika lemah, kurangi bukan tinggalkan — misalnya shalat malam dua rakaat saja, atau witir satu rakaat.
- Tutupi aib orang lain saat menasihati, sebagaimana Nabi ﷺ menyebut "si Fulan" tanpa nama.
- Bertaubat dan kembali jika pernah meninggalkan amal shalih, karena Allah menerima taubat hamba-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.