Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan bahwa Nabi ﷺ dalam shalat witir membaca tiga surah: Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas. Setelah selesai (yakni setelah salam), beliau mengucapkan: "Subhaanal-Malikil-Qudduus" (Maha Suci Raja Yang Maha Suci). Ini menunjukkan sunnahnya berdzikir dengan kalimat tersebut setelah witir, dan para ulama menjelaskan bahwa kalimat ini diucapkan dengan suara yang dikeraskan pada saat tertentu sebagai pengajaran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i (wafat 303 H) dalam Sunan-nya, kitab Qiyam Al-Lail, bab Tasbih setelah witir. Sanadnya: Muhammad bin Al-Mutsanna → Abdul Aziz bin Abdush-Shamad → Sa'id (bin Abi 'Arubah) → Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in, termasuk dalam daftar ulama rujukan) → 'Azrah → Sa'id bin Abdurrahman bin Abza → dari ayahnya (Abdurrahman bin Abza, seorang sahabat).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menilainya hasan. An-Nasa'i sendiri meriwayatkannya dalam beberapa jalur.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan surah-surah yang dibaca dalam witir:
QS. Al-A'la [87]: 1
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."
QS. Al-Kafirun [109]: 1
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
"Katakanlah: 'Hai orang-orang kafir.'"
QS. Al-Ikhlas [112]: 1
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
"Katakanlah: 'Dialah Allah, Yang Maha Esa.'"
Penjelasan Rinci
Pertama: Surah-surah yang dibaca dalam witir.
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca tiga surah secara berurutan dalam tiga rakaat witir:
- Rakaat pertama: Sabbihisma Rabbikal-A'la (Al-A'la)
- Rakaat kedua: Qul Yaa Ayyuhal-Kaafiruun (Al-Kafirun)
- Rakaat ketiga: Qul Huwallahu Ahad (Al-Ikhlas)
Imam An-Nasa'i memasukkan hadits ini dalam bab khusus tentang witir, menunjukkan perhatian beliau terhadap sunnah ini. At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits serupa dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan beliau menyatakan bahwa amalan ini adalah yang diamalkan oleh mayoritas ahli ilmu.
Kedua: Dzikir setelah witir.
Setelah selesai witir dan mengucapkan salam, Nabi ﷺ mengucapkan:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
"Maha Suci Raja Yang Maha Suci."
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa disunnahkan bagi orang yang witir untuk mengucapkan "Subhaanal-Malikil-Qudduus" setelah salam, dan sebagian ulama menambahkan mengangkat suara pada ucapan ketiga. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya dzikir tersebut, dan beliau mengutip riwayat lain yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkannya tiga kali, dengan suara dikeraskan pada kali ketiga.
Ketiga: Perbedaan pendapat tentang jumlah ucapan.
Dalam riwayat lain (seperti riwayat Abu Dawud dan An-Nasa'i dari jalur lain), disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan "Subhaanal-Malikil-Qudduus" tiga kali, dan pada ucapan ketiga beliau mengeraskan suaranya. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami pengulangan tiga kali sebagai penegasan, dan mengeraskan suara pada kali ketiga sebagai isyarat agar para makmum atau yang mendengar dapat mengambil pelajaran.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaadul Ma'ad menjelaskan bahwa dzikir setelah witir ini termasuk dzikir yang dilakukan setelah selesai shalat malam, dan beliau menegaskan bahwa Nabi ﷺ menjaga amalan ini secara rutin.
Keempat: Hikmah dan makna kalimat.
Kalimat "Subhaanal-Malikil-Qudduus" mengandung pujian kepada Allah dengan dua nama-Nya:
- Al-Malik (Raja): Yang menguasai segala sesuatu, yang kerajaan-Nya tidak akan pernah binasa.
- Al-Qudduus (Yang Maha Suci): Yang bersih dari segala kekurangan dan cacat.
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menyebut Allah dengan "Al-Malik" dan "Al-Qudduus" adalah bentuk pengagungan yang paling tinggi, karena menggabungkan antara kekuasaan mutlak dan kesucian sempurna.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Abza radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat Nabi ﷺ — memperhatikan dengan seksama bagaimana Nabi ﷺ melaksanakan shalat malam dan witir. Beliau tidak hanya menghafal gerakan dan bacaan, tetapi juga mencatat dzikir yang diucapkan Nabi ﷺ setelah selesai. Perhatian beliau yang teliti ini kemudian menjadi warisan ilmu bagi umat Islam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Qatadah (seorang Tabi'in) dari 'Azrah, hingga sampai kepada An-Nasa'i yang membukukannya.
Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, seorang Tabi'in yang dikenal sebagai ahli tafsir dan hadits, meriwayatkan hadits ini dengan penuh amanah. Beliau adalah salah satu ulama yang disebutkan dalam daftar rujukan, dan riwayat beliau menjadi rujukan penting dalam masalah shalat malam.
Hikmahnya: perhatian para sahabat dan Tabi'in terhadap detail ibadah Nabi ﷺ menunjukkan betapa mereka sangat menjaga sunnah, bahkan dalam hal dzikir singkat setelah witir. Ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan amalan kecil, karena bisa jadi amalan kecil itu memiliki keutamaan besar di sisi Allah.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah tiga surah ini dalam witir: Al-A'la pada rakaat pertama, Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan Al-Ikhlas pada rakaat ketiga.
- Setelah salam witir, ucapkanlah "Subhaanal-Malikil-Qudduus" — ini adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Boleh mengulanginya tiga kali, dan pada kali ketiga boleh mengeraskan suara, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain.
- Jangan tinggalkan witir, karena Nabi ﷺ selalu menjaganya, baik dalam perjalanan maupun di rumah.
- Renungkan makna kalimat dzikir ini: Allah adalah Raja Yang Maha Suci, yang kekuasaan-Nya mutlak dan kesucian-Nya sempurna.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.