Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1753 tentang Bacaan surat dan tasbih setelah shalat witr

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua sunnah dalam shalat witr: (1) membaca surat Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas secara berurutan, dan (2) setelah salam witr mengucapkan "Subhanal-Malikil-Quddus" tiga kali dengan memanjangkan suara pada ucapan ketiga. Ini adalah petunjuk Nabi ﷺ yang diamalkan para ulama Ahlus Sunnah dan disepakati sebagai sunnah yang dianjurkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Sunan An-Nasa'i no. 1753, dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abza (sahabat Nabi ﷺ), melalui jalur Zubaid bin Al-Harits, dari Dzarr bin Abdullah, dari Sa'id bin Abdurrahman bin Abza, dari ayahnya.

Hadits pendukung — Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud (no. 1430), At-Tirmidzi (no. 463), dan Ibn Majah (no. 1173) dengan lafaz serupa. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan." Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya membaca tiga surat tersebut dalam witr.

Ayat yang dibaca dalam witr:

QS. Al-A'la [87]: 1

```

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

```

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."

QS. Al-Kafirun [109]: 1

```

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

```

"Katakanlah: 'Hai orang-orang kafir.'"

QS. Al-Ikhlas [112]: 1

```

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

```

"Katakanlah: 'Dialah Allah, Yang Maha Esa.'"

Kaitan ulama:

  • Imam An-Nawawi (Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab) menegaskan sunnahnya membaca tiga surat ini dalam witr berdasarkan hadits ini dan hadits dari Ubay bin Ka'b.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari) menyebutkan bahwa membaca tiga surat ini adalah sunnah yang tetap dari Nabi ﷺ.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah (Zadul Ma'ad) menyebutkan bahwa Nabi ﷺ konsisten membaca tiga surat ini dalam witr sepanjang hidupnya.
  • Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya menegaskan bahwa dzikir "Subhanal-Malikil-Quddus" setelah witr adalah sunnah yang shahih.

Penjelasan Rinci

Pertama: Membaca tiga surat dalam witr

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ secara rutin membaca tiga surat tertentu dalam shalat witr secara berurutan:

  1. Sabbihisma Rabbikal-A'la (Al-A'la) — mengandung tauhid, perintah mensucikan Allah, dan peringatan tentang kehidupan akhirat.
  2. Qul Ya Ayyuhal-Kafirun (Al-Kafirun) — berisi pemisahan total dari kesyirikan dan loyalitas hanya kepada Allah.
  3. Qul Huwallahu Ahad (Al-Ikhlas) — inti tauhid dan pengesaan Allah.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan hikmahnya: ketiga surat ini mencakup pokok-pokok tauhid — mensucikan Allah, berlepas diri dari kesyirikan, dan mengesakan Allah. Karena witr adalah penutup shalat malam, maka ditutup dengan surat-surat yang mengandung inti aqidah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami bahwa membaca tiga surat ini dalam satu rakaat witr adalah sunnah, dan sebagian lain membacanya tersebar di tiga rakaat jika witr dikerjakan tiga rakaat. Namun yang paling kuat — dan ini pendapat Imam An-Nawawi dan Ibn Qayyim — adalah bahwa jika witr dikerjakan satu rakaat, ketiganya dibaca dalam satu rakaat; jika tiga rakaat, masing-masing surat dibaca pada tiap rakaat.

Kedua: Dzikir "Subhanal-Malikil-Quddus" setelah salam

Setelah salam witr, Nabi ﷺ mengucapkan:

```

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

```

"Maha Suci Allah, Sang Raja Yang Maha Suci."

Diucapkan tiga kali, dan pada ucapan ketiga beliau memanjangkan suaranya (madd) lalu mengangkatnya. Para ulama menjelaskan makna "memperpanjang suara pada kali ketiga" dengan beberapa tafsiran:

  • Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu': memanjangkan suara menunjukkan penekanan dan kekhusyukan, bukan berarti menjadikannya sebagai seruan atau nyanyian.
  • Ibn Qayyim dalam Zadul Ma'ad: ini menunjukkan bahwa dzikir tersebut diucapkan dengan suara yang jelas, bukan bisikan, sebagai bentuk pengagungan.
  • Syeikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa memanjangkan suara pada kali ketiga adalah sunnah yang shahih, dan tidak boleh diingkari.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Imam An-Nawawi dan Ibn Qayyim berpendapat bahwa dzikir ini diucapkan setelah salam witr, baik witr dikerjakan sendiri maupun berjamaah.
  • Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami bahwa dzikir ini diucapkan dengan suara keras (jahr) dan sebagian dengan suara pelan. Namun Ibn Qayyim menguatkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkannya dengan suara yang didengar oleh orang di sekitarnya, karena beliau memanjangkan suara pada kali ketiga.
  • Syeikh al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah menilai hadits ini shahih dan menegaskan bahwa dzikir ini adalah sunnah yang tetap.

Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa dzikir ini diucapkan tiga kali setelah salam witr, dengan memanjangkan suara pada kali ketiga, baik witr dikerjakan sendiri maupun berjamaah, dan tidak ada dalil yang melarangnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abdurrahman bin Abza — seorang sahabat Nabi ﷺ — memperhatikan kebiasaan Nabi ﷺ dalam shalat malam. Ia melihat bahwa Nabi ﷺ selalu membaca tiga surat tersebut dalam witr, dan setelah salam beliau mengucapkan "Subhanal-Malikil-Quddus" tiga kali dengan suara yang memanjang pada kali ketiga.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menceritakan bahwa para sahabat dan tabi'in sangat memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ, termasuk dzikir setelah witr. Al-Hasan al-Bashri — seorang tabi'in yang terkenal — pernah ditanya tentang dzikir setelah witr, dan beliau menjawab: "Itu adalah sunnah yang diamalkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya."

Sufyan ats-Tsauri — yang disebut dalam bab hadits ini — juga meriwayatkan hadits ini dan mengamalkannya. Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata: "Aku tidak pernah meninggalkan dzikir ini setelah witr sejak aku mendengarnya dari Sufyan." Ini menunjukkan betapa para ulama salaf sangat menjaga sunnah-sunnah kecil dalam ibadah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah surat Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas dalam shalat witr, baik witr satu rakaat maupun tiga rakaat.
  2. Setelah salam witr, ucapkanlah "Subhanal-Malikil-Quddus" tiga kali.
  3. Panjangkan suara pada ucapan ketiga sebagai bentuk pengagungan dan penekanan.
  4. Jangan tinggalkan dzikir ini meskipun witr dikerjakan sendiri, karena ini adalah sunnah yang shahih dari Nabi ﷺ.
  5. Ajarkanlah kepada keluarga dan orang-orang terdekat, karena ini termasuk sunnah yang mudah diamalkan namun besar pahalanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?