Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1750 tentang Bacaan dan zikir setelah shalat witir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan sunnah Nabi ﷺ dalam shalat witir: membaca tiga surah tertentu (Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas) pada rakaat-rakaatnya, lalu setelah salam mengucapkan "Subhanal-Malikil-Quddus" tiga kali dengan suara yang diangkat. Ini menunjukkan dzikir setelah witir yang dianjurkan, dan para ulama berbeda pendapat apakah diucapkan dengan suara keras atau lirih.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Al-A'la [87]: 1

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."

QS. Al-Kafirun [109]: 1

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

"Katakanlah: Hai orang-orang kafir."

QS. Al-Ikhlas [112]: 1

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

"Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Qiyam Al-Lail, no. 1750, dari Abdurrahman bin Abza radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Ahmad bin Harb → Qasim → Sufyan (ats-Tsauri) → Zubaid → Sa'id bin Abdurrahman bin Abza → dari ayahnya.

Hadits serupa juga diriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' membahasnya dalam konteks dzikir setelah witir.

Penjelasan Rinci

1. Surah yang dibaca dalam witir

Nabi ﷺ membaca tiga surah ini secara berurutan:

  • Rakaat pertama: Sabbihisma Rabbikal-A'la (Al-A'la)
  • Rakaat kedua: Qul Ya Ayyuhal-Kafirun (Al-Kafirun)
  • Rakaat ketiga: Qul Huwallahu Ahad (Al-Ikhlas)

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa ini adalah sunnah yang tetap, dan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa hikmahnya: Al-A'la mengandung tauhid rububiyah, Al-Kafirun mengandung berlepas diri dari syirik, dan Al-Ikhlas mengandung tauhid uluhiyah — sehingga witir menjadi penutup malam yang sempurna dalam tauhid.

2. Dzikir "Subhanal-Malikil-Quddus" setelah salam

Setelah salam, Nabi ﷺ mengucapkan:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

"Maha Suci Sang Raja, Yang Maha Suci."

Diucapkan tiga kali, dan pada kali ketiga beliau mengangkat suaranya. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa mengangkat suara pada kali ketiga adalah untuk membangunkan orang yang tidur atau mengingatkan yang lalai, bukan untuk riya.

3. Perbedaan pendapat ulama tentang mengeraskan suara

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa dzikir ini boleh diucapkan dengan suara keras pada kali ketiga, berdasarkan zhahir hadits.
  • Imam Abu Hanifah dan Imam Malik cenderung memahami bahwa mengangkat suara hanya dilakukan sesekali untuk mengajar, dan pada umumnya dzikir dilakukan lirih.
  • Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa mengeraskan suara dalam dzikir setelah witir adalah sunnah yang tsabit, namun tidak boleh dijadikan kebiasaan yang mengganggu orang lain.

Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat asy-Syafi'i dan Ahmad: mengeraskan suara pada kali ketiga adalah sunnah, karena hadits ini shahih dan tidak ada dalil yang menasakhnya.

4. Kaitan dengan bab "Tasybih setelah witir"

An-Nasa'i meletakkan hadits ini dalam bab khusus untuk menunjukkan bahwa dzikir ini adalah bagian dari sunnah witir, bukan sekadar dzikir umum. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa menutup malam dengan tasbih adalah tanda mengagungkan Allah sebagai Raja Yang Maha Suci.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Abza radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang meriwayatkan hadits ini — adalah salah satu sahabat yang dikenal menjaga shalat malam. Ia meriwayatkan langsung dari Nabi ﷺ tentang tata cara witir ini, dan haditsnya diterima oleh para ulama besar seperti Sufyan ats-Tsauri yang meriwayatkannya dalam sanad ini.

Sufyan ats-Tsauri — seorang tabi'ut tabi'in yang sangat teliti dalam hadits — meriwayatkan hadits ini dengan penuh kehati-hatian, menunjukkan bahwa amalan ini benar-benar diamalkan oleh salaf. Abdullah bin al-Mubarak juga dikenal mengamalkan dzikir setelah witir ini dan mengajarkannya kepada murid-muridnya.

Hikmahnya: amalan kecil seperti tasbih tiga kali setelah witir, jika dilakukan dengan ikhlas dan mengikuti sunnah, bisa menjadi penutup malam yang penuh berkah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas dalam tiga rakaat witir.
  2. Setelah salam, ucapkan "Subhanal-Malikil-Quddus" tiga kali.
  3. Angkat suara pada kali ketiga, terutama jika ada yang perlu dibangunkan atau diingatkan.
  4. Jangan berlebihan dalam mengeraskan suara hingga mengganggu orang lain.
  5. Ikhlaslah — dzikir ini bukan untuk pamer, tetapi untuk mengagungkan Allah Yang Maha Suci.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?