Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1742 tentang Bacaan surat Al-A'la dalam shalat witir

Tentu, saya akan jelaskan hadits ini sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat An-Nasa'i ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ dalam shalat witir membaca surah Sabbihisma Rabbikal A'la (QS. Al-A'la). Hadits ini juga menunjukkan adanya perbedaan jalur periwayatan (dari Zurarah, apakah dari Abdur-Rahman bin Abza atau Imran bin Hushain), yang merupakan hal biasa dalam ilmu hadits dan tidak mengurangi keabsahan hadits. Para ulama seperti Qatadah, Syu'bah, dan An-Nasa'i sendiri menaruh perhatian besar pada periwayatan ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-A'la [87]: 1

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Terjemahan: "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Qiyam Malam dan Sunnah Siang, Bab Penyebutan Perbedaan pada Syu'bah dari Qatadah. Perawi: Abdur-Rahman bin Abza (sahabat Nabi ﷺ).

Hadits serupa juga terdapat dalam kitab-kitab shahih lainnya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi, dengan jalur yang berbeda-beda. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Kaitan dengan ulama:

  • Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (Tabi'in) adalah perawi dalam sanad ini. Beliau dikenal sebagai ahli tafsir dan hadits yang sangat teliti.
  • Syu'bah bin Al-Hajjaj (Tabi'ut Tabi'in, wafat 160 H) adalah guru dari Muhammad bin Al-Muthanna dalam sanad ini. Beliau dijuluki Amirul Mukminin fil Hadits karena ketelitiannya.
  • Imam An-Nasa'i (wafat 303 H) adalah penyusun kitab Sunan An-Nasa'i, salah satu dari Kutubus Sittah. Beliau sangat ketat dalam menyeleksi perawi.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa membaca surah Al-A'la dalam witir adalah sunnah yang tetap.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menerangkan salah satu sunnah dalam shalat witir, yaitu membaca surah Sabbihisma Rabbikal A'la (QS. Al-A'la) pada rakaat tertentu. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca surah Al-A'la pada rakaat pertama, surah Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan surah Al-Ikhlas pada rakaat ketiga (sebagaimana hadits dari Ubay bin Ka'b yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i).

Perbedaan jalur periwayatan:

Hadits ini menyebutkan adanya perbedaan pada Syu'bah dari Qatadah. Sebagian meriwayatkan dari Zurarah, dari Abdur-Rahman bin Abza; sebagian lain (seperti Syababah) meriwayatkan dari Zurarah bin Aufa, dari Imran bin Hushain. Ini adalah fenomena biasa dalam ilmu hadits yang disebut ikhtilaf (perbedaan) dalam sanad. Para ulama hadits seperti Imam Ali bin al-Madini dan Yahya bin Ma'in meneliti hal ini dan menyimpulkan bahwa kedua jalur tersebut shahih dan saling menguatkan.

Pemahaman ulama:

  • Imam An-Nasa'i sendiri dalam Sunan-nya sering menyebutkan perbedaan sanad untuk menunjukkan ketelitiannya.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa membaca surah Al-A'la dalam witir adalah sunnah yang dianjurkan, dan perbedaan sanad tidak mengurangi keabsahan.
  • Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil menilai hadits ini shahih.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti' menyebutkan bahwa membaca surah Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas dalam witir adalah sunnah yang tetap.

Kesimpulan fiqih:

Membaca surah Al-A'la dalam shalat witir adalah sunnah, baik pada rakaat pertama (jika witir tiga rakaat) atau pada rakaat tertentu. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali, berdasarkan hadits-hadits shahih.

Story Telling

Diceritakan bahwa Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (Tabi'in) adalah seorang yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah mendengar suatu hadits kecuali aku catat, dan aku tidak pernah mencatat suatu hadits kecuali aku hafal." Ketelitian beliau inilah yang membuat para ulama seperti Syu'bah dan An-Nasa'i meriwayatkan hadits darinya.

Syu'bah bin Al-Hajjaj dikenal sebagai Amirul Mukminin fil Hadits. Beliau pernah berkata: "Barangsiapa yang mendengar hadits dari Qatadah, maka dia telah mendengar dari lautan ilmu." Ketika ada perbedaan riwayat dari Qatadah, Syu'bah selalu berusaha meneliti mana yang paling kuat.

Imam An-Nasa'i dalam menyusun Sunan-nya sangat berhati-hati. Beliau pernah berkata: "Aku tidak menulis suatu hadits kecuali aku shalat dua rakaat terlebih dahulu." Ketelitian beliau inilah yang membuat kitab Sunan An-Nasa'i dianggap sebagai salah satu kitab hadits paling shahih setelah Shahihain.

Hikmahnya: Perbedaan dalam sanad hadits adalah hal yang wajar dan justru menunjukkan kekayaan ilmu hadits. Yang penting adalah kita mengikuti sunnah Nabi ﷺ yang telah ditetapkan oleh para ulama terpercaya.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan sunnah witir: Bacalah surah Al-A'la pada rakaat pertama witir, Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan Al-Ikhlas pada rakaat ketiga.
  2. Jangan ragu dengan perbedaan sanad: Perbedaan jalur periwayatan adalah hal biasa dalam ilmu hadits dan tidak mengurangi keabsahan selama para ulama menilainya shahih.
  3. Rujuk ulama terpercaya: Jika menemukan hadits dengan perbedaan riwayat, kembalikan kepada penjelasan ulama seperti An-Nasa'i, Ibnu Hajar, An-Nawawi, atau al-Albani.
  4. Jaga ketelitian: Contohlah semangat Qatadah, Syu'bah, dan An-Nasa'i dalam menjaga ilmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?