Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1720 tentang Shalat witir sembilan rakaat tanpa salam di rakaat kedelapan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan cara shalat malam (witir) Nabi ﷺ dengan sembilan rakaat: beliau tidak duduk tasyahud kecuali pada rakaat kedelapan, lalu berdoa dan memuji Allah, kemudian berdiri lagi untuk rakaat kesembilan, baru salam di akhir. Setelah itu beliau shalat dua rakaat lagi dalam keadaan duduk. Ini menunjukkan betapa panjang dan khusyuknya shalat malam beliau, serta bolehnya shalat sunnah sambil duduk.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Qiyamul Lail (Shalat Malam), Bab "Cara Witir dengan Sembilan Rakaat", dari jalur Sa'd bin Hisham dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Jalur periwayatannya: Harun bin Ishaq ← 'Abdah ← Sa'id (bin Abi 'Arubah) ← Qatadah bin Di'amah as-Sadusi ← Zurarah bin Aufa ← Sa'd bin Hisham ← Aisyah.

Hadits ini juga memiliki asal dalam Shahih Muslim dari jalur yang sama (dari Aisyah tentang shalat malam Nabi ﷺ), dan Imam An-Nawawi menjelaskan maknanya dalam Syarh Shahih Muslim.

Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan umum shalat malam:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

QS. Al-Isra' [17]: 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

QS. Al-Muzzammil [73]: 20 (potongan yang relevan):

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ

"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya."

Penjelasan Rinci

1. Makna hadits secara umum

Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan kebiasaan rumah tangga Nabi ﷺ: beliau tidur, lalu Allah membangunkan beliau di malam hari. Hal pertama yang beliau lakukan adalah bersiwak (membersihkan gigi) dan berwudhu, lalu shalat. Ini menunjukkan adab mulia: menghadap Allah dalam keadaan bersih dan segar.

2. Sembilan rakaat dan cara duduknya

Nabi ﷺ shalat sembilan rakaat dengan cara khusus: beliau tidak duduk tasyahud pada rakaat pertama sampai ketujuh, lalu duduk pada rakaat kedelapan untuk memuji Allah, bershalawat kepada Nabi ﷺ, dan berdoa — tanpa salam. Kemudian beliau berdiri lagi untuk rakaat kesembilan, duduk, memuji Allah, bershalawat, berdoa, lalu salam yang terdengar oleh Aisyah.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah salah satu bentuk shalat witir yang sah, dan bahwa duduk pada rakaat kedelapan bukanlah tasyahud akhir, melainkan duduk untuk berdoa dan memuji Allah sebelum menyempurnakan rakaat kesembilan. Ini menunjukkan bolehnya berdoa dan memuji Allah di tengah shalat pada tempat duduk tertentu, sebagaimana dipahami para ulama.

3. Shalat dua rakaat setelahnya dalam keadaan duduk

Setelah salam, Nabi ﷺ shalat dua rakaat lagi dalam keadaan duduk. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan bolehnya shalat sunnah sambil duduk, meskipun pahalanya setengah dari shalat berdiri bagi yang mampu berdiri — kecuali jika ada uzur. Namun karena Nabi ﷺ melakukannya, maka itu menjadi sunnah yang boleh diikuti, terutama untuk menunjukkan keringanan (rukhshah) bagi umat.

4. Perbedaan pendapat ulama dalam daftar

Di antara ulama yang tercantum, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah membahas bentuk-bentuk witir yang berbeda (satu, tiga, lima, tujuh, sembilan). Imam asy-Syafi'i dan Imam Malik juga memiliki rincian tentang witir. Namun kesimpulannya: cara sembilan rakaat dengan duduk pada rakaat kedelapan adalah sah dan pernah dipraktikkan Nabi ﷺ, sehingga boleh diamalkan, terutama bagi yang ingin mengikuti sunnah secara persis. Yang paling utama adalah konsisten dan khusyuk, bukan memperdebatkan jumlah.

5. Kaitan dengan Qatadah bin Di'amah

Karena hadits ini diriwayatkan melalui Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in), maka kita tahu bahwa para Tabi'in sangat teliti dalam meriwayatkan sifat shalat Nabi ﷺ, termasuk urutan duduk, doa, dan salam. Ini menunjukkan betapa ilmu hadits dijaga dengan sanad yang kuat.

Story Telling

Diceritakan bahwa Sa'd bin Hisham — seorang Tabi'in yang zuhud — pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak dan shalat malam Nabi ﷺ. Ia sengaja menanyakan hal ini karena ingin meneladani Nabi ﷺ secara detail. Aisyah pun menceritakan apa yang ia saksikan sendiri di rumah: bagaimana ia dan keluarganya menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ bangun, bersiwak, berwudhu, dan shalat panjang hingga sembilan rakaat. Qatadah kemudian meriwayatkan kisah ini dari Zurarah dari Sa'd bin Hisham.

Hikmahnya: Para salaf tidak hanya bertanya tentang hukum, tetapi juga tentang cara dan adab ibadah. Mereka ingin meneladani Nabi ﷺ sampai ke detail terkecil, termasuk bagaimana beliau duduk dan berdoa di tengah shalat. Ini pelajaran bagi kita agar tidak malas mempelajari sunnah secara rinci.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersiwak dan berwudhu sebelum shalat malam adalah sunnah yang dianjurkan.
  2. Shalat witir sembilan rakaat dengan duduk pada rakaat kedelapan lalu berdiri lagi untuk rakaat kesembilan adalah cara yang sah dan pernah dipraktikkan Nabi ﷺ.
  3. Berdoa dan memuji Allah di tengah shalat (pada duduk rakaat kedelapan) diperbolehkan, tanpa salam.
  4. Shalat sunnah sambil duduk diperbolehkan, terutama setelah witir, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.
  5. Teladani Nabi ﷺ secara detail dalam ibadah, bukan hanya jumlah rakaatnya, tetapi juga adab, kebersihan, dan kekhusyukannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?