Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah shalat malam (qiyamul lail) lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Beliau mengerjakan empat rakaat, kemudian empat rakaat lagi, lalu tiga rakaat witir. Hadits ini juga mengajarkan bahwa meskipun mata beliau tidur, hati beliau tetap terjaga untuk mengingat Allah. Ini menjadi dasar bahwa shalat malam (termasuk tarawih) sebaiknya dikerjakan dengan bilangan rakaat yang ringan dan khusyuk, tidak berlebih-lebihan.
---
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan an-Nasa'i (no. 1697), kitab Qiyam al-Lail wa Tatowwu' an-Nahar, bab Kaifiyyat al-Witr bi Tsalats Raka'at. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 1147) dan Imam Muslim (no. 738) dengan lafaz yang serupa.
Teks Arab hadits:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ، وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ، قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ، - وَاللَّفْظُ لَهُ - عَنِ ابْنِ الْقَاسِمِ، قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ، سَأَلَ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ " يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنِي تَنَامُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي " .
Terjemahan:
Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah Ummul Mukminin, “Bagaimana shalat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan?” Aisyah menjawab, “Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah (shalat malam) di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, dan jangan engkau tanya tentang indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat lagi, dan jangan engkau tanya tentang indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat (witir).” Aisyah berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum witir?’ Beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur’.”
Komentar ulama dari daftar:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim, jilid 6, hlm. 35–36) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan shalat malam Rasulullah ﷺ adalah sebelas rakaat, dan ini adalah bilangan yang paling sering beliau lakukan. Namun beliau juga pernah melakukan tiga belas rakaat (dalam riwayat lain) sebagai tambahan. Para ulama menggabungkan riwayat tersebut bahwa yang sebelas adalah shalat malam biasa, dan yang tiga belas termasuk dua rakaat ringan sebagai pembuka.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari, jilid 3, hlm. 15–16) mengatakan bahwa hadits Aisyah ini menjadi hujjah bagi yang membatasi shalat malam tidak lebih dari sebelas rakaat, tetapi beliau sendiri cenderung pada pendapat bahwa shalat malam tidak ada batasan tertentu, namun yang lebih utama adalah mengikuti kebiasaan Nabi.
- Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (dalam Sifat Shalat Nabi, hlm. 109–110) menegaskan bahwa shalat malam (termasuk tarawih) sebaiknya dikerjakan dengan bilangan sebelas atau tiga belas rakaat, sesuai yang shahih dari Nabi, dan tidak boleh ditambah dengan dalih ibadah yang berlebihan.
---
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa faedah penting:
- Bilangan shalat malam – Rasulullah ﷺ biasa shalat malam dengan sebelas rakaat (4+4+3). Ini shahih dari Aisyah radhiallahu 'anha. Para ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad mengamalkan bilangan ini sebagai sunnah, namun tidak melarang lebih jika dilakukan dengan tidak memberatkan. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat – sebagaimana ditegaskan oleh Syeikh al-Albani dan ulama kontemporer – adalah mengikuti sunnah Nabi dengan sebelas atau tiga belas rakaat, termasuk witir. Ini yang lebih utama.
- Cara melaksanakan witir tiga rakaat – Dalam hadits ini disebut “ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاثًا” (kemudian beliau shalat tiga rakaat). Ada perbedaan pendapat:
- Sebagian ulama (seperti Imam Abu Hanifah) mengatakan witir tiga rakaat dengan satu salam, tanpa tasyahud awal.
- Sebagian lain (seperti Imam Syafi’i) mengatakan witir tiga rakaat dengan dua salam (2 rakaat + 1 rakaat) berdasarkan hadits Ibnu Umar.
- Pendapat yang lebih rajih (kuat) menurut Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar adalah bahwa Rasulullah ﷺ melakukan witir tiga rakaat dengan dua salam, dan kadang dengan satu salam. Semua cara dibolehkan, namun yang paling sering beliau lakukan adalah dua rakaat salam kemudian satu rakaat salam.
- Keutamaan shalat malam yang panjang dan khusyuk – Dalam hadits, Aisyah memuji “حُسْنِهِنَّ وَطَوْلِهِنَّ” (indah dan panjangnya). Ini menunjukkan bahwa shalat malam beliau sangat berkualitas. Panjang bacaan, rukuk, sujud, dan doa. Namun tidak boleh memberatkan diri hingga meninggalkan kewajiban atau mengganggu istirahat yang dibutuhkan.
- Keistimewaan hati Rasulullah ﷺ – Sabda beliau, “Mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur,” menunjukkan bahwa meskipun tubuh beristirahat, kesadaran dan dzikir beliau tetap terjaga. Ini adalah derajat khusus para nabi. Bagi kita, sunnahnya adalah tidak tidur sebelum shalat witir bagi yang ingin shalat malam di akhir malam. Namun jika khawatir tidak bangun, boleh witir di awal malam.
Penerapan dalam ibadah – Hadits ini menjadi dasar utama dalam pelaksanaan shalat tarawih. Para salaf, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan al-Hasan al-Bashri, sangat menjaga kesesuaian dengan sunnah. Mereka tidak menambah jumlah rakaat secara berlebihan, tetapi lebih mengutamakan kekhusyukan dan kualitas bacaan.
---
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ sangat menekankan shalat malam. Pada suatu malam di bulan Ramadhan, Aisyah melihat beliau shalat dengan begitu panjang hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau bersusah payah padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau bersabda, “أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا” (Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?) – (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini menunjukkan bahwa shalat malam yang panjang adalah ungkapan syukur, bukan karena beban. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa rasa syukur yang paling tinggi adalah dengan menggunakan nikmat untuk taat.
Juga diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri – beliau adalah seorang tabi’in yang sangat terkenal dengan qiyamul lail. Beliau berkata, “Tidak ada satu amalan pun yang lebih berat bagi penduduk neraka selain duduk di malam hari untuk shalat.” Maka, perbanyaklah shalat malam walau sedikit, asalkan konsisten.
---
Kesimpulan Praktis
- Ikuti bilangan sunnah: Shalat malam (tarawih) sebaiknya dikerjakan dengan sebelas atau tiga belas rakaat, termasuk witir. Jangan menambah dengan dalih pahala jika itu tidak sesuai dengan tuntunan Nabi.
- Utamakan kualitas: Panjang dan khusyuk dalam bacaan, rukuk, sujud, dan doa lebih utama daripada jumlah rakaat yang banyak tetapi terburu-buru.
- Witir: Lakukan witir tiga rakaat, boleh dengan satu salam atau dua salam, yang penting sesuai sunnah dan tidak memberatkan.
- Jaga istiqamah: Jangan tinggalkan shalat malam karena malas. Mulailah dengan rakaat yang sedikit, tetapi konsisten setiap malam.
- Tidur sebelum witir: Jika kuat, lebih afdhal tidur sebentar lalu bangun malam untuk witir. Jika tidak, boleh witir sebelum tidur, sebagaimana dilakukan sebagian sahabat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.