Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah melaksanakan shalat witir pada berbagai waktu: di awal malam, di tengah malam, dan di akhir malam. Namun di akhir hayat beliau, witir beliau menetap dikerjakan di akhir malam (menjelang fajar/Sahar). Ini menunjukkan luasnya waktu witir dan bahwa yang paling utama adalah di akhir malam, terutama bagi yang mampu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Qiyam al-Lail, Bab Waktu Witir, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur: Ishaq bin Manshur ← Abdurrahman (bin Mahdi) ← Sufyan (ats-Tsauri) ← Abu Hashin ← Yahya bin Watsab ← Masruq ← Aisyah.
Teks hadits:
أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ وَأَوْسَطِهِ وَانْتَهَى وَتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
Terjemahan: "Rasulullah ﷺ melaksanakan witir di awal malam, di akhirnya, dan di tengahnya. Dan witir beliau berakhir (menetap) hingga waktu sahar (menjelang fajar)."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Terjemahan ringkas: "Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya, dan segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an..."
Ayat ini menunjukkan bahwa qiyamul lail memiliki waktu yang luas dan fleksibel, dan Allah memberi keringanan sesuai kemampuan hamba-Nya.
Penjelasan Rinci
1. Makna hadits secara umum
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat witir pada waktu yang berbeda-beda sepanjang malam. Kadang di awal malam, kadang di tengah, kadang di akhir. Ini menunjukkan bahwa witir adalah ibadah yang waktunya luas, dari setelah shalat Isya hingga sebelum fajar (Subuh).
2. Pemahaman para ulama dalam daftar
Imam An-Nasa'i memasukkan hadits ini dalam bab "Waktu Witir," yang menunjukkan bahwa beliau memandang hadits ini sebagai dalil keluasan waktu witir.
Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah — sebagaimana disebutkan dalam riwayat — berpendapat bahwa witir boleh dikerjakan di awal malam, tengah malam, atau akhir malam. Namun yang paling utama adalah di akhir malam bagi yang yakin bisa bangun, karena waktu sahar adalah waktu yang paling mulia dan disaksikan (oleh para malaikat).
Imam asy-Syafi'i dalam kitabnya Al-Umm menjelaskan bahwa waktu witir dimulai setelah Isya dan berakhir sebelum Subuh. Beliau juga menyebutkan bahwa mengakhirkan witir di akhir malam lebih utama, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadits serupa dari Aisyah menyebutkan bahwa perubahan kebiasaan Nabi ﷺ di akhir hayat — yaitu menetap pada witir di akhir malam — menunjukkan bahwa akhir malam adalah waktu yang paling afdhal, karena lebih dekat kepada waktu turunnya rahmat dan istighfar di waktu sahar.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa witir tidak harus selalu di akhir malam, tetapi boleh di awal malam bagi yang khawatir tidak bangun. Ini adalah bentuk kasih sayang syariat kepada umat.
3. Perbedaan pendapat dan yang paling kuat
Para ulama dalam daftar sepakat bahwa waktu witir adalah antara Isya dan Subuh. Yang menjadi perbedaan adalah tentang waktu yang paling utama:
- Sebagian berpendapat awal malam lebih utama bagi yang khawatir tidak bangun.
- Sebagian berpendapat akhir malam lebih utama bagi yang mampu.
Yang paling kuat — berdasarkan hadits ini dan penjelasan Ibnu Hajar serta an-Nawawi — adalah bahwa:
- Bagi yang yakin bisa bangun di akhir malam, maka mengakhirkan witir di akhir malam lebih utama.
- Bagi yang khawatir tidak bangun, maka mengerjakan witir di awal malam lebih utama, sebagaimana pesan Nabi ﷺ kepada Abu Hurairah dan lainnya.
Ini sesuai kaidah: "Sesuatu yang paling utama adalah yang paling sesuai dengan kondisi dan kemampuan seseorang."
4. Hikmah hadits
- Islam adalah agama yang fleksibel dan penuh rahmat.
- Witir adalah shalat yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) dan tidak boleh ditinggalkan bagi yang mampu.
- Waktu sahar (menjelang fajar) adalah waktu yang penuh berkah, di mana Allah turun ke langit dunia dan mengabulkan doa hamba-Nya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ yang paling mengetahui kebiasaan beliau di malam hari — memperhatikan dengan cermat bagaimana Nabi ﷺ melaksanakan witir. Beliau melihat bahwa Nabi ﷺ tidak selalu mengerjakan witir pada satu waktu saja. Kadang beliau witir di awal malam ketika merasa lelah atau ada udzur, kadang di tengah malam, dan kadang di akhir malam.
Namun di akhir hayat beliau, Aisyah melihat bahwa Nabi ﷺ menetap pada witir di akhir malam. Ini menunjukkan bahwa beliau memilih yang paling utama ketika beliau memiliki kekuatan dan kemampuan.
Hikmah: Seorang mukmin hendaknya bersemangat untuk mengerjakan witir di waktu yang paling utama — yaitu akhir malam — jika mampu. Namun jika tidak mampu, jangan tinggalkan witir sama sekali, kerjakanlah di awal malam. Yang penting adalah istiqamah (konsisten), bukan sekadar banyak tapi terputus.
Kesimpulan Praktis
- Witir waktunya luas: dari setelah Isya hingga sebelum Subuh.
- Boleh dikerjakan di awal, tengah, atau akhir malam — sesuai kemampuan dan kondisi.
- Yang paling utama adalah di akhir malam (waktu sahar) bagi yang yakin bisa bangun.
- Bagi yang khawatir tidak bangun, kerjakan witir sebelum tidur agar tidak tertinggal.
- Jangan tinggalkan witir karena ia adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan menjadi penutup shalat malam.
- Konsistenlah meskipun hanya sedikit, karena amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.