Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1667 tentang Shalat malam dua rakaat dua rakaat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat malam (tahajjud) dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, lalu ditutup dengan satu rakaat witir. Jika waktu fajar sudah dekat dan dikhawatirkan terlewat, cukup satu rakaat sebagai penutup. Ini adalah tuntunan Nabi ﷺ yang jelas, sederhana, dan mudah diamalkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Catatan: ayat di atas adalah QS. Al-Isra' [17]: 79. Adapun potongan QS. Al-Muzzammil [73]: 20 yang relevan berbunyi:

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ

Terjemahan: "Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Shalat Malam dan Sunnah Siang, dari jalur Tawus (Tabi'in) dari Ibnu Umar (Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma). Hadits semakna juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Ibnu Umar, dengan lafaz: "صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى" (Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat).

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil utama bahwa shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dan witir satu rakaat sebagai penutup.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa perintah "matsna matsna" bersifat umum untuk seluruh shalat malam, baik tahajjud maupun witir.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan witir, baik dalam perjalanan maupun di rumah.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Hadits ini mengandung dua poin utama:

  1. Shalat malam dikerjakan dua rakaat-duka rakaat — artinya setiap dua rakaat diakhiri dengan salam, lalu memulai lagi dua rakaat berikutnya.
  2. Jika khawatir fajar datang, tutup dengan satu rakaat — yaitu shalat witir satu rakaat.

Pemahaman ulama:

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya mengerjakan shalat malam dengan dua rakaat-dua rakaat, dan tidak ada batasan jumlah maksimal. Beliau juga menyebutkan bahwa witir boleh dikerjakan satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, dan seterusnya, namun yang paling utama adalah tidak lebih dari sebelas atau tiga belas rakaat, sebagaimana praktik Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perintah "matsna matsna" adalah khabar (berita) yang bermakna amr (perintah), yaitu perintah untuk mengerjakan shalat malam dua rakaat-dua rakaat. Beliau juga menukil pendapat Imam asy-Syafi'i yang menyatakan bahwa shalat malam boleh dikerjakan dengan salam setiap dua rakaat, dan tidak boleh dikerjakan empat rakaat sekaligus tanpa salam di tengahnya, kecuali shalat witir yang boleh dikerjakan tiga rakaat dengan satu salam.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengerjakan shalat malam dengan dua rakaat-dua rakaat, dan beliau menutupnya dengan witir. Beliau juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ kadang mengerjakan witir satu rakaat, kadang tiga rakaat, kadang lima rakaat, dan seterusnya, namun beliau tidak pernah meninggalkannya.

Perbedaan pendapat:

  • Jumhur ulama (mayoritas) berpendapat bahwa shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dan witir satu rakaat sebagai penutup.
  • Sebagian ulama berpendapat bahwa witir boleh dikerjakan tiga rakaat sekaligus dengan satu salam, namun yang lebih utama adalah satu rakaat, sebagaimana hadits ini.

Pendapat yang paling kuat:

Yang paling kuat adalah pendapat jumhur, yaitu shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dan witir satu rakaat sebagai penutup, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah seorang sahabat yang sangat tekun mengerjakan shalat malam. Beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah meninggalkan shalat malam sejak aku masuk Islam." Beliau juga pernah bermimpi melihat dirinya di surga, dan mimpi itu ditafsirkan oleh Nabi ﷺ sebagai tanda kebaikan.

Suatu ketika, seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang shalat malam. Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang sangat jelas dan ringkas: "Dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu takut akan datangnya fajar, maka satu rakaat." Jawaban ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat memperhatikan kemudahan bagi umatnya, dan tidak membebani mereka dengan aturan yang rumit.

Hikmah: Shalat malam adalah ibadah yang agung, namun Nabi ﷺ mengajarkannya dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Kita diajarkan untuk tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan, tetapi mengerjakannya sesuai kemampuan dan waktu yang ada.

Kesimpulan Praktis

  1. Kerjakan shalat malam dua rakaat-dua rakaat — setiap dua rakaat diakhiri dengan salam.
  2. Tutup dengan witir satu rakaat — terutama jika waktu fajar sudah dekat.
  3. Jangan tinggalkan witir — karena Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkannya, baik dalam perjalanan maupun di rumah.
  4. Sesuaikan dengan kemampuan — jika waktu terbatas, cukup kerjakan satu rakaat witir.
  5. Ikhlas dan konsisten — shalat malam adalah ibadah rahasia antara hamba dan Rabb-nya, maka kerjakan dengan penuh keikhlasan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?