Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1665 tentang Kesetaraan durasi ruku, sujud, dan duduk dalam shalat malam

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan shalat malam (qiyamul lail) Nabi ﷺ di bulan Ramadhan yang sangat lama dan khusyuk. Beliau menyamakan lama waktu ruku', i'tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud dengan lama waktu berdirinya. Ini menunjukkan bahwa shalat malam bukanlah soal cepat selesai, tetapi soal kekhusyukan, ketenangan, dan memperpanjang bacaan serta dzikir di setiap rukunnya. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dalam shalat, terutama dalam shalat sunnah malam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1665) dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat ini, Hudzaifah menceritakan bahwa beliau shalat bersama Nabi ﷺ di bulan Ramadhan. Beliau melihat Nabi ﷺ memperlama ruku', i'tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud, sehingga lamanya hampir menyamai lamanya berdiri.

Catatan Penting dari Imam An-Nasa'i:

Di akhir hadits, Imam An-Nasa'i (yang dijuluki Abu Abdurrahman) memberikan catatan penting: "Hadits ini menurutku mursal, dan Thalhah bin Yazid aku tidak mengetahui bahwa ia mendengar sesuatu dari Hudzaifah. Dan selain 'Alaa' bin Al-Musayyib menyebutkan dalam hadits ini: 'dari Thalhah, dari seorang laki-laki, dari Hudzaifah.'"

Maksudnya, menurut Imam An-Nasa'i, sanad hadits ini terputus (mursal) karena Thalhah bin Yazid tidak dikenal mendengar langsung dari Hudzaifah. Namun, makna hadits ini tetap shahih karena dikuatkan oleh hadits-hadits lain yang semakna, seperti hadits riwayat Imam Muslim dari Hudzaifah juga, yang menceritakan panjangnya shalat Nabi ﷺ.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷺ berfirman:

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Wa qūmū lillāhi qānitīn"

QS. Al-Baqarah [2]: 238

Artinya: "Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalat) dengan khusyuk."

Ayat ini menunjukkan perintah untuk khusyuk dan tenang dalam shalat, yang tercermin dalam praktek Nabi ﷺ yang memperlama rukun-rukun shalatnya.

Hadits Pendukung dari Shahih Muslim:

Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ فَمَضَى ثُمَّ قُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا

"Aku shalat bersama Nabi ﷺ pada suatu malam. Beliau memulai dengan surat Al-Baqarah. Aku berkata (dalam hati): 'Beliau akan ruku' setelah seratus ayat.' Ternyata beliau melanjutkan. Aku berkata: 'Beliau akan shalat satu rakaat dengan surat ini.' Ternyata beliau melanjutkan. Lalu beliau memulai surat An-Nisa' dan membacanya, kemudian memulai surat Ali 'Imran dan membacanya..." (HR. Muslim, no. 772)

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat malam Nabi ﷺ sangat panjang, dan beliau memperlama bacaan serta rukun-rukunnya.

Penjelasan Rinci

1. Makna Hadits:

Hadits ini menggambarkan shalat malam Nabi ﷺ yang sangat khusyuk dan lama. Beliau ﷺ membaca dzikir dalam ruku' dengan "Subhana Rabbiyal-'Azhim" selama kurang lebih sama dengan lamanya berdiri. Kemudian beliau duduk di antara dua sujud dengan membaca "Rabbighfirli, Rabbighfirli" (Ya Rabbku, ampunilah aku) juga selama kurang lebih sama dengan lamanya berdiri. Demikian pula dalam sujud, beliau membaca "Subhana Rabbiyal-A'la" dengan waktu yang lama.

2. Pemahaman Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa memperlama rukun-rukun shalat, terutama dalam shalat malam, adalah sunnah yang dianjurkan. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa thuma'ninah (ketenangan) dalam shalat adalah wajib, dan memperpanjangnya adalah sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa shalat malam adalah sebaik-baik shalat sunnah, dan di dalamnya disunnahkan untuk memperpanjang bacaan dan dzikir. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ biasa memperpanjang shalat malamnya hingga hampir sepertiga malam atau lebih.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menggambarkan shalat malam Nabi ﷺ dengan sangat rinci. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ biasa memperpanjang ruku', sujud, dan duduk di antara dua sujud, serta membaca doa-doa yang panjang dalam shalat malamnya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa khusyuk dalam shalat adalah ruh dan inti dari shalat. Tanpa khusyuk, shalat menjadi seperti jasad tanpa ruh.

3. Hikmah dari Hadits:

  • Khusyuk adalah inti shalat: Shalat malam Nabi ﷺ yang panjang menunjukkan bahwa khusyuk dan ketenangan adalah inti dari ibadah shalat.
  • Dzikir yang bervariasi: Nabi ﷺ mengajarkan berbagai macam dzikir dalam ruku', sujud, dan duduk di antara dua sujud. Ini menunjukkan bahwa kita dianjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir dalam shalat.
  • Tidak tergesa-gesa: Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru dalam shalat. Shalat yang baik adalah shalat yang tenang dan penuh penghayatan.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi ﷺ. Beliau memulai dengan surat Al-Baqarah. Aku berkata dalam hati: 'Beliau akan ruku' setelah seratus ayat.' Ternyata beliau melanjutkan. Aku berkata: 'Beliau akan menyelesaikannya dalam satu rakaat.' Ternyata beliau melanjutkan. Lalu beliau memulai surat An-Nisa' dan membacanya, kemudian memulai surat Ali 'Imran dan membacanya dengan perlahan-lahan. Apabila beliau melewati ayat tasbih, beliau bertasbih. Apabila melewati ayat permohonan, beliau berdoa. Apabila melewati ayat ta'awwudz (perlindungan), beliau berlindung. Kemudian beliau ruku' dan membaca: 'Subhana Rabbiyal-'Azhim' (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung) selama kurang lebih lamanya beliau berdiri. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan membaca: 'Sami'allahu liman hamidah' (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya) selama kurang lebih lamanya beliau ruku'. Kemudian beliau sujud dan membaca: 'Subhana Rabbiyal-A'la' (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi) selama kurang lebih lamanya beliau berdiri. Kemudian beliau duduk di antara dua sujud dan membaca: 'Rabbighfirli, Rabbighfirli' (Ya Rabbku, ampunilah aku) selama kurang lebih lamanya beliau sujud." (HR. Muslim, no. 772)

Hikmah dari kisah ini:

Kisah ini menunjukkan betapa dalamnya kekhusyukan Nabi ﷺ dalam shalat. Beliau tidak terburu-buru, tetapi menikmati setiap momen ibadahnya. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita untuk memperbaiki kualitas shalat kita, terutama shalat malam. Shalat yang khusyuk akan memberikan ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah ﷻ.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak shalat malam karena ia adalah sebaik-baik shalat sunnah dan kebiasaan Nabi ﷺ.
  2. Perlama rukun-rukun shalat dengan tenang dan thuma'ninah, jangan tergesa-gesa.
  3. Perbanyak dzikir dan doa dalam ruku', sujud, dan duduk di antara dua sujud, seperti yang dicontohkan Nabi ﷺ.
  4. Gunakan shalat malam sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, dan merenungi ayat-ayat Al-Qur'an.
  5. Jadikan shalat sebagai ketenangan hati, bukan sekadar rutinitas yang buru-buru.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.