Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil tentang keutamaan Nabi Musa 'alaihis salam dan keagungan shalat. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Isra' Mi'raj adalah perjalanan ruh dan jasad sekaligus, di mana Nabi ﷺ diperlihatkan keadaan para nabi, termasuk Nabi Musa yang sedang shalat di dalam kuburnya. Ini adalah bagian dari mukjizat dan tanda kekuasaan Allah yang memperlihatkan kepada Nabi-Nya hal-hal ghaib.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i:
Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan yang diriwayatkan dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Qiyam al-Lail wa Qiyam an-Nahar, Bab Dzikru Shalati Nabi Allah Musa 'Alaihis Salam wa Ikhtilaf an-Naqilin 'anhu, no. 1637.
Sanadnya: Qutaibah → Ibn Abi 'Adiy → Sulaiman (yaitu Sulaiman at-Taimi) → Anas → sebagian sahabat Nabi ﷺ.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ
Artinya: "Pada malam aku diisra'kan, aku melewati Musa 'alaihis salam yang sedang berdiri shalat di dalam kuburnya." (HR. Al-Bukhari, no. 345)
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman tentang peristiwa Isra' Mi'raj:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Isra' [17]: 1)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Keutamaan Shalat dan Keadaan Para Nabi di Alam Barzakh
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Ahwal al-Qubur menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para nabi 'alaihimus salam hidup di alam barzakh dengan kehidupan yang khusus, dan mereka tetap beribadah kepada Allah di sana. Ini adalah kehidupan barzakh yang tidak seperti kehidupan dunia, melainkan kehidupan yang Allah khususkan bagi para nabi dan syuhada.
2. Isra' Mi'raj Terjadi dengan Ruh dan Jasad
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini dan hadits-hadits lain tentang Isra' Mi'raj menunjukkan bahwa perjalanan tersebut terjadi dengan jasad dan ruh sekaligus, dalam keadaan terjaga (bukan mimpi). Karena Nabi ﷺ mengabarkan bahwa beliau melihat Musa 'alaihis salam shalat di kuburnya, dan ini adalah perkara ghaib yang hanya bisa dilihat dengan izin Allah.
3. Keutamaan Nabi Musa 'Alaihis Salam
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan bahwa dalam perjalanan Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ melihat para nabi di langit-langit, dan Nabi Musa 'alaihis salam berada di langit keenam. Adapun hadits tentang shalatnya di kuburnya menunjukkan bahwa beliau tetap dalam keadaan beribadah kepada Allah, dan ini adalah keutamaan yang agung.
4. Makna "Shalat di Dalam Kubur"
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa shalatnya Nabi Musa di dalam kuburnya adalah shalat yang hakiki, namun dengan cara yang tidak kita ketahui, karena kehidupan barzakh adalah kehidupan yang ghaib. Kita mengimani hal ini tanpa bertanya "bagaimana", karena itu termasuk perkara ghaib yang wajib kita imani.
5. Bantahan Terhadap yang Mengingkari Kehidupan Barzakh
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Ar-Ruh menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa ruh para nabi kembali kepada jasad mereka di alam barzakh, dan mereka diberi kemampuan untuk beribadah. Ini adalah nikmat dari Allah yang khusus bagi para nabi.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang perjalanan Isra' Mi'raj:
"Aku melewati Musa 'alaihis salam pada malam diisra'kan, dan dia sedang shalat di kuburnya. Lalu aku diangkat ke langit, dan aku melihatnya di langit keenam. Ketika aku melewatinya, dia berkata: 'Selamat datang wahai saudaraku dan wahai nabi yang diutus.' Kemudian ketika aku sampai di Sidratul Muntaha dan Allah mewajibkan lima puluh shalat, aku kembali dan melewati Musa. Dia bertanya: 'Apa yang diperintahkan kepadamu?' Aku menjawab: 'Lima puluh shalat.' Dia berkata: 'Umatmu tidak akan mampu. Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan.' Maka aku kembali dan Allah mengurangi menjadi lima, dan Musa tetap menyarankan untuk meminta keringanan, namun aku menjawab: 'Aku telah meminta kepada Rabbku sampai aku malu.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari kisah ini: Nabi Musa 'alaihis salam adalah sosok yang sangat penyayang kepada umat Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau telah merasakan beratnya menghadapi umatnya sendiri. Beliau menasihati Nabi kita untuk meminta keringanan, dan ini menunjukkan bahwa para nabi saling mencintai dan saling menasihati. Ini juga menunjukkan bahwa shalat adalah ibadah yang agung, sampai-sampai Nabi Musa yang telah wafat pun tetap melakukannya di alam barzakh.
Kesimpulan Praktis
- Mengimani kehidupan barzakh — bahwa para nabi hidup di alam kubur mereka dengan kehidupan yang khusus, dan mereka tetap beribadah kepada Allah.
- Mengimani peristiwa Isra' Mi'raj — bahwa itu terjadi dengan jasad dan ruh, bukan mimpi, sebagaimana dipahami oleh Ahlus Sunnah.
- Menjaga shalat — karena shalat adalah ibadah yang agung, bahkan para nabi yang telah wafat pun tetap melaksanakannya di alam barzakh.
- Tidak bertanya tentang "bagaimana" — karena perkara ghaib cukup diimani tanpa mempertanyakan caranya, sebagaimana para ulama salaf menegaskan.
- Meneladani kasih sayang Nabi Musa — dalam menasihati sesama muslim dengan penuh kelembutan dan perhatian.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.