Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa pada malam Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ melewati Nabi Musa عليه السلام yang sedang shalat di dalam kuburnya. Ini menunjukkan bahwa para nabi itu hidup di alam barzakh dengan kehidupan yang khusus, dan amal shalat tetap mereka lakukan. Hadits ini shahih dan dijadikan dalil oleh para ulama Ahlus Sunnah tentang kehidupan para nabi di kubur mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — diriwayatkan oleh Anas bin Malik رضي الله عنه, dalam Sunan An-Nasa'i no. 1635, Kitab Qiyam al-Lail. Redaksi hadits:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مَرَّ عَلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَهُوَ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ
"Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul A'la, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Mu'tamir, dari ayahnya, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ pada malam diisra'kan melewati Musa عليه السلام yang sedang shalat di dalam kuburnya."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (Kitab al-Masajid, bab penyebutan para nabi) dengan lafaz serupa, sehingga statusnya shahih.
Ayat yang berkaitan — tentang kehidupan syuhada yang menjadi qiyas (analogi) bagi kehidupan para nabi di alam barzakh:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki." (QS. Ali 'Imran [3]: 169)
Kaitan dengan ulama: Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai dalil bahwa ruh para syuhada hidup dan diberi rezeki — dan kehidupan para nabi tentu lebih utama. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membawakan hadits ini ketika membahas kehidupan para nabi di kubur. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini termasuk dalil bahwa para nabi hidup di kubur mereka.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits. Pada malam Isra' Mi'raj — perjalanan agung Nabi ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu naik ke langit — beliau melewati kubur Nabi Musa عليه السلام dan melihatnya sedang mengerjakan shalat. Ini bukan mimpi, melainkan peristiwa nyata yang Allah perlihatkan kepada Nabi ﷺ untuk memuliakan para nabi dan menunjukkan kedudukan mereka.
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
Pertama, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa para nabi hidup di alam barzakh dengan kehidupan yang sempurna, berbeda dengan manusia biasa. Kehidupan ini adalah kehidupan barzakhiyyah yang tidak bisa diukur dengan kehidupan dunia.
Kedua, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan kekhususan para nabi, dan bahwa shalat mereka di kubur adalah ibadah yang nyata, bukan kiasan. Beliau juga mengaitkannya dengan hadits lain tentang Isra' Mi'raj yang menyebutkan pertemuan Nabi ﷺ dengan para nabi di langit.
Ketiga, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya menegaskan bahwa kehidupan para nabi di kubur adalah kehidupan hakiki yang khusus, dan ini tidak bertentangan dengan kematian yang telah Allah tetapkan bagi semua makhluk. Beliau menguatkan dengan ayat Ali 'Imran 169 di atas.
Keempat, Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Kitab ar-Ruh membahas secara panjang lebar tentang kehidupan ruh setelah kematian, dan beliau menyebutkan hadits ini sebagai salah satu dalil bahwa para nabi memiliki kehidupan khusus di kubur mereka, lebih sempurna dari kehidupan syuhada.
Kelima, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa kehidupan di alam barzakh adalah kehidupan yang nyata namun berbeda hakikatnya dengan kehidupan dunia, dan tidak boleh diqiyaskan dengan kehidupan manusia biasa.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama berbeda dalam memahami apakah shalat Nabi Musa itu hakiki atau kiasan. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa itu hakiki, karena hadits ini shahih dan tidak ada alasan untuk memalingkannya dari makna zahirnya. Adapun Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah memasukkan hadits ini sebagai hadits shahih dan menguatkan makna zahirnya.
Catatan penting: Hadits ini tidak menjadi dalil untuk meminta kepada penghuni kubur atau berdoa kepada mereka. Kehidupan para nabi di kubur adalah kekhususan mereka, dan kita tetap dilarang berdoa kepada selain Allah. Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab at-Tauhid menegaskan bahwa kehidupan barzakh tidak menjadikan kubur sebagai tempat meminta, karena doa hanya kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik رضي الله عنه — sebagaimana disebutkan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim — bahwa pada malam Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ menceritakan perjalanan beliau melewati para nabi. Beliau melihat Nabi Musa عليه السلام sedang berdiri shalat di kuburnya. Ketika Nabi ﷺ menceritakan hal ini kepada para sahabat, sebagian orang Quraisy mendustakannya, namun Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه langsung membenarkan tanpa ragu, sehingga beliau mendapat gelar ash-Shiddiq.
Hikmah: Kejujuran iman Abu Bakar menunjukkan bahwa seorang mukmin sejati menerima kabar dari Nabi ﷺ tanpa menuntut pembuktian yang berlebihan. Dan kisah Nabi Musa yang shalat di kuburnya mengajarkan bahwa ibadah adalah cahaya yang menyertai seorang hamba bahkan setelah kematiannya.
Kesimpulan Praktis
- Yakini bahwa para nabi hidup di alam barzakh dengan kehidupan khusus, dan shalat mereka di kubur adalah hakiki — sebagaimana dijelaskan an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Katsir.
- Jangan menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk berdoa kepada penghuni kubur atau meminta hajat kepada mereka. Doa hanya kepada Allah, sebagaimana ditegaskan Muhammad bin Abdul Wahhab.
- Teladani semangat ibadah Nabi Musa عليه السلام yang tetap shalat, dan jadikan shalat sebagai amal yang menyertai kita hingga akhir hayat.
- Terima kabar-kabar Nabi ﷺ dengan iman seperti Abu Bakar رضي الله عنه, tanpa mendustakan atau menakwil tanpa dalil.
- Rujuk kepada ulama Ahlus Sunnah dalam memahami hadits-hadits tentang alam barzakh, agar tidak terjatuh pada ghuluw atau pengingkaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.