Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1629 tentang Shalat malam Nabi dan cara bacanya yang jelas

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan dua hal utama: pola shalat malam Nabi ﷺ yang penuh keseimbangan (shalat lalu tidur, tidur lalu shalat) dan tata cara bacaan Al-Qur'an beliau yang tartil, jelas, dan terpisah huruf demi huruf. Ini menunjukkan bahwa shalat malam tidak harus dilakukan sekaligus tanpa istirahat, dan bacaan Al-Qur'an hendaknya dibaca dengan pelan, jelas, dan penuh penghayatan, bukan terburu-buru.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan -nya, Kitab Qiyamul Lail, Bab Menyebutkan Shalat Rasulullah ﷺ di Malam Hari, no. 1629. Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam At-Tirmidzi dari jalur yang serupa.

Tentang bacaan Al-Qur'an yang tartil, Allah ﷻ berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)

Makna tartil menurut para ulama, di antaranya Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya, adalah membacanya dengan pelan dan jelas, tidak terburu-buru, serta merenungkan maknanya. Beliau menukil perkataan Mujahid dan Qatadah bahwa tartil berarti membacanya dengan tenang dan perlahan.

Adapun tentang shalat malam, Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, yaitu separuhnya atau kurang sedikit dari itu." (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-3)

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah jawaban dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, ketika ditanya oleh Ya'la bin Mamlak tentang shalat dan bacaan beliau. Ini adalah periwayatan dari seorang istri yang paling dekat dengan kehidupan rumah tangga Nabi ﷺ, sehingga informasinya sangat berharga.

Pertama: Pola Shalat Malam Nabi ﷺ

Ummu Salamah menggambarkan: "Beliau biasa shalat, kemudian tidur selama yang beliau shalat, kemudian shalat selama yang beliau tidur, hingga pagi tiba."

Ini menunjukkan bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidak dilakukan sekaligus dalam satu rangkaian panjang tanpa jeda. Beliau membaginya menjadi beberapa bagian. Ini adalah bentuk tadarruj (bertahap) dan taysir (kemudahan) dalam ibadah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fath al-Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang shalat di awal malam, lalu tidur, lalu bangun lagi untuk shalat, dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa shalat malam itu fleksibel waktunya, yang penting dilakukan dengan ikhlas dan khusyuk.

Kedua: Bacaan Nabi ﷺ yang Tartil

Ummu Salamah menggambarkan bacaan Nabi ﷺ sebagai "qira'atan mufassarah harfan harfan" — bacaan yang jelas, terperinci, huruf demi huruf. Ini bukan berarti beliau membaca dengan lambat yang berlebihan, tetapi beliau membaca dengan tartil: memperjelas pengucapan huruf, tidak mencampuradukkan satu huruf dengan huruf lainnya, dan berhenti di tempat yang seharusnya berhenti.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa kesunnahan dalam membaca Al-Qur'an adalah tartil, karena hal itu lebih membantu untuk merenungkan makna. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan perlahan, dan terkadang satu ayat diulang-ulang untuk direnungkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa bacaan yang tartil adalah bacaan yang memenuhi tiga hal: (1) memperjelas huruf-hurufnya sesuai makhraj dan sifatnya, (2) tidak terburu-buru sehingga maknanya hilang, dan (3) merenungkan makna ayat yang dibaca.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu 'anha adalah salah satu istri Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan detail ibadah beliau di rumah. Suatu ketika, Ya'la bin Mamlak — seorang tabi'in yang mulia — datang bertanya kepadanya. Pertanyaan ini menunjukkan semangat para sahabat dan tabi'in untuk mengetahui detail ibadah Nabi ﷺ, bukan hanya untuk sekadar tahu, tetapi untuk diteladani.

Jawaban Ummu Salamah yang lugas dan jelas menunjukkan bahwa beliau adalah wanita yang cerdas dan teliti dalam mengamati. Beliau tidak hanya menjelaskan pola shalatnya, tetapi juga cara bacaannya. Ini mengajarkan kita bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan detail ibadahnya, dan juga bersedia berbagi ilmu dengan orang lain dengan cara yang baik dan jelas.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam tidak harus dilakukan sekaligus. Boleh dibagi menjadi beberapa bagian, misalnya shalat di awal malam, lalu tidur, lalu bangun lagi untuk shalat. Yang penting adalah istiqamah dan ikhlas.
  2. Bacaan Al-Qur'an hendaknya tartil — jelas, pelan, dan merenungkan maknanya. Ini lebih utama daripada membaca cepat tanpa penghayatan.
  3. Menuntut ilmu tentang ibadah Nabi ﷺ adalah perbuatan mulia. Sebagaimana Ya'la bin Mamlak bertanya kepada Ummu Salamah, kita pun hendaknya rajin bertanya kepada ulama tentang tata cara ibadah yang benar.
  4. Menjaga keseimbangan dalam ibadah. Nabi ﷺ tidak menghabiskan seluruh malam untuk shalat tanpa tidur, tetapi beliau juga tidur. Ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam ibadah hingga melalaikan hak tubuh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.