Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1628 tentang Shalat malam Rasulullah setelah Isya hingga fajar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kebiasaan shalat malam Nabi ﷺ menurut Umm Salamah radhiyallahu 'anha: beliau shalat 'Isya, lalu berdzikir/tasbih, lalu shalat malam sekehendak Allah, kemudian tidur, lalu bangun dan shalat lagi, dan shalat terakhir beliau berlanjut hingga fajar. Ini menunjukkan bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidak selalu satu rangkaian, tetapi bisa terbagi: sebelum tidur dan sesudah tidur, dengan witir di akhir. Hadits ini mengajarkan keutamaan qiyamul lail dan bahwa tidur bukan penghalang, justru menjadi persiapan untuk shalat berikutnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Qiyamul Lail (Shalat Malam dan Sunnah Siang), Bab Shalat Nabi ﷺ di Malam Hari, dari Ya'la bin Mamlak yang bertanya kepada Umm Salamah radhiyallahu 'anha.

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan hadits-hadits shahih lain tentang shalat malam Nabi ﷺ, di antaranya riwayat dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidur di awal malam dan bangun di akhir malam untuk shalat, lalu berwitir. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ memiliki variasi: kadang beliau tidur lebih dahulu, kadang shalat lebih dahulu, dan witir beliau jadikan penutup shalat malam.

Adapun ayat yang menjadi landasan umum qiyamul lail:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

QS. Al-Isra' [17]: 79

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan Nabi ﷺ untuk bangun malam dan shalat tahajud, dan ini menjadi keutamaan khusus bagi beliau serta dianjurkan bagi umatnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan urutan shalat malam Nabi ﷺ menurut Umm Salamah:

  1. Shalat 'Isya (al-'Atamah) — Nabi ﷺ menunaikan shalat 'Isya. Dalam hadits ini disebut "al-'Atamah", yaitu nama lain shalat 'Isya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak tidur sebelum 'Isya.
  2. Tasbih — Setelah 'Isya, beliau bertasbih. Para ulama seperti Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "tasbih" di sini bisa berarti dzikir secara umum, atau shalat sunnah ringan. Ini menunjukkan bahwa setelah shalat wajib, Nabi ﷺ mengisi waktu dengan dzikir.
  3. Shalat malam sekehendak Allah — Setelah tasbih, beliau shalat malam sebanyak yang Allah kehendaki. Ini menunjukkan bahwa jumlah rakaat shalat malam Nabi ﷺ tidak selalu sama; kadang banyak, kadang sedikit, sesuai keadaan.
  4. Tidur — Kemudian beliau tidur "selama ia shalat" (مِثْلَ مَا صَلَّى), artinya tidur beliau kira-kira selama waktu yang beliau gunakan untuk shalat. Ini menunjukkan keseimbangan antara ibadah dan istirahat.
  5. Bangun dan shalat lagi — Setelah tidur, beliau bangun dan shalat lagi "selama ia tidur" (مِثْلَ مَا نَامَ), artinya shalat beliau kira-kira selama waktu tidur beliau. Ini menunjukkan bahwa tidur bukanlah kelalaian, tetapi sarana untuk menguatkan badan agar bisa shalat lagi.
  6. Shalat terakhir hingga fajar — Shalat terakhir beliau berlangsung hingga fajar. Ini kemungkinan adalah witir atau shalat yang diakhiri dengan witir, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits lain bahwa Nabi ﷺ menjadikan witir sebagai penutup shalat malam.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa variasi shalat malam Nabi ﷺ menunjukkan bahwa beliau kadang shalat sebelum tidur dan kadang setelah tidur, dan witir beliau letakkan di akhir. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa hadits Umm Salamah ini menunjukkan bolehnya shalat malam sebelum tidur, dan tidak harus selalu bangun di akhir malam.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menjaga qiyamul lail dengan penuh kelembutan dan tidak memberatkan diri, sehingga beliau tidur dan bangun sesuai kebutuhan. Ini menjadi pelajaran bahwa ibadah malam sebaiknya dilakukan dengan cara yang berkelanjutan, bukan hanya sekali lalu ditinggalkan.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang urutan ini, sebagian memahami bahwa hadits Umm Salamah menunjukkan shalat malam Nabi ﷺ bisa dilakukan dalam dua sesi: sebelum tidur dan setelah tidur. Sedangkan hadits 'Aisyah lebih menekankan bahwa Nabi ﷺ tidur di awal malam dan bangun di akhir malam. Keduanya tidak bertentangan, karena Nabi ﷺ memiliki variasi sesuai keadaan. Yang paling kuat adalah bahwa Nabi ﷺ kadang melakukan keduanya, dan witir selalu di akhir shalat malam.

Story Telling

Diceritakan bahwa Ya'la bin Mamlak, seorang tabi'in, pernah bertanya langsung kepada Umm Salamah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ yang cerdas dan banyak meriwayatkan hadits — tentang bagaimana shalat malam Rasulullah ﷺ. Umm Salamah menjawab dengan rinci, karena beliau adalah orang yang paling dekat dan menyaksikan langsung kehidupan malam Nabi ﷺ. Jawaban beliau menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya shalat di satu waktu, tetapi beliau mengatur malamnya dengan shalat, dzikir, tidur, lalu shalat lagi hingga fajar. Ini menunjukkan betapa beliau menjaga ibadah malam dengan penuh kelembutan dan konsistensi.

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa para sahabat dan tabi'in sangat antusias bertanya tentang ibadah Nabi ﷺ agar bisa meneladani beliau dengan tepat. Umm Salamah sendiri dikenal sebagai salah satu ummahatul mukminin yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang shalat malam dan adab Nabi ﷺ di rumah.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam Nabi ﷺ bisa dilakukan sebelum tidur dan setelah tidur, tidak harus selalu bangun di akhir malam.
  2. Witir adalah penutup shalat malam, dan sebaiknya dijadikan shalat terakhir di malam hari.
  3. Tidur bukanlah penghalang ibadah; tidur yang cukup membantu kita bangun untuk shalat lagi.
  4. Dzikir dan tasbih setelah shalat wajib adalah amalan yang dianjurkan.
  5. Jangan memberatkan diri dalam qiyamul lail; lakukan sesuai kemampuan dan konsisten.
  6. Teladani Nabi ﷺ dalam mengatur waktu malam: shalat, dzikir, istirahat, lalu shalat lagi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?