Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1624 tentang Anjuran bersiwak saat bangun untuk shalat malam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat An-Nasa'i ini menjelaskan kebiasaan para sahabat: ketika bangun tidur untuk shalat malam (qiyamul lail), mereka diperintahkan membersihkan mulut dengan siwak. Ini menunjukkan sunnah bersiwak sebelum shalat malam, karena mulut yang bersih membantu kekhusyukan dan menjaga adab menghadap Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Qiyamul Lail, dari jalur Syaqiq bin Salamah (seorang tabi'in besar, termasuk dalam daftar ulama awal). Sanadnya: Ahmad bin Sulaiman → Ubaidullah → Israil → Abu Hashin (Utsman bin Ashim) → Syaqiq.

Hadits ini juga memiliki penguat dari Al-Bukhari dan Muslim dari jalur Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ apabila bangun malam, beliau menggosok mulutnya dengan siwak. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini menunjukkan disunnahkannya bersiwak saat bangun malam, dan para ulama sepakat tentang keutamaannya.

Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar umum kebersihan dan kesucian:

QS. Al-Baqarah [2]: 222

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Terjemahan: "Dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci."

Ayat ini menjadi landasan umum bahwa Allah mencintai kesucian, termasuk kebersihan mulut saat menghadap-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini berstatus marfu' secara makna (perkataan sahabat yang tidak mungkin diucapkan berdasarkan logika sendiri, sehingga dihukumi sebagai perkataan Nabi ﷺ), karena ucapan "kami diperintahkan" (نُؤْمَرُ) menunjukkan adanya perintah dari Nabi ﷺ. Ini adalah kaidah yang dipakai oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari: perkataan sahabat "kami diperintahkan" atau "kami dilarang" dihukumi marfu'.

Syaqiq bin Salamah (wafat sekitar 82 H) adalah tabi'in yang meriwayatkan banyak hadits dari Hudzaifah, Abdullah bin Mas'ud, dan Aisyah. Beliau termasuk dalam generasi yang langsung berguru kepada para sahabat, sehingga perkataannya tentang perintah bersiwak saat qiyamul lail memiliki bobot ilmiah yang kuat.

Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama bersepakat (ijma') tentang sunnahnya bersiwak ketika bangun malam. Hikmahnya:

  1. Mulut berubah bau saat tidur karena uap perut dan diamnya lisan dari dzikir.
  2. Saat bangun untuk munajat kepada Allah, seorang hamba hendaknya dalam keadaan paling bersih dan wangi.
  3. Siwak adalah syiar ibadah yang ditekankan Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil dari Imam Asy-Syafi'i bahwa siwak disunnahkan pada setiap keadaan, dan lebih ditekankan lagi saat:

  • Bangun tidur
  • Hendak shalat
  • Hendak membaca Al-Qur'an
  • Hendak berwudhu

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa siwak memiliki manfaat besar: membersihkan mulut, menyenangkan Allah, dan disebutkan dalam hadits bahwa "seandainya tidak memberatkan umatku, aku perintahkan bersiwak setiap kali wudhu" (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah). Ini menunjukkan betapa ditekankannya siwak dalam syariat.

Perbedaan riwayat yang disebutkan dalam judul bab An-Nasa'i ("Bab Penyebutan Perbedaan pada Abu Hashin") berkaitan dengan jalur periwayatan Abu Hashin Utsman bin Ashim — sebagian meriwayatkan secara marfu' dan sebagian mauquf. Namun Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi menegaskan bahwa riwayat yang shahih menunjukkan makna marfu' karena lafazh "kami diperintahkan" tidak mungkin berasal dari ijtihad sahabat.

Story Telling

Diceritakan oleh Syaqiq bin Salamah — seorang tabi'in yang hidup di Kufah dan berguru kepada para sahabat besar seperti Hudzaifah bin Al-Yaman dan Abdullah bin Mas'ud. Beliau menyaksikan langsung bagaimana para sahabat Nabi ﷺ ketika bangun malam untuk shalat tahajud, hal pertama yang mereka lakukan adalah meraih siwak dan membersihkan mulut mereka. Tidak ada rasa malas, tidak ada keluhan — karena mereka tahu bahwa mereka akan berdiri di hadapan Allah, Rabb semesta alam.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Aku mendapati para sahabat Nabi ﷺ sangat bersemangat dalam tiga hal: shalat malam, siwak, dan membaca Al-Qur'an." Ini menggambarkan betapa siwak bukan sekadar kebersihan fisik, tetapi bagian dari adab ruhani seorang hamba.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersiwaklah saat bangun malam untuk shalat tahajud atau qiyamul lail — ini sunnah yang ditekankan.
  2. Jika tidak ada siwak, gunakan sikat gigi atau apa pun yang membersihkan mulut, karena tujuannya adalah kebersihan.
  3. Jadikan siwak sebagai kebiasaan sebelum wudhu, shalat, dan membaca Al-Qur'an.
  4. Renungkan hikmahnya: kita menghadap Allah dalam keadaan sebaik mungkin, lahir dan batin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?