Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, amalan yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (kontinu), meskipun sedikit. Kedua, kebiasaan Nabi ﷺ dalam shalat malam (qiyamul lail) adalah di akhir malam, yaitu ketika mendengar suara ayam berkokok—yang menandakan masuknya sepertiga malam terakhir atau mendekati waktu sahur. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ bangun di penghujung malam untuk bermunajat kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
"Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." (QS. Al-Muzzammil [73]: 6)
Ayat ini menunjukkan keutamaan shalat dan ibadah di malam hari, terutama di waktu yang tenang dan hening.
2. Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1616). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.
Dari Masruq, ia berkata: Aku bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha, "Amalan apakah yang paling dicintai oleh Rasulullah ﷺ?" Ia menjawab, "Amalan yang dilakukan secara terus-menerus." Aku bertanya lagi, "Kapankah beliau bangun (untuk shalat malam)?" Ia menjawab, "Beliau bangun ketika mendengar suara ayam berkokok." (HR. An-Nasa'i no. 1616, dan ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6461 dan Muslim no. 783)
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "suara ayam" di sini adalah suara ayam jantan yang berkokok di akhir malam, yang menjadi penanda masuknya sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu yang paling utama untuk shalat malam.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "amalan yang kontinu" adalah amalan yang dijaga terus-menerus, tidak pernah ditinggalkan, meskipun jumlahnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa konsistensi lebih utama daripada banyaknya amalan tetapi tidak berkelanjutan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung dua pelajaran besar:
Pertama: Keutamaan Amalan yang Kontinu
Ketika Masruq bertanya kepada 'Aisyah tentang amalan yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, beliau menjawab dengan tegas: "Ad-daa'im" (yang terus-menerus). Ini sejalan dengan hadits lain dari 'Aisyah bahwa Nabi ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit." (HR. Al-Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783)
Para ulama menjelaskan bahwa amalan yang sedikit tetapi dilakukan secara rutin lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi hanya sesekali. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa amalan yang kontinu akan membentuk karakter dan kebiasaan baik dalam diri seorang hamba, serta lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Beliau juga menukil perkataan sebagian salaf: "Amalan yang sedikit tetapi kontinu lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi terputus, karena amalan yang kontinu akan mengalir pahalanya terus-menerus."
Kedua: Waktu Qiyamul Lail Nabi ﷺ
'Aisyah radhiyallahu 'anha menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bangun untuk shalat malam "ketika mendengar suara ayam berkokok." Ini adalah waktu di akhir malam, yaitu sepertiga malam yang terakhir. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ayam jantan biasanya berkokok di waktu sahur, dan ini adalah waktu yang paling utama untuk shalat malam karena:
- Allah ﷻ turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: "Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku berikan. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni." (HR. Al-Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)
- Waktu ini adalah waktu yang tenang, jauh dari hiruk pikuk dunia, sehingga lebih khusyuk untuk bermunajat.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ untuk bangun di akhir malam bukan berarti beliau tidak shalat di awal malam, tetapi ini menunjukkan bahwa waktu yang paling beliau jaga adalah akhir malam. Ini juga menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya memanfaatkan waktu sahur untuk beribadah, karena waktu tersebut adalah waktu yang penuh keberkahan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa juga menjelaskan bahwa shalat malam di akhir malam lebih utama, karena Nabi ﷺ sendiri melakukannya dan karena Allah ﷻ memuji orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur (QS. Ali 'Imran [3]: 17).
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri (seorang tabi'in yang terkenal zuhud dan banyak menangis karena takut kepada Allah), bahwa beliau berkata: "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih berat bagi jiwa daripada menjaga shalat malam di akhir malam. Tetapi aku juga tidak pernah melihat sesuatu yang lebih manis akibatnya daripada shalat malam di akhir malam."
Al-Hasan Al-Bashri juga sering berkata: "Barangsiapa yang ingin berbicara dengan Allah ﷻ, maka hendaknya ia bangun di malam hari." Beliau adalah seorang yang sangat menjaga qiyamul lail, dan sering kali menangis dalam shalatnya karena mengingat dosa-dosanya.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa shalat malam memang berat bagi jiwa, tetapi buahnya sangat manis: ketenangan hati, kedekatan dengan Allah, dan pengampunan dosa.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Jaga konsistensi ibadah — lebih baik beramal sedikit tetapi rutin setiap hari daripada banyak tetapi hanya sesekali. Mulailah dengan amalan kecil yang bisa dijaga, seperti shalat sunnah rawatib, membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari, atau dzikir pagi dan petang.
- Manfaatkan akhir malam untuk beribadah — usahakan untuk bangun di sepertiga malam terakhir, minimal untuk shalat witir atau berdoa. Waktu ini adalah waktu mustajab dan waktu Allah ﷻ turun ke langit dunia.
- Niatkan untuk istiqamah — perbaiki niat kita bahwa semua amalan ini dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah, bukan untuk pamer atau riya'.
- Jangan remehkan amalan kecil — karena di sisi Allah, amalan yang kontinu meskipun kecil lebih dicintai daripada amalan besar yang terputus.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.