Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan dua amalan sunnah yang sangat utama: puasa sunnah paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram (bulan Allah), dan shalat sunnah paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam (qiyamul lail/tahajjud). Keduanya disebut "afdhal" karena pahalanya besar dan lebih dekat kepada keikhlasan, sebab dikerjakan tersembunyi dari pandangan manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan dicatat oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Qiyamul Lail, Bab Keutamaan Shalat Malam (no. 1613). Sanadnya: Qutaibah bin Sa'id ← Abu 'Awanah ← Abu Bisyr ← Humaid bin 'Abdurrahman bin 'Awf ← Abu Hurairah.
Teks hadits:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Terjemahan: "Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah bulan Allah, Al-Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam."
Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan shalat malam, firman Allah:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
QS. Al-Isra' [17]: 79 — "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan shalat malam sebagai ibadah tambahan yang mengangkat derajat seorang hamba. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa shalat malam adalah amalan yang paling utama setelah shalat fardhu, sesuai hadits ini. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan keutamaan bulan Muharram sebagai "bulan Allah" karena penyandaran nama bulan ini kepada Allah secara langsung menunjukkan kemuliaannya.
Penjelasan Rinci
Pertama: Keutamaan puasa Muharram. Rasulullah ﷺ menyebut Muharram sebagai "syahrullah" (bulan Allah). Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa penyandaran ini menunjukkan keagungan dan kemuliaan bulan tersebut, sebagaimana Ka'bah disebut Baitullah. Puasa sunnah di bulan ini lebih utama dibanding puasa sunnah di bulan lain, termasuk Sya'ban. Yang paling ditekankan adalah puasa 'Asyura (10 Muharram), sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa puasa 'Asyura menghapus dosa setahun yang lalu (diriwayatkan Muslim dari Abu Qatadah).
Kedua: Keutamaan shalat malam. Setelah shalat lima waktu, tidak ada shalat sunnah yang lebih utama daripada shalat malam. Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa keutamaan ini mencakup seluruh shalat sunnah yang dikerjakan di malam hari — baik tahajjud, witir, maupun tarawih. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa shalat malam adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih, dan ia lebih dekat kepada keikhlasan karena dilakukan saat manusia tidur.
Ketiga: Mengapa shalat malam lebih utama? Karena ia dikerjakan di waktu yang paling berat — saat tidur terasa nikmat — sehingga menunjukkan kesungguhan cinta kepada Allah. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa shalat malam adalah tanda kejujuran iman seseorang. Allah memuji hamba-Nya dalam QS. As-Sajdah [32]: 16-17 tentang orang yang meninggalkan tempat tidurnya untuk berdoa.
Keempat: Perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama seperti Ishaq bin Rahuyah dan Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa shalat malam yang paling utama adalah yang paling panjang bacaannya, bukan yang paling banyak rakaatnya. Sedangkan Imam Ahmad dan jumhur ulama menekankan pentingnya kekhusyukan dan kontinuitas. Namun semua sepakat bahwa shalat malam adalah amalan sunnah paling utama setelah fardhu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in yang masyhur) pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang mukmin kecuali ia senang shalat malam, karena shalat malam adalah kehormatan seorang mukmin." Beliau juga menyebutkan bahwa para sahabat Nabi ﷺ sangat menjaga shalat malam, bahkan di saat perjalanan atau sakit ringan. Abdullah bin al-Mubarak — seorang ulama besar tabi'ut tabi'in — dikenal sebagai orang yang sangat rajin shalat malam, dan beliau berkata: "Shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita, dan ia adalah cahaya bagi hati." Hikmahnya: shalat malam bukan sekadar ritual, tetapi tanda kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak puasa sunnah di bulan Muharram, terutama puasa 'Asyura (10 Muharram) dan Tasu'a (9 Muharram) untuk menyelisihi Yahudi.
- Jaga shalat malam — minimal dua rakaat sebelum tidur atau setelah bangun tidur — karena ia adalah shalat sunnah paling utama setelah fardhu.
- Mulai dari yang ringan dan istiqamah, karena amalan yang sedikit tapi terus-menerus lebih dicintai Allah daripada yang banyak tapi terputus.
- Ikhlaslah dalam shalat malam, karena ia dikerjakan saat tidak ada yang melihat kecuali Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.