Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1602 tentang Keutamaan qiyam Ramadan dengan iman dan harapan pahala

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar bagi orang yang menghidupkan malam-malam Ramadan dengan shalat (qiyam) disertai dua syarat: iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (mengharap pahala hanya dari Allah, bukan karena riya atau kebiasaan). Jika kedua hal itu terpenuhi, Allah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Ini adalah kabar gembira yang menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah pada bulan Ramadan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (diriwayatkan oleh An-Nasa'i, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu):

> مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz serupa, dan Imam An-Nasa'i memasukkannya dalam Kitab Qiyam Malam dan Sunnah Siang, bab Pahala Orang yang Melaksanakan Qiyam di Bulan Ramadan dengan Iman dan Harapan.

Ayat yang berkaitan — perintah menghidupkan malam dan janji ampunan:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

> إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua, atau sepertiganya, dan segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an."

QS. Az-Zumar [39]: 53

> قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

Penjelasan Rinci

1. Makna "قَامَ رَمَضَانَ" (melaksanakan qiyam Ramadan).

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan shalat, terutama shalat Tarawih dan Witir. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa qiyam Ramadan mencakup shalat malam yang dikerjakan secara berjamaah maupun sendiri, dan yang paling utama adalah yang dikerjakan berjamaah sesuai sunnah.

2. Dua syarat utama: "إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا".

  • Iman (إِيمَانًا): membenarkan janji Allah dan Rasul-Nya bahwa qiyam Ramadan itu disyariatkan dan berpahala.
  • Ihtisab (احْتِسَابًا): mengharap pahala hanya dari Allah, bukan karena pamer, gengsi, atau sekadar kebiasaan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "iman" berkaitan dengan keyakinan hati, sedangkan "ihtisab" berkaitan dengan keikhlasan niat. Keduanya harus berkumpul: tahu dalilnya dan ikhlas menjalankannya.

3. Makna "غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ".

Mayoritas ulama dari daftar — seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi, dan Ibnu Rajab al-Hanbali — memahami ampunan ini khusus untuk dosa-dosa kecil (shagha'ir), karena dosa besar (kaba'ir) memerlukan taubat khusus sesuai QS. An-Nisa [4]: 31 dan QS. Asy-Syura [42]: 37. Namun sebagian ulama menyebutkan bahwa ampunan itu bisa mencakup dosa besar jika Allah menghendaki, dengan syarat disertai taubat. Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat pertama: ampunan tersebut berlaku untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar butuh taubat tersendiri.

4. Kaitan dengan hadits lain.

Hadits ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ tentang puasa Ramadan: "Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan ihtisab, diampuni dosanya yang telah lalu" (Al-Bukhari dan Muslim). Jadi Ramadan secara keseluruhan — puasa siangnya dan qiyam malamnya — menjadi sarana ampunan bagi orang yang memenuhi dua syarat tadi.

5. Peringatan dari Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif: jangan sampai seseorang hanya hadir di majelis Tarawih secara fisik, tetapi hatinya lalai dari iman dan ihtisab. Yang dinilai Allah adalah keadaan hati, bukan sekadar banyaknya rakaat atau ramainya masjid.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri, sangat menjaga shalat malam di bulan Ramadan. Beliau berkata bahwa seorang mukmin yang benar-benar beriman akan merasa berat meninggalkan qiyam Ramadan, karena ia tahu bahwa malam-malam itu adalah kesempatan emas untuk meraih ampunan. Beliau juga mengingatkan bahwa orang munafik justru merasa berat bangun malam, karena hatinya tidak terhubung dengan janji pahala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — perawi hadits ini — beliau sendiri dikenal sebagai sahabat yang rajin menghidupkan malam dengan shalat dan dzikir, sehingga menjadi teladan dalam mengamalkan hadits yang beliau riwayatkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan malam Ramadan dengan shalat Tarawih, Witir, dan shalat malam lainnya, baik berjamaah maupun sendiri.
  2. Perbaiki niat — jangan shalat karena ingin dipuji, tetapi murni mengharap pahala Allah (ihtisab).
  3. Yakini janji Allah bahwa ampunan itu nyata bagi yang memenuhi syaratnya.
  4. Jangan hanya mengandalkan ampunan, tetapi iringi dengan taubat, terutama dari dosa-dosa besar.
  5. Jaga konsistensi — jangan hanya semangat di awal Ramadan, lalu melemah di akhir.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?