Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1524 tentang Larangan menyandarkan hujan kepada bintang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa segala nikmat—termasuk turunnya hujan—datangnya dari Allah semata. Mengaitkan hujan kepada bintang (perbintangan) sebagai penyebab hakiki adalah bentuk kekafiran terhadap nikmat, karena menisbatkan karunia Allah kepada selain-Nya. Kita boleh menyebut sebab yang nyata (misalnya awan), tetapi keyakinan bahwa yang menurunkan hujan hanyalah Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Al-Waqi'ah [56]: 75–76

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ۝ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Terjemahan: "Maka Aku bersumpah dengan tempat-tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar, kalau kamu mengetahui."

QS. Al-Hijr [15]: 22

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

Terjemahan: "Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (mendatangkan hujan), lalu Kami turunkan hujan dari langit, kemudian Kami beri kamu minum dengannya, dan kamu sekalian bukanlah orang yang menyimpannya."

Hadits terkait (makna yang sama):

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ shalat Subuh bersama mereka di Hudaibiyah setelah malam yang hujan. Lalu beliau bersabda: "Apakah kalian tahu apa yang difirmankan Rabb kalian?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau bersabda: "Allah berfirman: 'Pada pagi ini sebagian hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun yang berkata: Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatihi (kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka ia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun yang berkata: Muthirna bi nau'i kadza wa kadza (kita diberi hujan karena bintang ini dan itu), maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim; lafaz ini dari Al-Bukhari)

Kaitan dengan ulama dan kitab:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya mengatakan "hujan turun karena bintang" dengan keyakinan bintang itu pelaku/pemberi hujan. Beliau membedakan: jika hanya menyebut bintang sebagai tanda/penanda waktu (bukan penyebab), maka tidak kafir, tetapi tetap menyelisihi yang lebih utama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil penjelasan bahwa yang dimaksud kekafiran di sini adalah kekafiran terhadap nikmat (kufur ni'mah), bukan keluar dari Islam, menurut sebagian ulama; namun jika meyakini bintang sebagai pencipta/pemberi hujan, itu kekafiran akbar.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas ayat-ayat tentang hujan menegaskan bahwa Allah sendirilah yang menurunkan hujan, dan bintang-bintang tidak memiliki pengaruh menurunkan hujan.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa segala nikmat berasal dari Allah, dan menisbatkannya kepada selain Allah adalah bentuk pengingkaran nikmat.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin membedakan antara "sebab" (yang Allah tetapkan) dan "pelaku" — bintang bukan pelaku hujan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah hadits qudsi (firman Allah yang disampaikan Nabi ﷺ). Allah mengabarkan bahwa setiap nikmat yang diturunkan kepada hamba, selalu ada sekelompok yang mengingkarinya dengan menisbatkan nikmat itu kepada selain Allah—dalam konteks ini, kepada bintang.

Makna "الْكَوْكَبُ وَبِالْكَوْكَبِ" — sebagian ulama menjelaskan ini sebagai ucapan orang-orang Arab jahiliyah: "Kita diberi hujan karena bintang ini dan bintang itu" (نوء). Mereka menjadikan bintang sebagai penyebab turunnya hujan. Inilah yang disebut kufur ni'mah (mengingkari nikmat), dan jika disertai keyakinan bintang yang menurunkan hujan, maka itu kufur akbar (kekafiran besar).

Pembedaan penting menurut ulama daftar:

  1. Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim) menjelaskan tiga keadaan:
  • Meyakini bintang sebagai pelaku/pencipta hujan → kufur akbar.
  • Meyakini bintang sebagai sebab yang Allah jadikan → ini yang diperdebatkan; yang benar, menjadikan sebab yang tidak ditetapkan syariat sebagai sebab hakiki adalah terlarang dan termasuk kufur ni'mah.
  • Menyebut bintang hanya sebagai penanda waktu/musim tanpa meyakini pengaruhnya → tidak kafir, tetapi meninggalkannya lebih utama karena menyerupai orang jahiliyah.
  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari) menukil bahwa para ulama membedakan antara "kufur ashghar" (kufur ni'mah) dan "kufur akbar". Beliau menegaskan bahwa yang tercela adalah menisbatkan hujan kepada bintang sebagai penyebab.
  2. Syaikh as-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman) menegaskan kaidah: النعمة كلها من الله — seluruh nikmat dari Allah. Menisbatkannya kepada selain Allah adalah pengingkaran terhadap nikmat dan tauhid.
  3. Syaikh al-Utsaimin (Syarh Riyadh ash-Shalihin) menjelaskan bahwa boleh menyebut sebab yang nyata dan ditetapkan (seperti awan, angin), tetapi tidak boleh menjadikan bintang sebagai sebab turunnya hujan, karena tidak ada dalil yang menetapkannya dan bertentangan dengan tauhid.

Kesimpulan ilmiah: Yang paling kuat adalah pendapat yang membedakan antara:

  • Kufur akbar: meyakini bintang sebagai pencipta/pemberi hujan.
  • Kufur ni'mah (dosa besar): menjadikan bintang sebagai sebab hakiki turunnya hujan.
  • Boleh: menyebut bintang sebagai penanda waktu/musim, tanpa meyakini pengaruhnya, meski lebih utama ditinggalkan.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, pada suatu malam di Hudaibiyah turun hujan. Pagi harinya Nabi ﷺ shalat Subuh bersama para sahabat, lalu beliau menghadap mereka dan bertanya: "Tahukah kalian apa yang difirmankan Rabb kalian?" Para sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau bersabda: "Allah berfirman: 'Pada pagi ini sebagian hamba-Ku beriman kepada-Ku dan sebagian kafir. Yang berkata: Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatihi, ia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Yang berkata: Muthirna bi nau'i kadza wa kadza, ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.'"

Hikmah: Para sahabat diajari bahwa hujan adalah karunia dan rahmat Allah. Mengucapkan "kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah" adalah tanda iman; mengucapkannya karena bintang adalah tanda kufur ni'mah. Ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ mendidik umat untuk menjaga tauhid dalam hal-hal kecil yang sering dianggap remeh.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini bahwa hujan, rezeki, dan segala nikmat hanya dari Allah semata (QS. Al-Hijr [15]: 22).
  2. Boleh menyebut sebab yang nyata (awan, angin, musim) sebagai tanda, tetapi jangan meyakini bintang sebagai penyebab hakiki turunnya hujan.
  3. Hindari ucapan "hujan turun karena bintang ini/itu" dengan keyakinan bintang berpengaruh, karena itu termasuk kufur ni'mah.
  4. Biasakan mengucapkan: "Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah" (مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ).
  5. Pelajari tauhid dan bahaya syirik dalam hal-hal kecil, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ dan dijelaskan para ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?