Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tata cara shalat istisqa' (memohon hujan) yang dicontohkan Nabi ﷺ: beliau keluar dengan penuh kerendahan hati, ketundukan, dan khusyuk, lalu shalat dua rakaat seperti shalat Id, dan tidak menyampaikan khutbah seperti khutbah Jumat atau khutbah Id yang biasa. Intinya, shalat istisqa' adalah ibadah yang sarat dengan tawadhu' dan pengharapan kepada Allah, bukan sekadar ritual formal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan an-Nasa'i, Kitab Doa Memohon Hujan (Kitab al-Istisqa'), Bab Tata Cara Shalat Memohon Hujan, nomor 1521. Sanadnya: Mahmud bin Ghailan → Waki' bin al-Jarrah → Sufyan (ats-Tsauri) → Hisyam bin Ishaq bin Abdullah bin Kinanah → dari ayahnya → dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits:
عَنْ هِشَامِ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كِنَانَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ أَرْسَلَنِي أَمِيرٌ مِنَ الأُمَرَاءِ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَسْأَلُهُ عَنِ الاِسْتِسْقَاءِ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَا مَنَعَهُ أَنْ يَسْأَلَنِي، خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُتَوَاضِعًا مُتَبَذِّلًا مُتَخَشِّعًا مُتَضَرِّعًا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدَيْنِ وَلَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ
Terjemahan: "Dari Hisyam bin Ishaq bin Abdullah bin Kinanah, dari ayahnya, ia berkata: 'Salah satu dari para gubernur mengirimku kepada Ibnu Abbas untuk menanyakan tentang shalat istisqa'. Ibnu Abbas berkata: 'Apa yang menghalanginya untuk bertanya kepadaku? Rasulullah ﷺ keluar dengan rendah hati, dalam keadaan tawadhu, khusyuk, dan merendahkan diri, dan beliau shalat dua rakaat seperti shalat pada hari raya, tetapi beliau tidak menyampaikan khutbah seperti khutbah kalian ini.'"
Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan istisqa' antara lain:
QS. Nuh [71]: 10-11
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Terjemahan: "Maka aku (Nuh) berkata: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar dan taubat menjadi sebab turunnya hujan — sejalan dengan makna hadits bahwa Nabi ﷺ keluar dengan tawadhu' dan tadharru' (merendahkan diri).
Penjelasan Rinci
Makna kalimat "مُتَوَاضِعًا مُتَبَذِّلًا مُتَخَشِّعًا مُتَضَرِّعًا":
- مُتَوَاضِعًا (mutawadhi'an): rendah hati, tidak sombong, tidak merasa lebih tinggi.
- مُتَبَذِّلًا (mutabadzdzilan): berpakaian sederhana, tidak berhias berlebihan — sebagian ulama menjelaskan beliau tidak memakai pakaian yang biasa dipakai untuk perhiasan, sebagai bentuk kerendahan di hadapan Allah.
- مُتَخَشِّعًا (mutakhasyi'an): khusyuk, hatinya tunduk dan tenang.
- مُتَضَرِّعًا (mutadharri'an): merendahkan diri dengan penuh pengharapan, memohon dengan sungguh-sungguh.
Jumlah rakaat dan bentuk shalat: Ibnu Abbas menyebut Nabi ﷺ shalat dua rakaat seperti shalat Id. Ini dipahami oleh Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal bahwa shalat istisqa' dua rakaat, dengan takbir seperti takbir shalat Id (tujuh takbir di rakaat pertama, lima di rakaat kedua menurut pendapat yang masyhur). Imam Abu Hanifah berpendapat shalat istisqa' dua rakaat tanpa takbir tambahan seperti Id, dan ini juga merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Imam Malik dalam salah satu riwayat. Namun yang lebih kuat menurut dalil adalah pendapat yang menyamakan dengan shalat Id, karena Ibnu Abbas secara tegas menyebut "كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدَيْنِ" (seperti shalat pada dua hari raya).
Masalah khutbah: Ibnu Abbas berkata "وَلَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ" — "beliau tidak menyampaikan khutbah seperti khutbah kalian ini." Ini dipahami oleh sebagian ulama bahwa Nabi ﷺ tetap berkhutbah, tetapi bukan dengan khutbah yang seperti khutbah Jumat (yang berkhutbah sebelum shalat, dengan dua khutbah duduk di antaranya). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat: sebagian berpendapat Nabi ﷺ berkhutbah setelah shalat istisqa' dengan khutbah yang ringkas, dan sebagian berpendapat beliau hanya berdoa dan memohon tanpa khutbah formal. Yang rajih (kuat) adalah bahwa beliau berkhutbah setelah shalat, berdasarkan hadits-hadits lain yang menyebutkan beliau berkhutbah dalam istisqa', namun khutbahnya tidak seperti khutbah Jumat.
Hikmah tawadhu' dan tadharru': Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keluarnya Nabi ﷺ dengan sifat-sifat tersebut menunjukkan bahwa istisqa' bukan sekadar meminta hujan, tetapi merupakan momentum untuk kembali kepada Allah dengan taubat, istighfar, dan merendahkan diri. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa istisqa' adalah ibadah yang menggabungkan shalat, doa, istighfar, dan sedekah — semuanya sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Allah.
Kaitan dengan perawi: Hadits ini diriwayatkan oleh Waki' bin al-Jarrah (guru Imam an-Nasa'i) dari Sufyan ats-Tsauri, keduanya termasuk ulama yang terpercaya dan menjadi rujukan dalam hadits. Imam an-Nasa'i sendiri dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits-hadits tentang shalat dan ibadah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — sepupu Nabi ﷺ dan salah satu ulama terbesar di kalangan sahabat, yang dikenal dengan julukan Turjumanul Qur'an (penerjemah Al-Qur'an) — ketika ditanya oleh utusan seorang gubernur tentang tata cara shalat istisqa', beliau menjawab dengan sedikit heran: "Apa yang menghalanginya untuk bertanya kepadaku?" Lalu beliau langsung menjelaskan sunnah Nabi ﷺ dengan sangat rinci.
Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga ilmu dan siap menjawab pertanyaan umat. Ibnu Abbas tidak menyimpan ilmunya, tetapi langsung menyampaikannya dengan jelas. Beliau juga tidak menambahkan hal-hal yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ, tetapi menyampaikan apa adanya — termasuk perbedaan antara khutbah istisqa' dengan khutbah Jumat.
Hikmah: Seorang Muslim hendaknya bertanya kepada ahlinya, dan seorang yang berilmu hendaknya menjawab dengan ilmu yang benar, tidak menambah atau mengurangi. Sebagaimana Sufyan ats-Tsauri berkata: "Ilmu itu adalah apa yang datang dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya, bukan dari hawa nafsu."
Kesimpulan Praktis
- Shalat istisqa' dilakukan dua rakaat, seperti shalat Id, dengan takbir tambahan menurut pendapat yang lebih kuat (madzhab Syafi'i dan Hanbali).
- Keluar dengan penuh tawadhu', sederhana, khusyuk, dan merendahkan diri — bukan dengan pakaian mewah atau sikap sombong.
- Khutbah istisqa' tidak seperti khutbah Jumat — jika ada khutbah, maka setelah shalat dan ringkas, berisi istighfar, doa, dan ajakan taubat.
- Perbanyak istighfar dan taubat sebelum dan saat memohon hujan, karena dosa adalah sebab tertahannya hujan.
- Ikuti sunnah Nabi ﷺ dalam tata cara, jangan menambah-nambah ritual yang tidak dicontohkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.